Mensyukuri Ayat Qauliah

Mensyukuri Ayat Qauliah

Gema, 05 Juli 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 21 Syawal 1439

Saudaraku, ayat dalam bahasa Arab juga bahasa Iberani dimaksudkan untuk makna “tanda” atau “keajaiban”, sekaligus merujuk pada firman Allah yang termaktub dalam mushaf al-Qur’an. Mengapa? Karena semua ayat dalam al-Qur’an merupakan tanda atau alamat yang dapat mengantarkan pembacanya sehingga sampai dan menemukan Allah swt sebagai Rabbnya. Di samping itu ayat dalam al-Qur’an merupakan mukjizat yang sarat dengan keajaiban yang tak ada tandingan dan bandingannya kapanpun, di manapun dan dari apapun juga.

Karena seluruh ayat dalam Al-Qur’an yang berjumlah sekitar 6.000 ayat itu difirmankan atau disabdakan secara langsung oleh Allah, maka kemudian lazim disebut sebagai ayat qauliah berupa kalamullah, sekaligus untuk membedakan ayat Allah yang dibentangkan yang kemudian dikenal dengan ayat kauniah, berupa alam semesta ini baik alam besar (alam kabir, makro kosmos, dunia seisinya) maupun alam kecil (alam shaghir, mikro kosmos, diri manusia).

Alam disebut sebagai ayat kauniah karena alam ini juga merupakan tanda atau keajaiban yang mengantarkan orang-orang yang mencerdasi atau mentadaburinya kepada Allah (makrifatullah).

Oleh karena itu dalam kesempatan ini kita akan mengulang kaji tentang ayat qauliah dan akhlak dalam mensyukurinya.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa ayat qauliah benar-benar disabdakan atau difirmankan oleh Allah swt kepada manusia melalui Nabi Muhammad saw kemudian diucaptirukan Nabi Muhammad saw kepada para sahabatnya. Dari sinilah ayat al-Qur’an, kemudian terus diucapkan, ditulis, dibaca, dan diamalkan oleh umat Islam.

Allah berfirman, dan Sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. dan Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar (tersebut) dalam Kitab-Kitab orang yang dahulu. Dan Apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa Para ulama Bani Israil mengetahuinya? dan kalau Al Quran itu Kami turunkan kepada salah seorang dari golongan bukan Arab, lalu ia membacakannya kepada mereka (orang-orang kafir); niscaya mereka tidak akan beriman kepadanya. Demikianlah Kami masukkan Al Quran ke dalam hati orang- orang yang durhaka. (Qs. Al-Syu’ara 192 – 200)

Kedua, mensyukuri ayat qauliah dengan memperbanyak mengucapkan alhamdulillahirabbil ‘alamin sehingga ayat qauliah ini dapat kita ulang baca terus menerus sampai benar-benar memperoleh Rabbnya.

Ketiga, mensyukuri ayat qauliah dengan tindakan yang nyata, dengan nembaca, membaca, dan membaca.

Aktivitas membaca tingkat pertama menunjukkan level dasar dan pada hal-hal yang konkret, tersurat dan lahiriah. Mlaktivitas membaca tingkat kedua menunjukan level menengah dan pada hal-hal yang abstrak, tersirat dan bathiah. Aktivitas membaca tingkat ketiga menunjukkan kevel tinggi dan hal-hal yang sarat hikmah dan kearifan.

Pembacaan kreatif atas ayat qauliah melahirkan ragam ilmu naqliah yang dapat secara langsung mendukung pembacanya pada Allah swt. Di antara ilmu turunan dari pembacaan kreatif atas ayat qauliah (Al-Qur’an Hadis), adalah ulumul qur’an, ulumul hadis, tafsir, fikih, akhlak tasawuf. Dalam wacana keilmuan, ilmu-ilmu ini termasuk ilmu-ilmu agama (ulumul diniyah).

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.