Kampus dan Bayang-Bayang Materialisme

Kampus dan Bayang-Bayang Materialisme

GEMA JUMAT, 13 JULI 2018

Mater ial isme secara sederhana barangkali bisa dijelaskan bahwa ia adalah suatu paham dan pemikiran yang bertumpu pada kebendaan, panca indera dan pengujian (eksperimen). Kebenaran menurut mazhab materialisme ini adalah sesuatu yang bisa dijangkau oleh panca indera dan bisa diuji secara eksperimen.

Bahasan-bahasan non materi atau metafi sika yang biasa diangkat dalam pemikiran Islam seperti Allah, malaikat, ruh, jin, hari kiamat merupakan sesuatu yang kebenarannya tidak bisa dieksperimen. Indra manusia yang terdiri dari mendengar, melihat, meraba, mencium dan merasa tersebut tidak mampu menjangkau sesuatu yang non materi. Karenanya, kebenarankebenaran dalam bahasan gaib (non materi) akan diingkari oleh faham ini.

Faham yang muncul pada awal abad ketujuhbelas masehi dicetus oleh Francis Bacon ini sebenarnya ingin mengkritik pola pikir logika serta fi lsafat metafi sika Aristoteles yang dinilainya tidak bermanfaat. Walaupun puluhan buku kritikan dan bantahan atas faham materialis empiris Bacon ini sudah tersebar, namun pengaruh dan bayang-bayangnya tetap saja terasa hingga kini.

Dalam dunia Islam, dibawah pemikirpemikir muslim seperti Farabi dan Ibnu Sina pemikiran fi lsafat Yunani mencapai puncaknya dan mulai mebuka bahasanbahasan baru yang sebelumnya tidak dibahas. Sebelumnya menjelaskan hal-hal metafi sika seperti membuktikan tuhan, Yunani terutama Aristoteles membuktikannya melalui gerak fi sika. Namun ketika ia masuk ke dunia Islam pembuktian sesuatu yang metafi sika bisa dilakukan dengan akal, seperti bahasan wajibul wujud dan mumkinul wujud.

Pada kajian tentang manusia misalnya, para fi lsuf muslim bisa berargumentasi secara logis bahwa manusia ini terdiri dari jasmani dan rohani. Unsur rohani pada mansuia ini tidak bisa dijangkau oleh indera dan tidak bisa diekperimen, namun akal manusia dengan dalil-dalil yang kuat bisa membuktikannya. Pada tahap berikutnya ketika keberadaan rohani atau jiwa ini bisa dibuktikan, maka kajian akan meluas pada cara-cara untuk menyempurnakan jiwa tersebut.

Maksudnya, kita yang memiliki unsur materi dan nonmateri tidak mungkin mengikuti pola-pola atau paham yang hanya menitikberatkan pada kebutuhan tubuh semata, tanpa menghiraukan kebutuhan jiwa. Paham yang menitikberatkan pada materi dan inderawi inilah yang diimani oleh Francis Bacon dan pengikut-pengikutnya.

Padahal Islam menekankan bahwa esensi dari manusia adalah ruhnya. Semua amalamal kebaikan yang dianjurkan akal dan syariat menitikberatkan pada penyempurnaan ruh. Hal itu dikarenakan bahwa ruh manusia mengetahui hal-hal yang dapat mengantarkannya menuju sempurna, namun ia tidak bisa bekerja tanpa bantuan badan. Seperti shalat dan puasa misalnya, jiwa mengetahui diantara cara menuju kamal adalah dengan shalat dan berpuasa. Namun ia tidak bisa melakukannya tanpa bantuan anggota tubuh.

Sadar atau tidak, praktek-praktek yang mengandalkan asas manfaat bagi tubuh dan materi ini sebenarnya terjadi juga di masyarakat kita. Faham yang ratusan tahun hidup dan berkembang di eropa ini barangkali sudah menguasai hampir semua sendi kehidupan kita, termasuk lembaga-lembaga pendidikan seperti kampus.

Mungkin diantara bayang-bayang materialime yang melanda kampus adalah meningkatnya jumlah peminat pada prodi-prodi yang bisa ‘menjamin’ materi pada masa depan. Program studi yang menitikberatkan pada bahasan-bahasan logika dan metafi sika yang nonmateri seperti Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, jumlah peminatnya justru sangat minim.

Diantara kita juga sering latah bertanya, misalnya, apa kerja yang akan kamu peroleh ke depan bila kuliah di bagian itu? Seolah-olah, seorang alumni yang mempunyai logika, akidah dan fi lsafatnya kuat akan dianggap gagal bila tidak mendapatkan pekerjaan yang sesuai dan baik. M syukur Hasbi

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.