Mensyukuri Indahnya Bermaafan

Mensyukuri Indahnya Bermaafan

Gema, 17 Juni 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 3 Syawal 1439

Saudaraku, di antara nilai kemuliaan hari raya Idul Fitri yang paling kental dalam masyatakat muslim adalah saling memberi maaf atau bermaafan antara satu dengan lainnya. Hampir semua ajaran dan tradisi yang hidup dalam masyarakat muslim pada bulan Syawal memiliki nilai dan lazim dihubungkan dengan bermaafan; apakah itu silaturahim, silaturahmi, syawalan, halal bihalal, tradisi makan ketupat (bodho kupat = ngaku lepat, mengaku bersalah maka meminta maaf), atau lainnya.

Dalam normativitas Islam, kita juga memperoleh tuntunan dalam banyak tempat dalam al-Qur’an. Di antaranya Allah berfirman, Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Al-Imran 133-134)

Dalam ayat di atas bermaafan menjadi salah satu karakteristik dan tanda-tanda orang bertakwa yang dengan takwa itu balasannya adalah surga (baca hidup bahagia) dengan seluas-luasnya.

Oleh karenanya menjadi pemaaf dan meminta maaf sehingga bermaafan sangat ditekankan dalam Islam. Allah berfirman, jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf 199)

Dalam ayat di atas, saling bermaafan atau menjadi seorang yang pemaaf merupakan tanda-tanda kecerdasannya. Dan sebaliknya orang-orang yang tidak memaafkan merupakan tanda ketidaktahuannya akan kemuliaan hidup. Kita mesti menyadari bahwa menyimpan kesalahan orang lain apalagi mengingat-ingatnya atau mengungkit-ungkitnya hanya akan membebani diri dan hidupnya. Oleh karena layak dilepas dan dilupakan dengan cara memaafkannya baik tidak diminta apalagi diminta.

Oleh karena itu kata-kata dan sikap saling memaafkan antar sesama merupakan akhlak mulia. Allah berfirman, “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah 263) Dan “Jika kamu melahirkan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Kuasa.” (QS. An-Nisa 149). Juga, “Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan ) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS. Asy-Syura 43)

Karena kemuliaan bermaafan, maka adalah pantas bila kita mengembangkan akhlak untuk mensyukurinya.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa sifat pemaaf atau pengampun merupakan salah satu sifat Allah swt yang sangat penting, sehingga kita menyebutNya Allah Yang Maha Pengampun. Karenanya kita umat Nabi Muhammad dituntun untuk meneladaniNya, sehingga kita menjadi seorang yang pemaaf, tidak menjadi pendendam.

Kedua, bersyukur dengan memperbanyak mengucspkan alhamdulillahirabil ‘alamin, Allah menyediakan fasilitas berupa nilai dan ajaran bermaafan, sehingga dalam mengarungi hidup dan kehidupan ini dapat ringan dan terlepas dari belenggu dosa antar sesama.

Ketiga, melakukan langkah konkret, di antaranya dengan bersegera memohon maaf bila melakukan kesalahan atau kelalaian pada sesamanya. Dan tidak mengulangi kesalahan lagi. Sejatinya untuk meminta maaf tidak harus menunggu hari raya, tetapi bisa kapan saja, namun hari raya tetap saja memiliki nuansa yang sangat berbeda dan moment terbaiknya, maka meminta maaf dan bermaafan dapat dilakukan dengan segera.

Demikian juga sebaliknya bagi saudara lainnya, pemberian maaf sebaiknya tidak mesti dipinta oleh sesama saudaranya, apalagi kalau diminta. Maka di sinilah saling bermaafan terjadi, sehingga terasa betapa indahnya bermaafan.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.