Mensyukuri Fitrah

Mensyukuri Fitrah

Gema, 11 Juni 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 26 Ramadhan 1439

Saudaraku, dalam khazanah religiusitas Islam paling tidak terdapat lima keadaan yang sering dihubungkaitkan dengan kata fitrah, yaitu. Pertama, semua manusia dilahirkan dalam kondisi fitrah. Kedua, hidup di funia ini mestinya memeluk agama fitrah. Ketiga, berbuka atau ifthar pada setiap sore saat berpuasa di bulan Ramadhan. Keempat, salah satu kewajiban dalam Islam adalah membayar zakat fitrah dan kelima, merayakan hari raya ‘idul fitrah (‘Idul Fitri).

Pemaknaan atas kelima kata fitrah dimaksud terjalin berkelindan sehingga menjadi kesatuan sistemik yang solid, namun dapat juga dapat dipahami dan dimaknai sesuai dengan konteksnya masing-masing.

Di lima tempat di atas tadi, fitrah bisa dimaknai sebagai dalam kondisi Islam, nembawa potensi internal, sebagai asal kejadian, tabiat asli, potensi dasar, berkecenderungan pada kebenaran, dan suci.

Dalam iman Islam, semua manusia lahir ke dunia ini dalam kondisi fitrah, yakni membawa potensi dasar, memiliki tabiat asli yang baik, asal kejadiannya Islam, bernaluri bertuhankan Allah dan suci tidak membawa dosa warisan apapun.

Rasulullah Nabi Muhammad saw bersabda, setiap bayi itu dilahirkan atas fitrah, maka kedua orangtuanya lah yang akan menjadikannya yahudi, nasrani, atau majusi. (Hr. Muslim).

Dengan demikian, setiap manusia dilahirkan dalam kondisi Islam. Allah jauh-jauh hari juga berfirman, Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini,” Q.s Al-A’raf 172

Oleh karenanya setelah lahir dan hidup di dunia ini, kita memahami mengapa harus memeluk agama Islam sebagai agama fitrah, agama yang sesuai dengan kefitrahannya, agama yang mewadahi segala peluang untuk tumbuhberkembangnya fitrah dalam hidup dan kehidupan di dunia ini.

Ketika mengarungi hidup dan kehidupan yang fana ini ternyata kemudian manusia tidak luput dari perilaku salah dan khilaf, makanya Islam mensyariatkan serangkaian ibadah termasuk puasa dan ibadah Ramadan sebagai upaya tazkiyat al-nafs sebagai fase penyucian hati dan pertobatan diri. Untuk mendukung upaya penyucian diri ini di ujung Ramadan ini disyariatkannya kewajiban mengeluakan zakat fitrah.

Dan sebagai perolehannya, dapat merayakan saat kembalinya semua kita kepada kondisi semula nan fitrah di hari raya idul fitri. Idul fitri sebagai hari raya yang menandai selesainya bulan Ramadhan, makanya kita kembali berbuka puasa (Idul Fitri) dan malah dilarang berpuasa pada 1 Syawal ini.

Oleh karenanya layak bagi kita untuk mengembangkan sikap atau akhlak mensyukuri fitrah dan kefitrahan kita.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa fitrah merupakan jati diri manusia yang harus dipertahankan dan diupayakan tetap aktual dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa? karena fitrah dapat tertutupi atau ada covernya (baca kafir) sehingga fitrahnya tidak tampak, dan yang tampak covernya atau kafirnya. Termasuk cover di sini sombong, tajabur, iri hati, zalim, dll.

Kedua, memperbanyak mengucapkan alhandulillahirrabil ‘alamin, Allah telah menunjuki kita sehingga lahir kondisi fitrah, hidup memeluk agama fitrah (Islam), saat terlanjur salah disyariatkan taubat dan tazkiyatu nafsu di bulan Ramadhan.

Ketiga, mensyukuri fitrah dengan perilaku konkret seperti senantiasa menjaga kondisi fitrah, memeluk agama fitrah, menunaikan zakat fitrah, dan dapat berhari raya idul fitri.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.