Membangun Karakter Muslim yang Berperadaban dan Berakhlak Menuju Aceh Hebat

Membangun Karakter Muslim yang Berperadaban dan Berakhlak Menuju Aceh Hebat

 

GEMA JUMAT, 15 JUNI 2018

Pada hari ini kita berkumpul bersama di tempat ini, Masjid Raya Baiturrahman, kebanggaan Rakyat Aceh yang telah dibangun sejak zaman Kerajaan Sultan Iskandar Muda sekitar 400 tahun yang lalu. Hari ini, hampir seluruh penduduk kota, laki perempuan, tua dan muda, keluar bersama memadati masjid-masjid dan tanah-tanah lapang, melakukan Shalat Iedul Fithri bersama-sama.

Pada hari yang sama ini, juga lebih 200 juta ummat Islam Indonesia bergabung dengan sekitar 1,7 milyar ummat Islam seluruh dunia juga merayakan hari yang sama, mengumandangkan takbir dan tahmid dalam bahasa yang sama: Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Walillahil Hamd.

Dengan takbir dan tahmid pula, kita melepas Ramadhan yang Insya Allah telah menempa fisik, mengasuh jiwa serta mengasah nalar kita. Dengan takbir dan tahmid yang sama kita melepas bulan suci ini dengan penuh harapan, semoga tahun depan kita dapat lagi bersamanya dengan kondisi yang lebih indah dan lebih sempurna. Ini karena kita menyadari bahwa Allah Maha Besar. 

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!

Semua ringan selama kita bersama Allah. Kita hidup bersama-sama sebagai umat Islam dan bangsa

Indonesia, kendati pendapat dan pendapatan kita berbeda-beda, pemikiran, mazhab atau pandangan

politik kita tidak sama. Tapi sebagai bangsa Indonesia kita semua meyakini akan sebuah kehendak bersama: melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Begitulah yang kita sepakati sebagai tujuan nasional kita dalam UUD 1945. Tidak ada larangan bagi kita untuk berkelompok dan berbeda dalam ajaran agama kita. Yang dilarang adalah membuat kelompok lalu berselisih dan gontok-gontokan.

Maksudnya: “Janganlah menjadi serupa dengan orang2 yang berkelompok-kelompok dan berselisih dalam tujuan, setelah datang kepada mereka keterangan2. Mereka itulah yang mendapatkan siksa yang pedih. (Q.S. Ali ‘Imran ayat 105)

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!

Tema khuthbah kita ini sesuai permintaan panitia adalah Membangun Karakter Muslim yang Berperadaban dan Berakhlak Menuju Aceh Hebat.

Pembangunan karakter bangsa agaknya memang sudah diupayakan dengan berbagai cara. Namun hingga saat ini tampaknya jauh dari berhasil. Lihatlah fakta semakin meningkatnya kriminalitas di mana-mana bahkan sampai ke pelosok-pelosok desa. Masih banyaknya pelanggaran-pelanggaran hukum, tindak kriminalitas yang tak terbayangkan sebelumnya, pergaulan bebas, tawuran, kekerasan dan korupsi yang kian merambah pada semua sektor kehidupan. Bahkan kegaduhan antar kaum elit pun, marak terjadi, dalam skala yang rasanya belum pernah terjadi sebelumnya. Termasuk elit eksekutif, elit legislatif, bahkan elit agama sekalipun, seperti telah menjadi menu sehari-hari. Difasilitasi oleh boomingnya kartu internet dan media sosial yang menjangkau berbagai kalangan, maka seperti sempurnalah berbagai kegaduhan itu.

Masyarakat Aceh yang sepanjang sejarah endatunya terbiasa dengan kesantunan dalam berperilaku, penuh tata krama dan kearifan lokal dalam menyelesaikan masalah, dan senantiasa bersikap toleran, kini cenderung berubah. Pada masa lalu petuah ureung Aceh misalnya berbunyi:

Geupageu lampoeh ngon kawat (Tanah berpagar dengan kawat)

Geupageu nanggroe ngon adat (Negeri berpagar dengan adat)

Ureung meujeulih hantom kanjai (Orang bermajlis tak pernah malu)

Ureung tawakai hantom binasa (Orang tawakal tak kan binasa)

Taduek ta muproe ta mupakat (Duduk musyawarah untuk mufakat)

Pat-pat nyang silap tawoe bak punca (Jika tersilap, surut ke awal mula)

Lam hudep ta meusaree (Dalam hidup bersamasama)

Lam meuglee ta meubila (Dalam berburu saling membela)

Lam lampoh meutulong alang (Dalam berkebun, saling menolong)

Lam meublang ta meusyeedara (dalam bersawah saling bersaudara)

Begitulah kira-kira petuah kearifan lokal Aceh zaman dahulu. Penuh kesantunan dan tata karma dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi, melalui meujelih (majlis), muproe (mupakat-musyawarat). Tapi kini yang terjadi tampaknya justru fenomena saling berebut menjadi pemegang hegemoni, bahkan cenderung saling mengalahkan dan memperlihatkan perilaku egois individualis. Mungkin salah satu contohnya dapat dilihat dari kelakuan masyarakat kita di jalan raya. Jarang sekali terlihat ada orang yang dalam posisi lebih kuat mempersilahkan atau mendahulukan mereka yang lebih lemah, misalnya para pejalan kaki atau pesepeda. Belum lagi kita bicara tentang betapa mudahnya warga kita menerobos lampu lalu lintas, termasuk kaum terdidik di tengahtengah Kampus Unsyiah dan UIN Ar Raniry.

Seorang teman saya, guru besar yang berasal dari Makassar, ketika pertama kali tiba di Banda Aceh, terheran-heran melihat perilaku lalu lintas jalan raya di sini. Saya coba membela diri dengan mengatakan, “Ahh, di Makasar juga sama. Jakarta juga gak berbeda.” Tapi saya seperti kena tohok dua kali ketika rekan tersebut membalas: “Tapi gak separah di sini, lagi pula Aceh kan sudah menerapkan syari’at Islam?!” Teman saya itu mengakhiri kalimatnya dengan senyuman, untuk menunjukkan bahwa dia sebenarnya tidak terlalu serius menuduh kita. Tapi dalam hati saya tetap bertanya-tanya, rasanya begitu besar harapan orang terhadap Aceh yang Hebat setelah melaqabkan dirinya dengan syariat Islam. Akan muncul Aceh yang damai, Aceh yang santun, jauh dari kriminalitas dan kegaduhan, pokoknya Aceh yang baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Tapi banyak juga yang kecele setelah melihat fakta. Meskipun demikian hal ini sebenarnya tidak juga luar biasa. Suatu waktu Almarhum Buya Hamka pernah disergah oleh seorang wartawan hater dengan pertanyaan yang menonjok: “Buya, Makkah itu kota sucinya ummat Islam, tapi kenapa pelacur juga ada di sana.?” Buya Hamka menjawab: “Oh, benarkah? Saya tidak tahu itu. Tapi bagi orang yang suka barang itu, kemana pun dia pergi tentu dia akan mencarinya”.

Tentu saja pembelaan seperti ini tidak boleh menjadi alibi. Kita harus benar-benar mulai introspeksi dan menyadari bahwa ada sesuatu yang salah pada tubuh dan masyarakat kita. Barangkali anakronisme dan inkonsistensi ini mulai menunjukkan masyarakat ini, termasuk kita-kita sendiri, tengah mengalami krisis identitas, jati diri dan kita mulai kehilangan karakter asli. Apakah yang salah dalam peradaban dan karakter kita?

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!

Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat dan negara. Individu yang berkarakter adalah mereka yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan akibat dari keputusan yang dibuatnya. Terminologi karakter setara dengan akhlak dalam bahasa Islam yang menurut Ibnu Miskawaih bermakna keadaan gerak jiwa yang memberikan dorongan untuk melakukan suatu perbuatan dengan tidak memerlukan pemikiran lebih dulu. Al Ghazali memberi defi nisi yang hampir sama akhlak sebagai suatu sifat yang menetap pada jiwa seseorang yang darinya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa membutuhkan pikiran lebih dulu. Intinya akhlak atau karakter adalah sifat dan perbuatan yang muncul secara spontan tanpa dibuat-buat lebih dahulu. Orang yang berakhlak baik akan spontan berbuat baik setiap saat ketika tindakannya dibutuhkan, tanpa dirancang dan dibuat-buat lebih dulu. Untuk sampai ke sini tiap orang memerlukan proses dan waktu yang lama, khususnya melalui pendidikan yang sebaik-baiknya.

Pendidikan karakter adalah pendidikan nilai yang mengandung tiga komponen karakter yang positif yakni: pengetahuan moral (moral knowing), perasaan tentang moral (moral feeling) dan perbuatan moral (moral action).

Mungkin di sini juga salah satu permasalahan negeri kita: moral feeling kita terlalu lemah. Moral Feeling adalah meliputi: kata hati, empati, pengendalian diri dan kerendahan hati. Perasaan kita terlalu tumpul, walaupun pengetahuan mungkin cukup tinggi. Orang tua zaman dulu misalnya mengajarkan rasa empati dalam ujaran:

Ta rhom gob ngon tumpoe, ji rhom geutanyoe ngon bada – Ta rhom ngon ek leumo, ji rhom geutanyo ngon ek guda. (Berbuat baik kepada orang, akan dibalas kebaikan kepada kita.

Berbuat jahat kepada orang, dibalas kejahatan kepada kita) Di kalangan masyarakat banyak juga terdengar keluhan, konfl ik Aceh yang berkepanjangan dan kemudian bencana tsunami terbesar sepanjang sejarah yg melanda Aceh 26 Desember 2004, sangat berperan dalam menumpulkan perasaan orang-orang Aceh. Misalnya zaman dulu orang-orang Aceh sangat menjaga kebanggaan diri sendiri, pantang untuk meminta-minta. Misalnya ada kalimat dalam sebuah narit maja: Bek ta pajoh jeuleupak gob tob (pantang makan makanan cuma-cuma.). Tapi tahun-tahun terakhir ini budaya proposal mulai menggerus jati diri mereka. Konfl ik Aceh atau tsunami ini barangkali menjadi alibi dan apologi yang lain lagi. Kita melempar bola kepada konfl ik dan tsunami. Dengarlah sebuah pepatah Arab tentang hal ini:

Nu’ibu zamanana wal ‘aibu fi ina..Wa ma li zamanina ‘aibun siwaana..(Kita menyalahkan zaman, padahal kita lah yang berbuat, Zaman tidak bersalah, tapi kitalah yang berdosa)

Pepatah sarkastis dalam Bahasa Aceh juga menyebut gejala semacam ini:

Donya ka akhee, ta beuet han malem ta hareukat han kaya lee. (Dunia sudah tua, mengaji tak kan alim lagi, berdagang pun tak bikin kaya.). Ini saya sebut pepatah sarkastis. Karena yang dimaksud adalah hal yang sebaliknya. Tidak benar dunia itu sudah tua, jangan anda beralibi hanya karena malas saja. Rakyat tetap harus mengaji/belajar dan mereka harus tetap bekerja!

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!

Setelah moral knowing dan moral feeling berlanjut pada tahap berikutnya yakni Moral Action. Ini adalah

tahap paling penting dari pertumbuhan karakter seseorang, karena pada tahap ini motif dorongan seseorang untuk berbuat baik, terwujud dalam aspek kompetensi, keinginan dan kebiasaan yang ditampilkannya. Terwujudnya tiga komponen moral yang saling berhubungan secara sinergis, melahirkan apa yang disebut dengan kecerdasan moral (moral intelligence) yakni kemampuan memahami hal yang benar dan yang salah dengan keyakinan etika yang kuat dan bertindak berdasarkan keyakinannya tersebut dengan sikap yang benar serta perilaku yang terhormat.

Pendidikan karakter berbasis kecerdasan moral menjadi sesuatu yang urgen, karena kecerdasan moral terbangun dari beberapa kebajikan utama yang membantu setiap orang dalam menghadapi berbagai persoalan dalam hidupnya. Seorang penulis menyebutkan ada tujuh kebajikan utama yang perlu dimiliki seseorang dalam mengembangkan kecerdasan moralnya, yakni: empati, hati nurani, kontrol diri, rasa hormat, kebaikan hati, toleransi, dan keadilan.

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!

Negeri kita Aceh Serambi Mekkah ini, Nanggroe teuleubeh ateuh rueng donya, sepatutnya diisi dan

lebih-lebih dibimbing oleh para pemimpin yang memiliki tidak hanya kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional semata-mata, tapi juga memiliki kecerdasan moral, termasuk rasa empati, kontrol diri untuk misalnya tidak menyebutkan laqab negatif kepada lawan politik atau lawan diskusi, tetap hormat dan penuh toleransi. Dengan demikian rakyat banyak pun akan mengikuti teladan yang sama, sehingga tidak terdengar lagi kata-kata hujatan atau makian di mana-mana. Akhirnya dapatlah diharapkan persatuan dan kesatuan sebagai anugerah Allah Swt yang tidak ternilai harganya akan dapat raih dengan lebih baik lagi.

“Walaupun kamu membelanjakan semua kekayaan yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah yang mempertautkan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Demikian Firman Allah dalam Al Quran Surat al-Anfal ayat 63.

Sebaliknya, perpecahan dan tercabik-cabiknya masyarakat adalah bentuk lain dari siksa Allah. Itulah misalnya yang dikisahkan dalam Al-Quran tentang negeri Saba’, yang awalnya dilukiskan sebagai baldatun thayyibatum wa rabbun ghafur, negeri sejahtera yang dinaungi ampunan Ilahi. Namun kemudian mereka durhaka, lalu mereka menganiaya diri mereka sendiri dan bahkan menzalimi negeri mereka.

Maka mereka berkata: “Ya Tuhan kami jauhkanlah jarak perjalanan kami1240)”, dan mereka menganiaya diri mereka sendiri; maka Kami jadikan mereka buah bibir dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur. 1240).Yang dimaksud dengan permintaan ini ialah supaya kota-kota yang berdekatan itu dihapuskan, agar perjalanan menjadi panjang dan mereka dapat melakukan monopoli dalam perdagangan itu, sehingga keuntungan lebih besar.

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!

Mengakhiri khuthbah ini, bagi yang masih berat berhijrah untuk menjauhkan sikap anti toleransi dan masih juga sulit berempati, mengendalikan diri dan bersikap dengan kerendahan hati, izinkanlah saya

mengutip di sini sebuah qasidah berbahasa Arab yang telah menjadi viral dan telah diidengarkan lebih

150 juta kali, berjudul Diin As Salaam: Seluruh bumi akan terasa sempit Jika hidup tanpa toleransi Namun jika hidup dengan cinta Meski bumi sempit, kita akan bahagia

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.