Mensyukuri Suci Hati

Mensyukuri Suci Hati

Gema, 23 Juni 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 9 Syawal 1439

Saudaraku, dalam keyakinan Islam setelah berhasil menunaikan ibadah Ramadhan dengan seluruh pemberdayaannya dan disempurnakan dengan saling bermaafan melalui silaturahim antarsesamanya di hari raya Idul Fitri, maka segala dosa doampuni, baik dosa pada Allah maupun pada sesamanya. Karena dosa diampuni, maka hati menjadi suci kembali; hatinya baru.

Hati suci atau hati baru merupakan modal utama untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan kini dan masa datang. Mengapa? Karena hati merupakan lentera hidup dalam ini.

Imam Ghazali memberikan tamsil menaruk bahwa hati itu laksana raja. Hati bersifat lembut (latifah) ibarat sebagai seorang raja dalam kekuasaannya.

Seluruh panca indera, anggota tubuh lainnya, segala daya dan potensi dirinya adalah ibarat para teknisi dan pekerja.

Akal pikirannya sebagai penasihat yang tulus merangkap sebagai menteri yang pandai dan bijaksana.

Nafsu syahwatnya laksana budak yang buruk perilakunya, yang tugasnya adalah mengangkut makanan dan barang-barang keperluan ke dalam Kota, sementara ghadab (emosi)-nya serta naluri pembelaan dirinya yang semangat, ibarat petugas kepolisian.

udak yang bertugas menyediakan barang-barang tadi adalah juga seorang pendusta jahat yang berpura-pura sebagai penasihat, padahal di balik nasihatnya tersembunyi kejahatan besar, serta racun yang mematikan. Dengan watak dan tabiatnya yang buruk itu, ia senantiasa berupaya melawan menteri yang tulus, dalam pemikiran maupun peraturan-peraturan yang dibuatnya.

Maka ketika sang raja selalu mendengarkan nasihat menterinya yang pandai dan tulus itu (yakni akal sehatnya) dalam pengelolaan negerinya, sementara ia tak sedikitpun menghiraukan apa yang diucapkan oleh si budak jahat (yakni nafsu syahwatnya), karena menyadari bahwa kebenaran justru terletak pada pemikiran yang berlawanan dengan si budak, maka ia akan memerintahkan aparat kepolisiannya (yakni sifat ghadab-nya) untuk menangani tingkah laku kejahatan si budak dengan mendidiknya sebaik mungkin, agar ia bersedia tunduk dan patuh terhadap kebijaksanaan sang menteri.

Di samping itu, ia senantiasa waspada terhadap ulah si budak serta orang-orang yang menjadi pengikutnya, sehingga mereka ini menjadi kelompok yang dikendalikan, bukan mengendalikan dan yang diperintah dan diatur, bukan yang memerintah dan yang mengatur. Jika seperti itu keadaannya, maka negeri itu akan menjadi makmur dan teratur dan keadilan dapat ditegakkan dengan baik.

Dengan demikian hati suci atau hati baru laksana raja yang berwibawa sehingga titahnya dipatuhi oleh seluruh pejabat dan rakyatnya. Wal hasil, hidupnya dinaungi rahmat ilahi, sejahtera lahir dan batin, dunia akhiratnya.

Rasulullah saw bersabda: Dalam jasad manusia terdapat segumpal daging, jika baik (baca bersih, suci) daging itu, maka baiklah seluruh tubuh, jika buruk daging itu maka buruklah seluruh tubuh. Dan ketahuilah daging itu adalah hati (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu sudah seharusnya kita mengembangkan akhlak mensyukuri hati baru.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa hanya dengan hidayah dan inayahNya saja hati ini dapat terus bersyukur, bersyukur, dan bersyukur. Karena hanya dengan bersyukur hidup ini selalu mujur dan makmur.

Kedua, memperbanyak mengucapkan alhamdulillahirabbil ‘alamin dengan membayang-bayangkan karunia yang telah Allah anugrahkan kepada kita. Alhamdulillah sehat wa afiat, alhamdulillah hati telah suci kembali dan semakin tawadhuk, alhamdulillah akal pikiran terbimbing, alhamdulillah rezeki melimpah, alhamdulillah bertambah saudara, alhamdulillah tidak terjadi hal-hal yang merugikan, dan seterusnya dan seterusnya.

Ketiga, bersyukur dengan melakukan langkah konkret seperti istiqamah memelihara kesucian hati. Dengan hati suci, kita buka lembaran baru, kita tulisi hikmah dan warnai dengan tinta emas, sehingga memberi kemaslahatan untuk diri, lingkungan, dan sesamanya.

Adalah salah bila dengan hati baru, lembaran baru kemudian dikotori atau diwarnai dengan coretan-coretan gak karuan, dengan harapan akan dihapus dan disucikan kembali pada Bulan Ramadhan 1440 H, yang belum tentu dalam jangkauannya.

Oleh karenanya perlu konttil pribadi (selfcontrol) agar kesucian hati dapat dipertahankan, di antaranya pertama dengan membiasakan mengambil dan memiliki air wudhuk. Hal ini sangat praktis dan sangat penting agar tangan, mulut, lisan, mata, hidung, kepala (akal pikiran), telinga dan kaki kita terpelihara dari perbuatan yang mendatangkan dosa. Mulai saat ini kita biasakan berwudhuk, bukan saja akan shalat, tetapi juga saat akan ke tidur, ketika akan ke tempat kerja, akan berangkat ke kampus, akan belajar ke sekolah, saat akan bepergiaan dan saat-saat lainnya.

Selfcontrol kedua, membasahi lisan dengan dzikir apa saja yang mudah, misalnya membiasakan mengucapkan Allah, Astaghfirullah, Allahu Akbar, subhanallah, alhamdulillah sebanyak-banyaknya, kapan saja dan di manapun jua.

Selfcontrol ketiga, berpuasa sunnah seperti puasa enam syawal, senin kamis, yaumul bidh dan puasa ala Nabi Dawud.

Selfcontrol keempat, bersegera shalat wajib bila sudah saatnya tiba, diutamakan berjamaah sehingga dapat bersilaturahim dengan orang-orang baik. Dan menggemarkan melakukan shalat-shalat sunat seperti sunat Rawatib, Dhuha, Tahajud, dan lainya.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.