Mensyukuri Larangan

Mensyukuri Larangan

Oleh Dr. Sri Suyanta (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 9 Zulkaidah 1439

Saudaraku, untuk kebahagiaan manusia baik di dunia maupun di akhirat, di samping terdapat tuntutan untuk melakukan sesuatu, Allah juga menuntun manusia untuk menghindari sesuatu. Tuntutan untuk menghindari sesuatu dengan tegas disebut haram dan tuntutan menghindari sesuatu dengan longgar disebut makruh. Terhadap segala hal yang haram dan makruh mestinya dihindari, karena dua-duanya tidak disenangi ketika dilakukan.

Dalam penghindaran untuk melakukan sesuatu terdapat hikmah dan demi kemaslahatan manusia. Hikmah dan kemaslahatan ini terpatri pada tujuan pensyariatan yang termanifestasikan dalam setiap larangan.

Sebagai contoh larangan berkata kasar (Qs. Ali Imran 159), atau berlaku sombong dan arogan (Qs Al A’raaf 13), atau mengejek orang lain (Qs. Al-Hujuraat 11), atau mengeluarkan kata yang tidak sopan terhadap orang tua (Qs. Al Israa’ 23), bertujuan untuk memelihara harmonisasi hubungan terhadap sesama.

Begitu juga larangan memasuki kamar pribadi orang tua tanpa ijin (Qs An-Nuur 58), mengikuti orang secara membabi buta (QS Al-Baqarah 170), makan riba’/membungakan uang (QS Al Baqarah 275), melakukan penyuapan (QS Al Baqarah 188), mengingkari atau melanggar janji (Qs. Al Baqarah 177), memakan harta para anak yatim (QS An Nisaa’ 10), memata-matai atau memfitnah orang (QS Al Baqarah 283).

Adapun larangan melakukan kerusakan di muka bumi (QS Al Baqarah 60) agar kelestariaannya dapat terjaga dan dinikmati seluas-luasnya bagi manusia antar generasi.

Sementara itu untuk memelihara kualitas diri dan keturunan, manusia dilarang melakukan hubungan badan saat haid (Qs Al-Baqarah 222), melakukan hubungan badan di luar nikah (QS Al Isra 32) menikahi mereka yang sedarah denganmu (QS An Nisaa’ : 23), membunuh anak-anakmu karena takut akan kemiskinan (QS Al Israa’ 31, melakukan homoseksual (QS Al ‘Ankabuut 29) dan seterusnya dan seterusnya.

Dan masih banyak rambu-rambu yang harus dipatuhi agar manusia dalam kebaikan dan kebahagiaan baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Karena kesemua larangan yang dititahkan Allah itu demi kemaslahatan manusia, maka kita layak mensyukurinya.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa larangan Allah ketika dipatuhi dengan cara dijauhi, maka akan menyelamatkan kehidupan, membawa rasa bahagia membahagiakan, sejahtera mesejahterakan, damai mendamaikan dan seterusnya.

Kedua, mensyukuri larangan Allah dengan memperbanyak mengucapkan alhamdulillahirabbil ‘alamin agar Allah memberi hidayah dan kekuatan kepada kita untuk bisa memahami sekaligus menjauhinya.

Ketiga, mensyukuri adanya titah larangan dengan tindakan nyata yaitu berusaha menjauhinya semaksimal mungkin.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.