MEMPERERAT HUBUNGAN SILATURRAHIM

MEMPERERAT HUBUNGAN SILATURRAHIM

GEMA JUMAT, 22 JUNI 2018

Khutbah Dr. H. Muhibbuththabary DA, M.Ag, Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry

 

Kita saat ini masih berada dalam suasana Idul Fitri 1439 H. Suasana yang menuntun kita untuk secara terus menerus memperkokoh jalinan persaudaraan antara dan sesama kita, terutama dalam rangka kita menghadapi keadaan soiso-kultural masyarakat seputar kita yang terus mengalami perubahan-perubahan demikian cepat dan drastis. Perubahan tersebut tampak pada kasat mata kita ketika sistem IT menjalar ke seluruh ranah kehidupan manusia secara menyeluruh. Sekat-sekat kehidupan hampir tidak ada lagi dalam kancah kehidupan umat manusia saat ini.

Alhamdulillah, kita semua dihibur dengan suasana Idul Fitri, yaitu suatu momentum yang menjadikan semua umat Islam menjadi fitrah, kembali kepada hakikat kebenaran, karena kita datang dari Yang Maha Benar. Perayaan hari kemenangan ini dihiasi dengan acara silaturahim yang menyimpan banyak sekali keberkahan dalam hidup kita komunitas muslim.

Masyarakat yang berkah adalah masyarakat yang jauh dari dosa-dosa dan maksiat. Sebaliknya, masyarakat yang penuh dengan dosa-dosa dan kemaksiatan adalah masyarakat yang rentan. Ibarat tubuh penuh dengan penyakit dan kotoran yang menjijikkan. Maka ia tidak produktif dan bahkan tidak bisa diharapkan darinya kebaikan.

Keberkahan suatu masyarakat itu mempunyai syarat khusus yang telah dipatok oleh Al-Quran, sehingga dengan mewujudkannya akan terwujudlah masyarakat yang mendapatkan keberkahan, sebagaimana firman Allah:

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (QS Al-A’raf: 96)

Sayyid Qutb  mengatakan: “Berkah-berkah yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang beriman dan bertaqwa secara tegas dan meyakinkan itu, bermacam-macam jenis dan ragamnya. Juga tidak diperinci dan tidak ditentukan batas-batanya oleh nash ayat itu. Isyarat yang diberikan nash Al-Quran itu menggambarkan limpahan yang turun dari semua tempat, bersumber dari semua lokasi, tanpa batas, tanpa perincian, dan tanpa penjelasan. Maka ia adalah berkah dengan segala macam warnanya, dengan segala gambaran dan bentuknya. Keberkahan yang dijanjikan kepada orang beriman dan bertakwa ialah bahwa keberberkahan itu kadang-kadang menyertai sesuatu yang jumlahnya sedikit, tetapi memberikan manfaat yang banyak serta diiringi dengan kebaikan, keamanan, kerelaan, dan kelapangan hati. Berapa banyak bangsa yang kaya dan kuat, tetapi hidup dalam penderitaan, tidak ada rasa aman, penuh goncangan dan krisis, bahkan menunggu kehancuran.”

Ketika kehidupan berjalan secara sinergis antara unsur-unsur pendorong dan pengekangnya, dengan bekerja di bumi sambil memandang ke langit, terbebas dari hawa nafsu, menghambakan diri dan tunduk kepada Allah. Berjalan dengan baik menuju ke arah yang diridhai oleh Allah, maka sudah tentu kehidupan model ini akan diliputi dengan keberkahan, dipenuhi dengan kebaikan dan dinaungi dengan kebahagian.

Berkah yang diperoleh bersama iman dan takwa adalah berkah yang meliputi segala sesuatu. Berkah yang terdapat di dalam jiwa, dalam perasaan, dan dalam kehidupan bermasyarakat. Juga berkah yang mengembangkan kehidupan dan meninggikan mutunya dalam setiap waktu.

Keimanan dan ketaqwaan senantiasa memanifestasikan kesediaan sang hamba menyambung dan menjaga hubungan kerabat (shilah ar-rahim). Karena itu, syariat melarang keras memutuskan silaturahim. Abu Ayub al-Anshari menuturkan, “Pernah ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi saw., “Ya Rasulullah, beritahukan kepadaku perbuatan yang akan memasukkan aku ke dalam surga.” Lalu Rasulullah saw menjawab:

Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung silaturahmi. (HR Al-Bukhari).

Hadist ini, meskipun menggunakan redaksi berita, maknanya adalah perintah. Pemberitahuan bahwa perbuatan itu akan mengantarkan pelakunya masuk surga, merupakan qarînah jâzim (indikasi yang tegas). Oleh karena itu, menyambung dan menjaga silaturahim hukumnya wajib, dan memutuskannya adalah haram. Rasul saw. pernah bersabda:

Tidak akan masuk surga orang yang memutus hubungan kekerabatan (ar-rahim. (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Sekalipun menggunakan redaksi berita, maknanya adalah larangan; ungkapan ‘tidak masuk surga’ juga merupakan qarînah jâzim, yang menunjukkan bahwa memutus hubungan kekerabatan (shilah ar-rahim) hukumnya haram.

Oleh karena itu, Qadhi Iyadh menyimpulkan, “Tidak ada perbedaan pendapat bahwa shilah ar-rahim dalam keseluruhannya adalah wajib dan memutuskannya merupakan kemaksiatan yang besar.”

Perjalanan hidup Rasulullah saw sarat dengan makna yang dalam bagi kehidupan manusia di muka bumi ini. Semua perkataan, tindakan, putusan dan lain sebagainya menjadi kiblat bagi peradaban manusia di seantero jagat ini.

Banyak hal yang telah ditinggalkan beliau yang di dalamnya terkandung banyak makna maslahat bagi kehidupan sosial. Salah satu wasiat mulia yang disebarkan oleh Rasulullah adalah pentingnya silaturrahim. Sungguh Rasulullah telah meninggalkan kita di atas tuntunan yang jelas, tuntunan yang terang berderang, di atas petunjuk yang sempurna.

Hal ini telah di tegaskan oleh Allah Swt dalam firman-Nya: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” (QS Al-Maidah: 3)

Ayat ini menunjukkan kesempurnaan syariat dan bahwasanya syariat ini telah mencukupi segala keperluan yang dibutuhkan oleh makhluk, termasuk juga mengenai tatanan kehidupan sosial. Lewat media silaturrahim, perselisihan dan perpecahan dapat diminimalisir bahkan dapat diselesaikan.

Silaturrahim merupakan refleksi bahwasanya Islam merupakan agama yang toleran, yang mengedepankan pendekatan hidup rukun dengan sesama secara lintas-agama.

Perbedaan agama bukanlah tanda untuk saling memusuhi dan mencurigai, melainkan sebagai sarana untuk saling berlomba dalam berbuat kebajikan. Atau dengan kata lain, kita telah mengamini pendapat yang disampaikan oleh Ibnu Taimiyah, “Kebaikan adalah semua kebaikan yang mengikuti salafus shaleh (orang-orang terdahulu), memperbanyak pengetahuan terhadap hadits Rasulullah saw, mendalaminya, berpegang teguh dengan tali Allah, melazimi jama’ah, dan menjauhi segala sesuatu yang dapat menyebabkan kepada perselisihan dan perpecahan.”

Problem kemunduran peradaban Islam diakibatkan oleh  perpecahan umat Islam yang tidak pernah berkesudahan. Padahal, kalau kita menoleh kepada sejarah yang ada, kejayaan yang pernah diraih oleh umat Islam adalah karena mereka kuat memegang tali persaudaraan.

Hal ini diperkuat oleh perkataan Imam Baghawi, “Allah telah mengutus para nabi untuk menegakkan agama, menyatukan umat dan meninggalkan perpecahan serta perselisihan.”

Bahkan Rasulullah saw memerintahkan umatnya untuk menyatukan barisan dan melarang dari perpecahan dan perselisihan. Sesuai dengan sabda beliau: “Sesungguhnya Allah ridha terhadap kalian pada tiga hal, dan membenci kalian pada tiga hal. Yaitu, engkau menyembah-Nya dan tidak menyekutukannya,  engkau berpegang teguh pada tali Allah dan jangan kalian berpecah-belah. Dan membenci ucapan katanya, banyak ucapan, dan menyia-nyiakan harta.” (HR Muslim).

Karena itu, marilah kita terus menerus menjaga dan memupuk tali silaturrahim ini dengan lebih mengedepankan nilai-nilai sipiritualitas yang ada, terlebih posisi kita berada dalam bingkai kehidupan syar’i yang selalu mengilhami dan menuntun kita kepada jalan kebenaran.

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.