Mensyukuri Kesejatian Diri

Mensyukuri Kesejatian Diri

Gema, 12 Juni 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 27 Ramadhan 1439

Saudaraku, dalam keyakinan Islam, melalui ibadah Ramadhan dapat mengembalikan kita kepada asal mula kesejatian diri yaitu dalam kondisi Islam yang sesungguhnya. Inilah fitrah namanya. Oleh karenanya, ketika kemudian berhasil menyempurnakan ibadah Ramadhan, maka setiap diri akan kembali fitrah di hari raya idul fitri. Dan hari yang ditunggu-tunggu itu dirayakan dan disyukuri.

Mengapa disyukuri? Karena ternyata, dalam perjalanannya hidup di dunia ini, fitrah yang ada pada setiap diri manusia mengalami keterpengaruhan yang sangat dinamis. Seandainya fitrah yang dibawa sejak mula kelahirannya bersinergi dengan faktor pedidikan yang didapatinya di dunia ini, maka keberislamannya menjadi aktual. Tetapi sebaliknya, fitrah (Islam) yang dibawa juga dapat tertutupi terlapisi oleh selainnya, sehingga fitrahnya tidak aktual dan yang kelihatan adalah lapisan, tutup, atau sampulnya. Bila mengikuti hadis bahwa setiap bayi dilahirkan dalam konfisi fitrah, maka kedua orangtuanya – dan faktor eksternal lainnya – yang mempengaruhinya (menyampulinnya) dengan yahudi, nasrani, atau majusi.

Lapisan luar, atau tutup, atau sampul biasa dikenal dengan cover (bacanya kafir). Jadi kafir itu menutupi dan melapisi, sehingga karakter aslinya yang Islam tidak kelihatan. Nah kafir dalam term Islam merupakan tutup yang paling ekstrem menutupi fitrah manusia.

Di samping harus mewaspadai ketertutupan secara ekstrem yaitu kekafiran, kita juga mesti berhati-hati pada penutup-penutup lainnya, meskipun dalam skala yang tidak ekstrem, seperti munafik, atau lainnya.

Dalam dimensi akhlak, misalnya, semua manusia itu baik, seperti memiliki potensi berlaku jujur. Namun karena dipengaruhi oleh faktor dapatan di kehidupannya yang permisif dan rusak, maka jujurnya tidak aktual dan yang muncul justru sebaliknya menjadi pendusta. Demikian juga sifat fitrah lainnya, harusnya pemurah tetapi yang dilakukannya malah kikir, harusnya pemaaf tetapi yang dipraktikkan justru pendendam, idealnya kreatif tapi malah menjadi pemalas, seyogyanya pemurah tapi malah kikir, dan seterusnya.

Saudaraku, ketidakaslian seperti menjadi kafir yahudi, nasrani, majusi, pendusta, pendendam, pemalas, kikir dan sifat tercela lainnya sejatinya adalah topeng atau lapisan luar, atau tutup yang melapisi menutupi kefitrahannya. Oleh karenanya pantas kita bersihkan topeng-topeng itu dengan pemberdayaan ibadah pada bulan Ramadhan, sehingga nantinya di hari idul fitri, kita merayakannya karena telah kembali fitri.

Pertama, meyakini bahwa kita dilahirkan dalam kondisi fitrah, maka hidup di dunia ini harus memenangkan segala hal yang dapat mendukung kefitrahan kita dan sekaligus menghindari segala hsl yang merusaknya.

Kedua, memperbanyak mengucapkan rasa syykur alhamdulillahirabbil ‘alamin atas hidayahNya, Allah selalu menunjuki dan memberi kekuatan kepada kita untuk mengaktualkan fitrah dalam kehidupan fi dunia ini.

Ketiga, melakukan tindakan konkret, seperti menyempurnakan ibadah sebulan penuh pada Ramadhan ini sehingga nantinya dapat mengumandangkan takbir membesarkan asma Allah di hari raya idul fitri.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.