Mensyukuri Rekreasi

Mensyukuri Rekreasi

Gema, 18 Juni 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 4 Syawal 1439

Saudaraku, karena liburan Idul Fitri kali ini relatif panjang bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya dan apalagi berbarengan dengan liburan semesteran sekolah yang juga relatif lama, maka kesempatan ini dimanfaatkan oleh banyak kalangan untuk rekreasi.

Bila merujuk pada batasan yang lazim diberikan oleh pakar bahasa, rekreasi berasal dari bahasa latin yaitu re dan creature yang berarti “pemulihan daya cipta kembali atau penyegaran daya cipta kembali”. Rekreasi biasanya dilakukan di waktu senggang (leasuretime). Leasure berasal dari kata “licere”(latin) yang berarti diperkenankan menikmati saat-saat yang bebas dari kegiatan rutin untuk memulihkan atau menyegarkan suasana kembali.

Dalam praktiknya rekreasi dapat dilakukan dengan ragam kegiatan, seperti berolahraga, menikmati kesenian, mengunjungi tempat-tempat wisata atau lainnya.

Dalam hal berjalan di muka bumi mengunjungi berbagai tempat, terdapat tuntunan dimana Allah berfirman, maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. Qs. Al-Haj 46

Wilayah atau tempat wisata atau situs bersejarah di tanah air kita, Indonesia relatif memadai. Di hampir setiap pulau menjadi destinasi atau tujuan para wisatawan, baik wisatawan dari dari dalam negeri sendiri (domestik) maupun wisatawan dari manca negara.

Kini, di hampir tujuan wisata dipenuhi oleh pengunjung. Dengan maksud mempererat tali silaturahim dan reuni di hari raya Idul Fitri kemudian banyak keluarga yang pergi berekreasi; apakah ke kebun binatang, ke pantai, ke tempat pemandian, atau ke tempat wisata lainnya.

Oleh karena itu kita layak mengembangkan sikap mensyukuri berkesempatan melakukan rekreasi.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa seluruh aktivitas manusia dapat bernilai ibadah selama amalan tersebut didasari niat, karena dan untuk mencari ridha Allah.

Kedua, memperbanyak mengikrarkan syukur alhamdulillahirabbil ‘alamin atas ragam karunia yang dicurahkan oleh Allah atas hamba-hambaNya.

Ketiga, bersyukur dengan langkah konkret di antaranya ke manapun di manapun dengan siapapun dan dalam kondisi apapun harus bisa mentadaburi atau mengambil ibrah yang dapat melahirkan ketaatan pada Allah. Di samping itu tentu harus tetap menjaga diri dan keluarga untuk mentaati segala aturan yang ada.

Ketika menyaksikan keindahan alam, maka terbayang kebesaran Allah swt dan mengucapkan subhanallah; ketika melihat aneka ragam satwa maka terpikir akan kekuasaan Allah dan mengucapkan subhanallah wa alhamdulillah Allah telam mengaruniakan semua ini ke atas hamba-hambaNya. Dan seterusnya.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.