Mensyukuri Indahnya Berbagi

Mensyukuri Indahnya Berbagi

Gema, 19 Juni 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 5 Syawal 1439

Saudaraku, pesan inti silaturahim pada Idul Fitri adalah berbagi. Ya, berbagi keberkahan; berbagi kemaafan, berbagi cerita dan pengalaman, berbagi ilmu dan berbagi karunia Ilahi, termasuk berbagi rezeki. Konsep berbagi sejatinya merupakan pengukuhan nilai kedermawanan yang telah diperoleh selama bulan Ramadhan sebelumnya yang dilanjutkan melalui penunaian pembayaran zakat.

Betapa tidak! Saat hari raya Idul Fitri, banyak keluarga yang mudik berkumpul bereuni setelah sebelumnya terpencar-pencar di bumi Allah yang sangat luas, kemudian saling berbagi keberkahan. Keluarga yang relatif sukses dalam bermatapencaharian dituntun untuk membantu anggota keluarga lainya yang “kurang betuntung”.

Diceritakan dalam sebuah riwayat, ketika suatu saat keluarga Nabi Muhammad saw menyembelih seekor domba, maka dua pertiganya telah dibagikan kepada para sahabat yang ada. Saat Nabi yang mulia menanyakan perihal sembelihannya itu, putrinya, yaitu Siti Fatimah menuturkan kepada ayahandanya bahwa daging sembelihan dombanya tinggal sepertiga yang nantinya akan dimasak dan dimakan sekeluarga, sedangkan selebihnya yaitu yang dua pertiga telah habis dibagi-bagikan kepada para tetangga.

Setelah mendengar penuturan ananda Fatimah tersebut, Nabi Muhammad saw menperbaiki maksud statemen putri kesayangannya itu, seraya menyatakan bahwa yang benar adalah sejatinya yang tinggal justru dua pertiga sementara yang habis adalah sepertiga yang telah dan akan dimakan oleh keluarganya.

Dari ilustrasi ibrah perilaku Nabi dan keluarganya di atas, kita menangkap pesan hikmah yakni filosofi berbagi. Berbagi rupanya justru memberkahi, karena dengan berbagi itu menjadi kekal nan abadi. Apapun karunia Ilahi yang dicurahkan kepada kita, kemudian bisa diakses oleh seluas-luasnya dalam kehidupan hamba-hambaNya di muka bumi ini akan menjadi kekal, bahkan melimpah, bertambah-tambah, berkah dan memberkahi.

Ya inilah rahasia dan keistimewaan tuntunan Ilahi. Berbagi hasilnya justru kekal, bertambah dan berkah. Harta dizakati justru menjadi bertambah-tambah. Komoditi dishadaqahi justru menjadi melimpah. Tabungan dan deposito diinfaqi justru menjadi berlebih. Ternak diqurbani justru beranak pinak menjadi banyak. Ilmu diajarkan keoada sesamanya justru menjadi hikmah dan bertambah bijak.

Sebaliknya, segala sesuatu (makanan, pakaian, tempat tinggal, kenderaan, talenta, ilmu dll) yang kita nikmati sendiri hanya akan sesuai dengan niat peruntukannya, bahkan akan habis, usang dan menjadi tak bermakna sama sekali, apalagi tidak kita syukuri.

Oleh karena itu keindahan berbagi mestinya kita syukuri.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa konsep berbagi merupakan salah satu cara untuk meraih ketercukupan, atau bahkan kekayaan.

Kedua, bersyukur dengan memperbanyak mengucapkan alhamdulilhahirabbil ‘alamin atas amanah (harta, tahta, ilmu) yang diberikan sehingga dapat berbagi kepada sesama dengan leluasa.

Ketiga, mensyukuri indahnya berbagi dengan langkah konkret seperti menjaga keistiqamahan sehingga bisa berbagi dengan ajeg (kontinue). Sementara bagi kita yang kebetulan tidak seberuntung keluarga yang busa berbagi hendaknya tahu diri dan terus berusaha sehingga tidak menjadi “beban” keluarga.

Di samping itu, juga harus disadari bahwa dalam hidup ini kita benar-benar tidak bisa sendiri. Untuk senyum sekalipun harus ada pihak lain, agar tetap normal. Inilah sunnatullah dan karena alasan ini pula kita mestinya saling berbagi.

Bisa jadi hari ini kita memberi manfaat dan kemaslahatan kepada orang lain, maka lain kali kita atau anak cucu kita pasti akan menerima manfaat dan kemaslahatan dari orang lain. Atau sebaliknya hari ini kita menerima, lain kali insyaallah memberi. Inilah indahnya berbagi.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.