MOMENTUM PERUBAHAN KARAKTER PASCA RAMADHAN

MOMENTUM PERUBAHAN KARAKTER PASCA RAMADHAN

 

GEMA JUMAT, 15 JUNI 2018

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”  Al-Baqarah 183

Puasa menurut literatur agama merupakan sebuah ibadah yang kompleks, komplit, dan multidimensi. Hampir seluruh tujuan ibadahibadah yang lain melekat pada ibadah puasa. Artinya, puasa melatih dan mendidik manusia untuk terjaga dari perbuatan hina dan keji, medium pembersihan dan penyucian jiwa, juga saluran untuk membebaskan ketergantungan kepada materi (hawa nafsu), dan serta untuk menyucikan, membeningkan hati dan menghapuskan dosa yang telah lalu. Karena itu, kehadiran Idul Fitri hendaknya dapat memberikan transformasi (perubahan) dalam membentuk karakter zuhud, jujur (shiddiq), sikap kepekaan sosial, empati kepada sesama, dhu’afa, fakir miskin, anak yatim, dan membentuk karakter mujahadah.

Sebab itu, karakter yang telah dibentuk Ramadhan sebulan penuh hendaknya dapat diinternalisasikan dalam kehidupan individu dan sosial. Karena realitas sosial menunjukkan bahwa masih banyak persoalan sosial yang belum terselesaikan, baik masalah pengangguran, kebodohan, ketimpangan sosial, kemiskinan, dan lainnya. Sejumlah masalah tersebut dapat diselesaikan ketika seseorang mampu menginternalisasikan system nilai yang terkandung dalam puasa Ramadhan ke dalam dirinya, sehingga memberikan pengaruh pada perubahan karakter pasca Idul Fitri ini.

Secara sederhana pengertian puasa atau yang disebut ”shiyâm” dan “shaum” dalam bahasa Arab, secara etimologi berarti al-imsak (menahan diri) dari sesuatu baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan. Oleh karenanya, konsekuensi berpuasa adalah mengimplementasikan nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh puasa itu sendiri, yakni kejujuran, pengendalian diri, dan kesediaan berbagi sesama.

Surat al-Baqarah ayat 183: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”, telah menjelaskan energi positif berupa derajat muttaqun yaitu orang-orang yang bisa menjaga moralitas dan akhlak dari perbuatan keji, termasuk korupsi, suap dan lainnya.

Jadi puasa dalam pengertian menahan makan, minum dan hal-hal yang membatalkan dengan niat sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari, seseorang tidak secara otomatis akan menjadi manusia suci. Kalau ibadah puasa sekedar berharap pahala dan ampunan, tak ubahnya orang berjualan yang selalu berharap keuntungan, atau anak kecil yang membantu orang tua untuk memperoleh tambahan uang jajan. Akan tetapi puasa yang yang dapat mengendalikan diri dan hawa nafsu adalah puasa yang dilandasi imam dan berharap ridha Allah. Keikhlasan karena Allah dalam beribadah adalah segala-galanya. Pada tataran inilah seseorang akan jujur dan mampu mengendalikan diri dari alfakhsyawal munkar. Setidanya, puasa Ramadhan yang telah kita lalui sebulan penuh harus memberikan pengaruh kepada perubahan karakter pada diri kaum mukmin.

Pertama, puasa dalam arti “imsak” harus mampu membentuk karakter zuhud, jujur (shiddiq) sebagai sifat nabi dan amanah di hari raya Idul Fitri ini dan harus menjadi medium evaluasi diri. Coba kita simak satu cerita menarik berikut ini yang terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin hattab. Suatu hari beliau melakukan perjalanan dari Madinah ke Mekah. Di tengah perjalan beliau berjumpa dengan seorang anak gembala yang tampak sibuk mengurus kambing-kambingnya. Seketika itu muncul keinginan Khalifah untuk menguji kejujuran si gembala. Khalifah Umar berkata, “Wahai Anak Pegembala, juallah kepadaku seekor kambingmu.”“Aku hanya seorang budak, tidak berhak menjualnya,” jawab Si Pengembala.“Katakan saja nanti kepada tuanmu, satu ekor kambingmu dimakan serigala,” lanjut Khalifah. Kemudian Si Pengembala menjawab dengan sebuah pertanyaan, “Lalu, di mana Allah?” Khalifah Umar tercengang karena jawaban itu. Sambil meneteskan air mata ia pun berkata, “Kalimat ‘di mana Allah’ itu telah memerdekakan kamu di dunia ini, semoga dengan kalimat ini pula akan memerdekakan kamu di akhirat kelak”. Kisah di atas merupakan gambaran pribadi yang jujur, menjalankan kewajiban dengan disiplin yang kuat, dan tidak akan melakukan kebohongan walau diiming-imingkan dengan keuntungan materi.

Dalam pada itu, puasa harus mampu membentuk manusia-manusia yang cerdas secara emosional, sehingga memiliki kemampuan menjaga dan mengontrol emosi (marah) dalam pergulatan kehidupan sosial. Sebab, setiap manusia pasti memiliki sifat marah. Sifat marah ini muncul ketika seseorang melihat sesuatu yang tidak disukainya. Artinya, memiliki sifat marah merupakan suatu yang normal dan manusiawi.

Tapi, apabila seseorang hanya suka marah-marah, atau hanya terjebak pada rutinitas marah tanpa sebab dan tidak penting, ini sesuatu yang abnormal dan tidak manusiawi. Kedua, ketika puasa merupakan medium permelawan manusia terhadap kodratnya untuk makan, minum dan berhubungan biologis, maka pada Idul Fitri ini harus terjadi transpformasi perwatakan kaum mukmin. Puasa harus dapat memberikan perubahan pada pembentukan karakter kepekaan sosial, empati kepada sesama, dhu’afa, fakir miskin dan kaum yang tertindas. Di samping itu, pada momentum Idul Fitri ini juga harus ada perubahan pada peningkatan kualitas hubungan sosial yang dilandasi kekuatan rasa ukhuwwah di antara sesama serta semangat cinta damai di antara sesame muslim, dengan melepaskan berbagai perbedaan etnik, budaya, dan aliran keagamaan. Semua umat Islam membuka diri untuk bisa saling memberi dan menerima permintaan maaf.

Ketiga, puasa Ramadhan yang telah kita tempuh sebulan penuh harus mampu membentuk watak jihad pada diri setiap mukmin, yaitu jihad akbar dengan mengorbankan segala yang kita miliki, baik tenaga, harta benda, atapun jiwa kita untuk mencapai keridhaan dari Allah melalui amal shaleh untuk pembangunan agama, pembangunan masyarakat dan pembangunan Negara Indonesia yang kita cintai ini. Di samping itu, jihad akbar harus mampu dimaknai sebagai usaha keras bagi pembaharuan duni guna menjadikannya sebagai tempat yang paling damai magi semua, memberantas kebodohan, kemiskinan dan usaha-usaha ke arah pembangunan bangsa.

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.