Mensyukuri Zakat Fitrah

Mensyukuri Zakat Fitrah

Gema, 10 Juni 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 25 Ramadhan 1439

Saudaraku, di antara amal ibadah yang wajib ditunaikan oleh setiap diri orang Islam yang dianugrahi hidup pada bulan Ramadhan adalah membayar zakat fitrah. Karena setiap orang Islam hatta seorang bayi sekalipun yang lahir pada bulan Ramadhan wajib membayar atau dibayarkan zakat fitrahnya, maka zakat fitrah juga dikenal sebagai zakat jiwa, zakat perkepala.

Adapun besarannya secara formal 2.5 kilogram atau tiga liter makanan pokok yang dikonsumsi. Namun untuk alasan kemaslahatan dan fleksibelitas juga diizinkan dihargakan dengan uang. Misalnya harga beras yang dikonsumsi selama ini perkilogramnya Rp 20.000, maka zakat fitrahnya per orang Rp. 20.000 × 2.5 = Rp.50.000. Tinggal dikalikan dengan jumlah keluarga dan orang yang di bawah tanggungannya, misalnya anggota keluarganya 5 orang, maka zakat fitrahnya Rp. 50. 000 x 5 = Rp. 250.000.

Di samping zakat jiwa (zakat fitrah), orang beriman lazim memanfaatkan keberkahan Ramadhan, juga sekaligus mengeluarkan zakat harta (zakat mal). Adapun besarannya dari 2.5% – 20% bila sudah sampai haulnya, setahunan atau saat panen.

Oleh karenanya layak kita mengingat kembali tentang akhlak mensyukuri zakat fitrah. Akhlak di sini harus dimaknai tuntunan yang melampaui kewajaran dari kewajibannya.

Pertama, menunaikan zakat fitrah dengan yang lebih baik, kuantitas maupun kualitasnya. Kadar zakat fitrah setiap jiwa memang hanya sebesar 2,5 kg atau 3 liter beras (makanan pokok) dengan kualitas seperti yang dikonsumsi sehari-hari, tetapi akhlak menuntun kita menjadi lebih etis dan lebih bijak dengan melebihkan takarannya dan memperbagus kualitas berasnya.

Malu rasanya bila kita perhitungan sekali atau “pelit” kepada Allah, padahal Allah jua Zat yang senantiasa mengaruniai segalanya atas kita. Dengan demikian kita mengeluarkan zakat fitrah dengan sesempurna kebajikan dan seindah kemuliaan. Di sinilah di atas kewajiban, masih ada akhlak yang akan menambah kemuliaan bagi orang-orang yang melakukannya.

Kedua, menyegerakan pembayarannya. Meskipun zakat fitrah bisa dibayarkan jelang shalat Idul Fitri, tetapi akhlak menuntun untuk lebih bijak dan demi mempertimbangkan kemaslahatan sehingga zakat fitrah dikeluarkan dalam bulan Ramadhan, misalnya hari ke-21 sampai ke-27. Mengapa, agar zakat fitrah dapat disalurkan kepada yang mustahak lebih cepat, sehingga sipenerima sifakir miskin dapat merasakan kebahagiaan lebih awal dan bisa memenuhi kebutuhannya sebelum hari raya tiba.

Ketiga, merasa malu kepada Allah bila sudah mampu mengeluarkan zakat fitrah dan kehidupannya mapan tetapi juga masih menerima jatah saat pembagian zakat fitrah meskipun diizinkan oleh syariat, misalnya sebagai amil. Parahnya, karena salah kaprah pembagiannya, justru seorang demi seorang amil yang mendapatkan bagian jatah jauh lebih banyak daripada seorang demi seorang fakir atau miskin lainnya. Karena biasanya jumlah amil sedikit dan jumlah fakir miskin keliwat banyak.

Keempat, membayarkan zakat fitrah pada badan atau lembaga atau pengurus yang ada, agar dapat tepat sasaran, adil, dan profesional. Bila membagi-bagikan zakat secara langsung oleh pribadi simuzaki dengan mengumpulkan banyak orang calon penerimanya dikhawatirkan terbersit lahirnya sikap riya dan ada hal-hal yang tidak diinginkan tapi bisa terjadi, misalnya berdesakan saat antri, bahkan ada yang terjatuh terinjak dan sakit atau meninggal.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.