Memori Idul Fitri di Nanchang

Memori Idul Fitri di Nanchang

GEMA JUMAT, 22 JUNI 2018

Nelly, S2 Applied Mathematics, Faculty of Sains Nanchang University, Jiangxi Province, China

Saya berkesempatan kuliah di negeri Tiongkok, tepatnya di kota Nanchang, China Selatan. Sudah berlalu tiga tahun sejak tamat kuliah disana. Ada secercah memori suasana Idul Fitri yang masih membekas di ingatan saya. Penganut Islam di daerah yang saya tempati masih tergolong sedikit, umumnya banyak yang beragama Budha, bahkan kawan di kampus ada yang atheis. Namun ketika Idul Fitri dan Idul Adha, sangat banyak pedagang muslim pendatang dari daerah lain yang merayakan dan melaksanakan shalat Idul Fitri di Masjid Nanchang.

Masjid Nanchang

Tidak jauh dari kampus, ada masjid yang didirikan dari donatur pengusaha muslim China. Dari kampus, bisa ditempuh selama 15 menit. Bagi saya, pemandangan yang beda saat mengunjungi rumah Allah di Cina ini, ada ayi-ayi (panggilan untuk nenek-nenek) yang rajin beribadah. Saya sering temui mereka saat shalat Jum’at, jadi ketika hari Jumat baik laki-laki dan perempuan banyak yang pergi menunaikan shalat Jumat. Kalau kita di Aceh, wajib laki-laki saja.

Jamaah membludak di Masjid Nanchang ketika Idul Fitri dan Idul Adha. Karena hanya masjid ini satu-satunya yang ada di kota Nanchang. Tidak ada lagi tempat ibadah. Pergerakan Islam di negeri bambu benar-benar diawasi, jadinya masjid ini dipasang CCTV dari masuk hingga di ruang shalat. Namun ada keunikan yang saya temui ketika akan melaksanakan shalat Idul Fitri, disana ada beberapa asosiasi muslim yang beramai-ramai membawa bendera berduyun-duyun datang ke masjid. Dalam suasana itu, terlihat jumlah jamaah laki-laki lebih banyak dari jamaah perempuan.

Imam shalat dan khutbah hanya seorang saja. Dia bernama Imam Abdullah. Ketika dia ceramah tentu menggunakan bahasa mandarin dan sedikit bahasa Arab jika membaca penggalan ayat suci Al-Qur’an. Meski saya kurang paham, mungkin mereka menggunakan logat daerah. Karena bahasa sedikit beda ketika saya belajar mandarin di kampus.

Setelah shalat Idul fitri berjamaah, tepat di depan masjid ini, dijajakan makanan seperti mie, sate kambing bakar yang ditusuk dengan lidi, roti dan bakpao. Jadi bisa dibeli dari harga 2 yuan hingga 10 yuan. Yang menjual makanan adalah pedagang muslim China.

Lebaran bersama

Muslim disini, menurut saya sangat ramah kepada sesama. Pernah suatu ketika, saya melihat orang Cina yang non muslim. Mereka melihat kegiatan buka puasa kami pas di bulan Ramadhan yang diadakan masjid. Nah orang muslim menyambut mereka dengan ramah sambil menjelaskan kegiatan ini kepada mereka. Dan ada sebagian diizinkan duduk di belakang menyaksikan kami shalat. Kalau lebaran, maka mahasiswa asing yang muslim berkesempatan makan daging kambing gratis bersama dengan muslim China di kantin Abdullah, yang tentu saja halal.

Pengalaman puasa

Bulan puasa jatuhnya pertengahan Juni. Jadwal kampus libur yang kami sebut summer vacation, liburan musim panas. Saya  harus menunggu waktu berbuka selama 16 jam, harus rela tahan lapar ditambah cuaca panas. Untungnya masjid memberi fasilitas berbuka selama sebulan penuh selama Ramadhan, dengan menu daging dan sayur yang bisa disantap gratis. Jika menginap di masjid juga bisa. Saya pernah menginap di asrama di samping masjid saat sepuluh hari terakhir guna menyambut malam lailatur qadar. Jadi asrama di samping masjid khusus disediakan bagi kaum perempuan. Sedangkan laki-laki di dalam masjid.

 

Saya lihat yang minoritas lebih kuat silaturrahimnya disana. Karena minoritas gampang dikenal lewat pakai jilbab. Sewaktu saya jalan-jalan untuk belanja, orang-orang melihat dan melontarkan kata ”Ni shi xinjiang ren ma?” Atau “Ta shi musilin” (kamu orang Xinjiang ya atau dia itu muslim). Karena wajah saya kerap dikira orang Xinjiang, propinsi yang banyak muslimnya.

 

Ada lagi, kalau mau makan di kantin muslim, kita saling sapa “Assalamualaikum”. Suasana religi tidak bisa ditemui di kampus, karena jarang saya lihat kaum perempuan muslim di kampus mau memakai jilbab. Maka pergilah ke masjid yang hanya satu-satunya di Nanchang, baru bisa melihat wanita memakai jilbab. Walaupun begitu, saya sudah merasakan pahit manisnya selama empat tahun menuntut ilmu di negeri Cina, wujud dari mengaplikasikan hadits, “Tuntutlah ilmu, hingga ke negeri Cina (Tiongkok)”.

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.