Mensyukuri Indahnya Bersuci

Mensyukuri Indahnya Bersuci

Gema, 10 Juli 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 26 Syawal 1439

Saudaraku, sungguh menakjubkan ajaran Islam, di samping universal berlaku kapan saja, di mana saja dan untuk siapapun juga, tetapi juga komprehensif dimana materi ajarannya sempurna serba meliputi, mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Di antaranya ajaran tentang pentingnya bersuci atau thaharah. Di mana ada agama yang mengatur sejak mau masuk ke kamar kecil untuk buang air sampai bagaimana mensucikan diri dari kesalahan-kesalahan besar, kecuali Islam. Subhanallah, indahnya berislam.

Dalam hal thaharah atau bersuci pada umumnya dipahami sebagai upaya membersihkan diri dari kotoran, baik kotoran yang berwujud dan tampak maupun yang tak berwujud dan tidak kelihatan dengan menggunakan air dan atau tanah, sehingga tubuh dalam kondisi bersih dan suci dari hadas, najis, dan kotoran, agar nyaman dan sempurna sahnya ibadah.

Sesuai dengan kondisinya, mensucikan diri dilakukan dengan berwudhu ( dslam kondidi tertentu dengan tayamum) dan mandi. Dalam kondisi bersih dan suci atau memiliki air wudhu termasuk salah satu kontrol diri (selfcontrol) agar kita senantiasa dalam ketaatan pada Allah swt. Dari sinilah kita mengetahui mengapa Allah menyukai orang-orang yang mensucikan diri baik dari kotoran lahir maupun kotoran batin. Kotoran lahir dapat disucikan dengan thaharah, dan kotoran batin disucikan dengan taubat nasuha.

Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Qs Al-Baqarah 222).

Di ayat lain, Allah berpesan, Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah.” (Qs Al-Muddasir 4-5).

Diriwayatkan dari Sa’ad bin Al-Musayyib dari Rasulullah sa, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah swt itu suci yang menyukai hal-hal yang suci, Dia Mahabersih yang menyukai kebersihan, Dia Mahamulia yang menyukai kemuliaan, Dia Mahaindah yang menyukai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu. Dan jangan meniru orang-orang Yahudi.” (Hr. Tirmizi ).

Oleh karena itu kita seharusnya dapat terus mengembangkan sikap untuk mensyukuri indahnya bersuci, atau keberkahan selalu dalam kondisi suci.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa kecintaan Allah terhadap orang-orang yang mensucikan diri merupakan ajaran kemuliaan yang menginginkan hamba-hambaNya berada dalam kemaslahatan dan kebahagiaannya. Di antaranya dengan memelihara diri dari kekotoran lahir dan kekotoran batin.

Kedua, mensyukuri indahnya bersuci dengan memperbanyak melafalkan rasa syukur dengan mengucapkan alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Bila kesucian lahir saja sangat diapresiasi, apalagi upaya dan mempertahankan kesucian batin.

Ketiga, mensyukuri indahnya bersuci dengan tindakan konkret yaitu senantiasa memilhara diri dari kekotoran lahir dengan cara thaharah dan jekotaran batin drngan cara bertaubat.

Dalam praktiknya, kita selalu berusaha dalam keadaan suci atau memiliki air wudhu kapanpun dan di manapun, hatta dalam istirahatnya sekalipun. Bila kiita memiliki air wudhu, maka lisan, mulut, mata, hidung, tangan, akal pikiran di kepala, kaki dan seluruh anggota tubuh kita berada dalam ketaatan pada Allah sekaligus dapat terpelihara dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Rasanya mustahil tangan yang ada air wudhu digunakan untuk memukul orang lain atau untuk mengambil sesuatu yang bukan haknya, tidak mungkin mata dan telinga yang basah dengan air sembahyang digunakan untuk melihat atsu mendengarkan hal-hal yang tidak senonoh, kaki yang bersuci untuk melangkah pergi ke tempat maksiat. Inilah selfcontrol yang sangat praktis dan efektif.

Pastikan selalu punya wudhu. Insyaallah tidak sulit kita mulai dari diri sendiri dan sekarang. Usai mandi di pagi hari kita akhiri dengan mengambil air wudhu, lalu kita beraktivitas apa saja dalam kesucian diri

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.