Semua Ingin menuju Allah

Semua Ingin menuju Allah

GEMA JUMAT, 6 JULI 2018

Semua manusia tidak bisa dipungkiri secara sadar atau tidak memiliki pandangan tersendiri tentang dunia (rukyah kauniyyah). Hasil dan kepercayaan yang dibangun dalam hidupnya pun tidak lepas dari bagaimana ia memandang terhadap dirinya, alam sekitarnya hingga pandangannya terhadap hari kemudian.

Ali bin Abi Thalib karimallahu wajhahu pernah mengatakan bahwa Allah mengasihani orang yang mengetahui dari mana ia datang, di mana ia hidup dan hendak kemana ia akan pergi. Maksudnya lebih kurang adalah penegasan agar manusia menggunakan potensi akalnya untuk berpikir tentang dirinya, darimana ia berasal? Apa sedang yang sedang ia lakukan di dunia ini? Untuk apa semua amalan itu? Adakah kehidupan lagi setelah kehidupan ini? Dan sejumlah pertanyaan-pertanyaan fitrah manusia lainnya.

Akal yang berpikir ini memiliki peran penting pada manusia, sebab itu merupakan satu-satunya pembeda manusia dengan hewan lainnya. Berpikir itu memiliki efek langsung terhadap cara hidupnya, kepercayaannya dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat. Seseorang yang mengenal Allah dengan benar, mengetahui sifat-sifatNya, tentu akan bersikap dan bertingkahlaku dengan benar. Begitu juga mengenal kenabian, malaikat hingga mengetahui hari kiamat. Sebab, berpikir lebih duluan dari bertindak. Kesalahan tindakan diawali oleh kesalahan berpikir. Karena itu jika ingin memperbaiki masyarakat tentu yang harus dilakukan adalah memperbaiki pola pikirnya.

Adanya perbedaan amal dan akidah antar sesama manusia sebenarnya terletak pada bedanya cara ia memandang dan memahami sesuatu. Perbedaan ini pada akhirnya terlihat pada terjadinya peperangan, perselisihan serta sejumlah bencana kemanusiaan lainnya. Akar dari perselisihan sesama muslim juga tidak terlepas dari bagaimana ia berpikir dan pada apa ia bersandar.

Tentu saja kita sebagai muslim semua bercita-cita ingin menuju Allah dan bertaqarrub kepadaNya. Namun karena cara pandang dan sandaran berpikirnya bermacam-macam maka lahirnya masyarakat atau kelompok yang bermacam-macam pula.

Ahli tasawuf misalnya menfokusnya hatinya untuk bertawajjuh kepada Allah melalui penyujian jiwa dari hijab dunia. Sedang para ulama kalam mempertahankan agama dari pemikiran yang rusak.   Namun semua mereka punya tujuan yang sama ingin menuju Tuhan dan bagaimana bisa lebih mendekatkan dirinya kepada Allah.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.