Tegur Sapa

Tegur Sapa

GEMA JUMAT, 22 JUNI 2018
Oleh Murizal Hamzah

Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha menjadi momen bagi umat Islam untuk meminta maaf dan merajut silaturrahmi. Dua kesempatan itu dioptimalkan untuk saling bertegur sapa secara langsung atau saling via teknologi. Aktivitas itu dilakukan maksimal selama bulan Syawal dan Zulhijah di dunia nyata hingga dunia maya melalui media sosial atau telepon seluler.

Selama dua bulan itu kata maaf diobral ke teman-teman yang berdekatan atau berjauhan yang jarang bertemu secara fisik. Tidak putus-putus kata maaf dilontarkan kepada sahabat dan rekan-rekan. Kita meminta dimaafkan kesalahan serta menyambung silaturrahim kepada teman-teman yang di seberang laut, jarang berinteraksi bahkan tidak pernah jumpa.

Dengan kata lain, kecil kemungkinan terjadi kesalahan yang berdampak munculnya dosa atau salah paham. Padahal meminta maaf kepada kerabat di sekitar kita lebih utama daripada kepada sahabat yang tinggal ribuan mil untuk sekedar berbasa-basi. Mengapa kita harus mengutamakan meminta maaf dan bersilaturrahmi pada kerabat saudara?

“Nabi Muhammad memerintahkan kami shalat, shadaqah, menjaga kehormatan dan shilaturrahmi.”  (HR Al-Bukhâri)

Suatu ketika, Ibnu Hajar ra mengisahkan tentang hartawan yang berhaji yang menitip uang kepada seorang yang sangat jujur. Usai berhaji, hartawan kembali ke temannya yang menerima titipan uang. Namun dia sudah meninggal dunia. Ghalibnya tidak ada saudara-saudaranya yang tahu di mana uang tersebut disimpan. Dermawan itu bertanya kepada orang alim di Mekkah, jawabannya, pada akhir malam pergilah ke sebuah sumur di Yaman dan panggil nama teman yang sudah wafat itu.

Akhirnya, hartawan mendapat jawaban dari temannya.

“Aku menyimpan uangmu di rumahku, pergilah dan katakan kepada anak-anakku. Kamu akan mendapati uangmu kembali,”  jawabnya

“Bagaimana engkau tergolong ahli neraka? Bukankah kamu orang yang baik dan amanah?” tanya hartawan itu.

“Sesungguhnya aku mempunyai seorang saudari perempuan yang fakir. Lama kami tidak saling tegur sapa, sampai aku meninggal. Inilah yang menyebabkan aku sebagai ahli neraka,” jawabnya.

Dermawan itu bertemu Bibinya dan menceritakan yang dialami saudaranya. Dia menangis dan memaafkannya. Memohon ampun dan mulai menyambung tali silaturrahim dengan anak-anak saudaranya.

Rasulullah SAW bersabda, “Wahai manusia! Sebarkanlah salam, jalinlah tali silturahim (dengan kerabat), berilah makan (kepada istri dan kepada orang miskin), shalatlah di waktu malam ketika manusia yang lain sedang tidur, tentu kalian akan masuk ke dalam surga dengan penuh keselamatan.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Menjalin silaturrahim dengan tetangga, kerabat, saudara kandung, mitra kerja dan lain-lain yang setiap hari dilihat, namun jika ada yang mogok tegur sapa lebih utama kita ulurkan tangan.  Ternyata menjaga hubungan sesama manusia berdampak pada ibadah kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW mengatakan: “Tidak akan masuk surga yang memutuskan (persaudaraan). (HR. Al-Bukhâri dan Muslim).

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.