Melihat Masjid Hijau Pertama di Malaysia

Melihat Masjid Hijau Pertama di Malaysia

GEMA JUMAT, 29 JUNI 2018

Masjid yang dikenal sebagai Green Mosque atau Masjid Hijau ini menjadi masjid pertama di Malaysia yang menerima penghargaan platinum indeks bangunan hijau. Penghargaan itu sangatlah tepat mengingat Masjid Cyberjaya berlanskap ramah lingkungan. Mengunjungi masjid yang dibangun dengan biaya 62 juta ringgit Malaysia ini seakan berada di alam terbuka.

Dibangun di atas tanah seluas 109 hektare, Masjid Cyberjaya mengangkat konsep modern mengedepankan prinsip praktis, ekonomis, dan juga akrab dengan perkembangan teknologi. Hampir semua fasilitasnya menggunakan pendekatan teknologi modern tetapi tetap hemat biaya.

Dalam penggunaan teknologi, misalnya, pembuangan air bekas wudhu digunakan untuk menyirami lanskap nan tertata rapi di masjid yang didominasi satu warna putih ini. Tentunya air pembuangan wudhu itu sudah melalui proses penyaringan sebelum menyirami selurah tanaman yang ada.

Sistem pemanfaatan air bekas wudhu itu jarang digunakan masjid-masjid pada umumnya. Air bekas wudhu dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga tidak terbuang begitu saja. Masjid ini juga memakai sistem pemanfaatan air hujan.

Optimalisasi teknologi di masjid yang mampu menampung 10 ribu jamaah ini, juga terletak pada penerangan. Seluruh sistem penerangan Masjid Cyberjaya ini menggunakan light emitting diode (LED) yang dipercaya dapat menghemat arus listrik pada lampu sampai 75 persen.

Masjid ini sengaja didesain dengan konsep kubah yang berbeda. Kubah pada masjid biasanya berada di tengah-tengah bangunan. Namun, pada Masjid Cyberjaya menempatkan kubah pada bagian samping. Sementara bagian tengah dibiarkan lengang seperti layaknya halaman depan.

Namun, di bagian tengah itu tetap diberi rongga yang panjangnya sampai ke dasar masjid. Diameter rongga itu juga sangat besar sehingga saking besarnya diameter yang dimiliki rongga, satu mobil bus dalam posisi normal saja bisa masuk.

Desain masjid ini adalah untuk menggambarkan Islam sebagai agama yang progresif dengan menggunakan pendekatan kontemporer tanpa menghilangkan identitas kemelayuannya. Masih terdapat ukiran tradisional Malaysia yang sederhana. Cerminan kesederhanaan dan kemurnian Arsitektur Islam modern di Malaysia ini menyesuaikan dengan iklim tropis di Malaysia. Selain itu, seni ukir yang mendominasi di setiap bagian atas masjid juga sebagai cerminan bahwa Masjid Cyberjaya adalah contoh kota hijau masa depan.

Penempatan bangunan didasarkan pada 100 situs acre, mengikuti rencana induk yang ke depannya akan dibangun di Universitas Islam Malaysia sehingga konsep dan tata letak masjid  dan universitas tidak berjauhan dan hal itu juga bisa memudahkan perancangan bangunan baru yang nantinya oleh arsitek lain.

Keterkaitan antara masjid dan universitas ditunjukkan pada bentuk “Pending” Royal, sabuk gesper berbentuk oval yang terbuat dari emas atau perak. Nah, posisi seperti itulah yang nantinya digunakan untuk pembangunan masa depan kompleks Universitas Islam Malaysia.

Selain megah, masjid ini juga memiliki banyak hiasan sebagai pelengkap yang eksotis. Hiasan yang ada di dalam maupun di luar masjid, semuanya dikonsep ramah lingkungan. Hiasan atau fitur yang terdapat di dalam masjid ialah Courtyard Central, The Glass Dome, dan Lanscape.

Courtyard Central yang ada pada halaman tengah ini berada di area masjid yang dirancang sebagai ventilasi alami dan sumber cahaya. Bunga tanjung ditempatkan di tengah bangunan untuk berteduh. Rumput sintetis yang diletakkan di tempat tersebut menjadi pelengkap keeksotisan Courtyard Central.

Sementara itu, hiasan masjid yang ada di bagian luar dapat melengkapi keindahan bangunan masjid yang ada pada menara. Menara milik Masjid Cyberjaya memiliki desain modern yang terbuat dari lempengen kayu yang dicat warna cokelat

Menara modern ini memiliki lebar lima meter dan panjang sekitar 27 meter. Menara ini menjadi titik fokus kalau bangunan megah berwarna putih itu adalah masjid. Menara ini ditempatkan di bagian bangunan yang strategis menghadap jalan utama.

Pernyertaan konsep hijau pada Masjid Cyberjaya ini diharapkan bisa menjadi model yang benar untuk membangun masa depan masjid di Malaysia. Tujuan atau maksud desain dari masjid ini bukan hanya untuk menghemat energi dan biaya operasional masjid, melainkan juga bisa memaksimalkan penggunaan bahan yang dapat didaur ulang dan akhirnya akan membantu melindungi lingkungan.

“Ini adalah kesempatan bagi kita untuk kembali melihat dan berpikir ulang desain masjid jangan sampai menjadi masalah lingkungan. Dari kesadaran ini sehingga arsitek lain mungkin di kemudian hari membangun dari pendekatan kami,” kata Ketua Pegawai Eksekutif Atsa Arsitek Azim A Aziz

Tujuan dari masjid ini tidak hanya tempat untuk shalat, tetapi juga bisa menunjang kebutuhan masyarakat setempat yang masih sesuai dengan syariat Islam, seperti festival dan upacara keagamaan. Seperti halnya masjid di Malaysia yang digunakan juga untuk acara-acara seperti akad nikah, kajian Islam, dan lainnya. (rmol)

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.