Mensyukuri Musyawarah

Mensyukuri Musyawarah

Gema, 14 Juli 2018

Oleh Dr. Sri Suyanta (Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 1 Zulkaidah 1439

Saudaraku, untuk memelihara keharmonisan hubungan antarsesama seperti hubungan pertemanan, perkongsian, kekerabatan, kekeluargaan, suami istri, di antaranya sangat diperlukan sikap saling menghormati, menyayangi, toleransi atau tasamuh dan saling tolong menolong.

Namun demikian karena setiap manusia memiliki karakteristik, keinginan dan tujuan yang berbeda-beda, maka ketika itu bersinggungan dengan kepentingan orang lain, maka diperlukanlah kesepakatan antara dua belah pihak atau lebih. Kesepakatan bisa muncul bila masing-masing orang mengutarakan pendapatnya dan berunding untuk mencari titik temu. Berunding dalam Islam dikenal dengan musyawarah.

Dengan demikian, musyawarah dipahami sebagai sarana “berunding” dan “berembuk”, yang dilakukan oleh dua orang atau lebih bersama antara dua orang atau untuk mendapatkan keputusan yang terbaik.

Allah berpesan, maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. Qs. Ali Imran 159

Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (Qs. Al-Syura 38)

Oleh karena itu sudah seharusnya kita mengembangkan akhlak mensyukuri musyawarah.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa janji Allah adalah benar. Maka bagi orang yang selalu menetapkan putusan bersama dengan rapat atau musyawarah, akan mudah merealisasikan cita-cinta muliaNya.

Kedua, mensyukuri dengan memperbanyak ucapan alhamdulillahi rabbil ‘alamiin, dengan musyawarah terwujud perdamaian yang abadi dan kemajuan yang berkeadaban.

Ketiga, mensyukuri musyawarah dengan perilaku nyata, seperti menyampaikan ide dan gagasannya dengan santun sampai benar-benar disepakati hasilnya. Di samping itu juga wajib mengembangkan sikap mau menerima pendapat berbeda dari orang lain untuk dicari titik temunya, memberi kesempatan sama dan mendengarkan saat orang lain berbicara dan tidak menginterupsi atau menyelainya.

Ketika musyawarah berhasil menyepakati suatu urusan, maka seluruh peserta dan yang terkait dengannya menjadi terikat dengan hasil yang telah dicapai. Artinya harus menaatinya selama masih dalam ketaatannya pada Allah ta’ala.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.