Mensyukuri Keberkahan Amal

Mensyukuri Keberkahan Amal

Gema, 04 Juli 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 20 Syawal 1439

Saudaraku, di samping penguasaan terhadap ilmu, kualitas iman yang menghunjam di sanubari seorang hamba juga sangat dipengaruhi oleh amal yang dilakukannya. Amal atau perbuatan yang baik disebut amal shalih, yang dengannya iman semakin kuat, sedangkan perbuatan yang buruk disebut amal salah yang dengannya iman semakin lemah. Oleh karenanya dalam kesempatan ini layak kita mengingat kembali tentang mensyukuri keberkahan amal shalih.

Amal shalih menjadi berkah bila dengannya dapat meningkatkan keimanan. Maka dalam Islam, amal shalih merupakan penanda utama bagi ketakwaan seseorang. Allah berfirman, Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di ssi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu (QS. Al-Hujuraat: 13). Di antara maksudnya orang bertakwa di sini adalah orang yang banyak amal shalihnya.

Di antara keberkahan amal shalih yang didasari oleh iman yang lurus di dunia ini adalah kehidupannya baik, selalu beruntung tidak mengalami kerugian, menjadi penguasa di bumi atau menjadi orang yang memiliki pengaruh, memiliki kedidukan mulia. Perolehan ini dapat dicermati pada firman Allah yang maknanya berikut ini.

Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS: Al-Nahl: 97)

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Qs. Al-‘Ashr 1-3)

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Qs. Al-Nur 55)

“Dan barang siapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia),”(QS: Thaha 75)

Adapun balasan di akhirat bagi orang-orang yang beramal shalih di antaranya dapat dicermati dalam firman Allah. Di antaranya, Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan yang beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. Al-Ma’idah 9)

Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera. Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji. (QS. Al-Hajj 23-24)

Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik. Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga ‘Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang mas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah; (QS. Al-Kahfi 30-31)

Oleh karena itu layak bagi kita untuk mengingat kembali tentang akhlak terhadap keberkahan amal shalih.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa keberkahan amal shalih merupakan modal dan model perilaku yang sangat menjanjikan bagi kebahagiaan hidup, baik di dunia ini maupun setelah wafat nantinya.

Kedua, bersyukur dengan memperbak mengucapkan alhamdulillahirabbil ‘alamin karena masih diberi kesempatan oleh Allah untuk terus beramal shalih. Ketika kemampuan beramal shalih disyukuri, maka Allah akan curahkan kemampuan yang bertambah-tambah untuk terus beramal shalih.. Ketika hidup dipenuhi dengan amal shalih, maka tidak ada baginya ruang dan waktu bagi niat beramal salah.

Ketiga, mensyukuri keberkahan amal shalih dengan perbuatan konkret, seperti berusaha mendawamkan amal shalih atau menjaga keajegan beramal shalih dalam hidup dan kehidupan ini. Di samping itu juga hal penting yang harus dilakukan yaitu menjaga pahala amal shalih dengan tidak menjadikannya riya dan ujub, apalagi sombong.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.