UIN Ar Raniry akan Gandeng Dayah

UIN Ar Raniry akan Gandeng Dayah

Gema Jumat, adisi 13 Juli 2018
Dengan adanya pimpinan baru di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry Banda Aceh, sejumlah program-program baru juga terus diwacanakan. Diantara program baru yang direncanakan itu adalah upaya menggandeng kurikulum pendidikan dayah pada kampus kebanggaan masyarakat Aceh tersebut.
Hal itu disampaikan Rektor UIN Ar- Raniry, Prof Dr H Warul Walidin AK MA kepada Gema Baiturrahman di rung kerjanya, Kamis (12/7) usai mengikuti Muktamar Bahasa Arab Asia Tenggara II yang digelar di gedung Biro Rektorat kampus tersebut.
“Kita ketahui bagaimana pendidikan dayah itu sangat memberi penekanan pada akhlak, takzim kepada guru serta pendalaman ilmu agama yang bagus. Oleh karena itu kita berencana bekerjasama dan menggandeng mereka untuk ikut berkontribusi di UIN kita ini,” ujarnya.
Salah satu bentuk kerjasamanya adalah dengan menghadirkan ulama-ulama besar dayah di Aceh yang selama ini mengajar di dayah-dayah untuk ikut mengajar juga di UIN Ar-Raniry. “Kita akan mengundang ulama-ulama kita untuk mengajarkan kitab-kitab yang selama ini diajarkan di dayah-dayah seperti kitab Mahalli, Tufah dan lainnya,” terang Warul.
Guru Besar yang baru seminggu dilantik sebagai Rektor UIN Ar-Raniry ini juga menjelelaskan sejumlah program baru yang akan diupayakan selama ia memimpin kampus tersebut. Program-program tersebut terhimpun dalam motto “Keislaman, Keacehan, Keindonesiaan dan Keuniversalan”. Dengan demikian, terang Warul, semua aktifitas pendidikan dan keilmuan akan dibangun dengan semangat prinsip motto tersebut.
“Pendidikan kita ini unik, penuh tantangan, antraktif dan mulia. Unik karena spektrumnya luas, tertantang karena ini berkaitan dengan hajat orang banyak, antraktif karena semua perlu peduli dan bersumbangsih. Dan terakhir mulia karena pendidikan ini merupakan inti dari peradaban,” jelasnya.
Pada bagian lain, mantan Rektor UIN Ar Raniry (saat itu masih berstatus IAIN), Prof Drs H Yusny Saby MA PhD mengakui adanya perkembangan signifikan di kampus sejak adanya perubahan status dari IAIN menjadi UIN. “Dari segi status, akademis dan gengsi perguruan tinggi sudah terlihat berkembang,” kata mantan Rektor IAIN Ar-Raniry, Prof Drs Yusni Saby P.hD
Selain bertambahnya fakultas dan prodi-prodi keilmuan, kata dia, jumlah mahasiswa, pegawai, dosen dan karyawan dengan sendirinya juga ikut bertambah. Namun yang masih perlu diupayakan adalah bertambahnya guru besar. “Dosen bertambah, pegawai juga, yang tidak bertambah guru besar. Sangat sedikit sekali guru besar kita, sekitar 20 orang belum lagi ada yang sudah pensiun,” terang dia.
Karena itu, hal yang paling penting adalah fokus pada peningkatan akademis berupa program-program ilmiah seperti peluncuran buku, penulisan karya-karya ilmiah, seminar dan lainnya yang bisa memberikan kontribusi nyata ke Aceh dan Indonesia pada umumnya.
Diterangkan dia, semua pihak baik dosen, pegawai, karyawan, mahasiswa hingga alumni perlu bersama-sama memberikan pikiran dan masukan untuk kemajuan kampus. “Jangan tanyakan apa yang telah kampus berikan untuk kita, tapi tanyakan apa yang bisa kita berikan untuk kampus kita ini. Jadi semua pihak perlu bersinergi,” terangnya.
Ia juga mengucapkan selamat atas dilantiknya rektor baru Prof Dr H Warul Walidin AK MA dan terima kasih kepada rektor lama Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim MA yang telah bekerja dan berbuat untuk kampus. “ Semuanya harus bersinergi untuk meningkatkan kualitas akademis yang lebih baik. Disamping program-program baru, program rektor sebelumnya yang bagus juga perlu dilanjutkan,” kata Yusni.
Prodi Pemikiran Islam minim Peminat
Prof Yusny Saby juga mengingatkan pentingkan mengutamakan ilmu-ilmu pemikiran Islam seperti program studi ushuluddin dan filsafat bagi mahasiswa sebagai benteng dalam berakidah dan berpikir. “Ada puluhan prodi di UIN, ada prodi yang jumlah mahasiswanya banyak dan ada prodi yang jumlah peminatnya kurang seperti prodi pemikiran islam, akidah dan filsafat. Padahal itu sangat dibutuhkan dan inti dari UIN adalah ushuluddin dan filsafat,” ujar dia.
Ia juga mengingat pesan yang pernah disampaikan Prof Dr Ibrahim Hasan saat masih menjabat sebagai gubernur Aceh sebelumnya bahwa kampus-kampus Islam perlu membuka dan menghidupkan jurusan akidah, pemikiran dan filsafat. Hal itu mengingat pentingnya penguatan akidah dan pemikiran bagi mahasiswa serta bagian dari hajat hidup orang banyak.
Terkait hal itu, Guru Besar Ilmu Filsafat Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Dr H Syamsul Rijal M. Ag mengatakan UIN kedepan sejatinya bisa mengahasilkan sarjana dan intelektual cerdas yang dapat merespon problematika sosio-religi.
“Merespon dinamika kehidupan terkini itu menjadi penting sehingga komunitas dapat mnemukan solusi kehidupan di saat mereka dihadapkan dengan masalah temporer yang memerlukan jawaban teologis,” jelas Syamsul.
Dijelaskan dia, intelektual yang mampu merespon sosiso-religi itu ialah mereka yang berbasis pada akidah dan falsafah. Sementara program study lainnya itu kebanyakan berbentuk aplikatif seperti Fakultas Tarbiyah yang hadir untuk menjadi guru.
“Sementara Ushuluddin dan Filsafat jika tdk menjadi akademisi, ya mencari opsi tersendiri namun mereka tetap eksis di masyarakat. Harus ada perubahan paradigma serta design kurikulum agar transformatif dengan keadaan terkini. Itu yang semestinya dilakukan, termasuk mendorong alumni dan asosiasinya untuk lebih responsif dengan realitas sosial keagamaan yang berkembang,” demikian terang Syamsul Rijal. (M Syukur)

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.