Mensyukuri Dahsyatnya Doa

Mensyukuri Dahsyatnya Doa

Gema, 08 Juli 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 24 Syawal 1439

Saudaraku, rasanya tidak ada seorangpun di antara kita di kalangan orang Islam atau bahkan manusia secara keseluruhan yang tidak butuh akan pertolongan Tuhan. Semua butuh, semua perlu dan semua menghajadkan Tuhan untuk disembah, dicintai, ditakuti dan ditaati titahNya. Malah dalam Islam hanya Allah sajalah satu-satunya Zat yang layak disembah, dicintai, ditakuti, dan diikuti titahNya. Kecintaan dan ketaatan kepada selainNya idealnya sangat bergantung dan hanya bermuara pada kecintaan dan ketaatan kepadaNya jua.

Kebutuhan manusia akan Rabbnya, di antaranya ditunjukkan dengan dipanjadkannya doa. Doa dipahami sebagai permohonan atau penyampaian harapan, permintaan, seruan, puji-pujian yang ditujukan kepada Allah. Bahkan sikap orang yang tidak pernah berdoa memohon kepada Allah, dinilai sebagai sikap keangkuhan dan kesombongan yang paling nyata. Karena doa bukan saja menunjukkan kelemahan dan kecilnya manusia di hadapan Allah, Tuhannya, tetapi justru sekaligus menjadi kekuatan yang maha dahsyat. Jadi berdoa yang dilakukan oleh seseorang itu justru menunjukkan kekuatan dan kehebatan dirinya sebagai wujud penghambaan pada Rabbnya.

Umat Islam lazimnya memanjadkan doa secara formal dan tidak formal. Permohonan secara formal dilakukan saat shalat, karena seluruh aktivitas, bacaan dan kaifiatnya mengandung doa pernohonan, puji-pujian dan harapan yang ditujukan kepada Allah swt. Sedangkan permohonan tidak formal dilakukan umat Islam dalam setiap aktivitasnya secara bebas kapan saja dan di mana saja. Misalnya saat akan dan bangun tidur, akan mandi, saat bercermin dan mengenakan baju, akan keluar atau masuk rumah, menaiki kendaraan, memulai dan mengakhiri suatu pekerjaan di tempat kerja, akan makan minum, keluar masuk kamar kecil dan seterusnya. Atau saat-saat kondisi yang relevan, berdoa bersama-sama, saat “beribadah” bersama suami atau istrinya, saat akikah, saat nikah, walimatul ‘ursy, walimah safar, buka usaha atau rumah baru, dan seterusnya.

Oleh karenanya sudah selayaknya kita mengembangkan akhlak mensyukuri kedahsyatan doa.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa doa bagi orang Islam merupakan senjata yang sangat dahsyat kekuatannya. Orang Islam yang jarang berdoa berarti ia telah menyia-nyiakan senjata yang dimilikinya, padahal sangat diperlukannya.

Kedua, mensyukuri kedahsyatan doa dengan memperbanyak ucapan alhamdulillahirabbil ‘alamin atas perkenan Allah terhadap permohonan yang senantiasa kita panjadkan ke haribaanNya. Seandainya ada permohonan yang belum dikabulkanNya, berarti Allah menginginkan kita lebih sering lagi nenyebut dan menohon kepadaNya. Dan pasti suatu saat cepat atau lambat, doa dan permohonan hamba dikabulkannya, atau digantinya dengan lainnya yang lebih maslahah bagi dirinya.

Ketiga, karena doa itu permohonan atau permintaan yang dapat disampaikan secara lisan tetapi juga melalui getaran atau bisikan dalam hati, maka cukuplah diri kita sendiri dan Allah sajalah yang mendengarnya. Artinya saat berdoa tidak dilakukan dengan teriak-teriak atau bersuara keras sehingga justru mengurangi kekhusyukannya. Kecuali untuk tujuan pengajaran, maka bacaan doa lazim dilakukan dengan jelas.

Allah menuntun kita di beberapa tempat dalam firnanNya. Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (Qs. al-A’raf 55)

Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, di waktu pagi dan petang, dan dengan tidak mengeraskan suara, dan jangalah kamu termasuk orang-orang yang lalai (QS.al-A’raf: 205).

Katakanlah: “Serulah (berdo’alah kepadaku) Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaa-ul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu, dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu” (Qs.Al-Isra’ 110)

Di samping itu, agar doa dan permohonan diijabah oleh Allah swt, kita juga harus sadar dan tahu diri, dengan senantiasa menjaga ketaatan kepadaNya, memelihara diri dari menggunakan fasilitas atau mengonsumsi makanan minunan yang makhruh apalagi haram serta tidak berlebihan.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.