Mensyukuri ‘Idul Fitri

Mensyukuri ‘Idul Fitri

Gema, 15 Juni 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 1 Syawal 1439

Saudaraku, secara historis, ‘Idul Fitri mulai disyariatkan tahun ke-2 hijriyah berbarengan dengan titah puasa Ramadhan dan kewajiban penunaian zakat fitrah. ‘Idul Fitri dirayakan oleh Rasulullah dan para sahabat dan juga oleh kita umatnya sekarang ini setelah sebulan penuh menunaikan ibadah Ramadhan, dimana padanya mengingatkan kita akan turunnya Al-Qur’an pertama sekali yaitu 17 Ramadhan tahun 12 sebelum hijrah.

Dalam sejarahnya secara lahiriyah, Idul Fitri juga dirayakan oleh Rasulullah dan sahabatnya setelah menang atas kaum musyrik saat Perang Badar, padahal jumlah pasukan kaum muslimin saat itu hanya sekitar 313 orang dan pasukan orang kafir 1.000 orang. Malah dikabarkan bahwa saat shalat ‘Idul Fitri pertama, para sahabat masih dalam kondisi luka-luka, Nabi Muhammad merasa keletihan sampai-sampai kutbah ‘Idul Fitri disampaikan dengan bersandar pada Bilal bin Rabbah.

Dan secara substansi Idul Fitri dirayakan karena telah menang perang melawan hawa nafsu. Oleh kerenanya sepulang dari Perang Badar, Nabi Muahmmad saw menyatakan bahwa kita pulang dari jihad kecil menuju jihad akbar. Jadi perang fisik itu sejatinya jihad kecil, sedangkan perang emlawan hawa nafsu adalah jihad besar.

Bila Hari Raya Idul Fitri dirayakan setelah lahir atau turunnya al-Qur’an yang pertama, maka berbeda halnya Hari Raya ‘Idul Adha yang kita rayakan pada bulan haji, bulan berkurban pada bulan Zulhijjah dimana padanya mengingatkan kita masa setelah Nabi Muhammad saw menerima wahyu terakhir dan ternyata dua bulan setelah menerima wahyu terakhir itu Nabi Muhammad saw wafat. Dengan demikian hari raya Idul Fitri mengingatkan kita akan makna kelahiran sedangkan hari raya Idul Adha mengingatkan kita akan saat kematian.

Oleh karena itu istilah pulang kampung atau tradisi mudik pada jelang dan saat Idul Fitri seperti sekarang ini mestinya lebih kita maknai sebagai kelahiran kembali dan kehadiran diri kita kembali di kampung halaman sehingga bisa berkumpul dengan sanak saudara, handai tolan dan keluarga tercinta. Saat-saat inilah reuni bersemi. Kita lahir kembali dan hadir di sini di kampung halaman lagi tempat yang penuh kenangan pahit getirnya dan manisnya bersama keluarga guna menggapai ridha Ilahi seraya kita berdoa semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali suci dan orang-orang yang memperoleh kemenangan di hari raya “Idul Fitri hari ini.

Di samping itu Hari Raya “Idul Fitri juga dirayakan sebagai pertanda lahirnya nubuwah Nabi Muhammad saw, lahir dan tebentuknya komunitas Islam, lahirnya umat Islam dan perdaban Islam.

Karena mengingatkan kita akan kelahiran, maka Idul Fitri senantiasa meniscayakan kesucian, ketakberdosaan, harapan, adanya kebaruan, dan yang paling penting dapat mendatangkan rasa bahagia dan membahagiakan.

Oleh karena itu layak bagi kita mengembangkan rasa syukur atas karunia dan berkesempatan berhari raya ‘Idul Fitri.

Pertama, menyakini sepenuh hati bahwa Idul Fitri merupakan instrumen yang disediakan oleh Allah untuk kemasalahatan manusia. Pada saatnya tuba, pintu rahmah dan keanpunan dicurahkan, pintu maaf antar sesama mendapati momentumnya.

Kedua, memperbanyak ucapan syukur dengan lafal alamduillahirabbil ‘alamin kita masih dianugrahi kesempatan untuk berhari raya ‘Idul Fitri sehingga dapat menyempurnakan ketakberdosaan dengan Allah setelah menunaikan ibadah Ramadhan, dengan saling silaturahim dan bermaafan antar sesama manusia.

Ketiga, mensyukuri hari raya ‘Idul Fitri dengan langkah konkret. Di antaranya dengan tetap menjaga nilai-nilai kemuliaan Ramadhan yang telah kita lakukan selama ini. Seusai shalat Subuh, kita bersama keluarga bersiap pergi menuju ke tempat pelaksanaan shalat ‘Idul Fitri, di lapangan atau di masjid sembari melantunkan takbir, tahmid tahlil dan lafal dzikir lainnya.

Seusai shalat ‘Idul Fitri, kita merajut silaturahim, bermula kepada orang yang paling berjasa dalam kehidupan kita yaitu kedua orangtua. Kita bersimpuh takdhim di pangkuannya, memohon doa restu dan kemaafannya. Adalah kebahagiaan bagi kita yang orangtuanya masih dalam keadaan sehat dan masih bersama kita, terlebih sosok ibu yang telah susah payah melahirkan kita ke dunia ini dan yang paling berjasa menghantarkan kita menjadi seperti sekarang ini.

Hari raya ini saat penting bagi kita untuk berbuat baik kepada orangtua kita. Inilah ladang amal bagi kita selaku anak yang berbakti kepada orang tua. Di hari nan fitri ini saat yang tepat bagi kita untuk meraih keridhaan orangtua. Bila mereka atau salah satu dari mereka saat ini sudah kembali ke haribaan ilahi, kita dituntun untuk selalu mendoakannya dan menziarahi makamnya. Kita jalin silaturahim bukan saja pada orang yang masih hidup, tetapi juga dengan orangtua kita yang telah meninggal dunia.

Setelah takdhim kepada kedua orangtua, kita juga membuka hati untuk berbagi kasih sayang dan ampunan kepada putra putri kita, takdhim ke guru-guru kita, dan berbagi kemaafan kepada sesama saudara dan orang yang ada di sekitar kita. Bila Ramadhan telah mengantarkan kita pada ampunan Allah, maka kini kita sempurnakan dengan silaturahim sehingga mendapat kemaafan antar sesama. Aamiin ya Rabb al-‘alamiin

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.