TAUHID DAN TAWAKKAL

TAUHID DAN TAWAKKAL

GEMA JUMAT, 27 JULI 2018

Prof. Dr. Tgk. H. Azman Ismail, MA (Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman)

Surat al-Anam ayat 79

“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.(Allah)”.

Ayat ini dikenal sebagai ucapan penyerahan diri Ibrahim kepada Allah setelah sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah sebagai Dzat yang menciptakan semua langit dan bumi serta isinya. Inilah pernyataan yang diabadikan di dalam al-Qur’an dan menjadi sebagian dari doa iftitah saat kita melaksanakan shalat.

Ada tiga konklusi dalam penyerahan diri Ibrahim jika kita melihat dari ucapan beliau sebagaimana yang tertulis di ayat di atas. Pertama; adalah adanya pengakuan terhadap Sang Maha Pencipta. Itulah sebenarnya fitrah manusia. Selalu mencari kebenaran terhadap segala penciptaan semesta. Sebagian manusia sampai kepada kesimpulan yang sebenarnya, yaitu mengakui Allah sebagai Pencipta. Namun, sebagian yang lain tidak sampai karena disesatkan oleh Iblis dan syaitan dalam pencapaian tersebut. Banyak kita lihat agama-agama ardhi yang menyembah patung, kayu besar, batu besar, gunung dan berbagai dewa yang disematkan karena kekuatan alam yang dianggap mewakilinya. Demikian juga terdapat orang-orang yang terjerumus pada keangkuhan diri, setelah melihat bahwa kemajuan teknologi melebihi apapun dalam pandangannya di dunia ini. mereka memuja teknologi dan akhirnya menjadi atheis dan menganggap agama sebagai sesuatu yang kolot, tidak diperlukan di era modern. Na’udzubillahi min dzalik.

Kedua; adalah adanya kecenderungan untuk selalu dalam agama yang benar. Agama yang benar itu  adalah benar dalam memikirkan Tuhan, benar dalam beribadah, benar dalam i’tikad, benar dalam tidak tanduk dan tunduk kepada hukum syariat yang telah diturunkan oleh Allah. Banyak tindak tanduk yang tidak lurus dan tidak benar tapi mengatasnamakan agama, hal tersebut kita lihat dari cara berpikir, cara bertindak dan hasil yang dicapai dengan mengatasnamakan agama tersebut. Manusia yang beragama dengan benar, tidak akan melakukan hal-hal yang membuat agama yang dianutnya menjadi tidak benar. Ada hal-hal yang prinsipil antara orang beragama dengan agama tersebut. Jadi tidaklah semua muslim – misalnya- mencerminkan keislaman yang sejati, dan merupakan kesalahan apabila menyatakan bila ada oknum muslim yang melakukan terror  (tergantung perspektif), adalah mewakili Islam secara keseluruhan.

Ketiga, menjauhi kemusyrikan. Ini adalah antitesis dari keimanan. Jika telah beriman maka berarti tidak musyrik. Dan kemusyrikan ini adalah yang merusak keimanan. Allah menyatakan bahwa semua dosa akan diampuni oleh Allah, kecuali kesyirikan. Kesyirikan tidak akan diampuni dan neraka adalah tempat yang layak. Oleh karena itu taubat dan istighfar mutlak diperlukan untuk menunjukkan bahwa kita sering tanpa sadar berbuat dosa bahkan ada unsur kesyirikan dalam prilaku kita. Akhirnya, Islam sebagaimana arti dari kata penyusunnya adalah berarti ‘keselamatan’ atau ‘kedamaian’. Islam bisa diterima karena prinsipnya yang benar. Wallahu a’lam bishawaab.

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.