Catatan Perjalanan Muslim Jepang Sangat Peduli Pendidikan Anaknya

Catatan Perjalanan Muslim Jepang Sangat Peduli Pendidikan Anaknya

GEMA JUMAT, 3 AGUSTUS 2018

 

Oleh : Dr. dr. H. Mohd Andalas (Pengurus Forsimas Aceh) melaporkan dari Tokyo Jepang,

Jepang sebuah negara kepulauan di Asia Timur dengan jumlah penduduk 127 juta jiwa atau setengah jumlah penduduk Indonesia, mayoritas warganya penganut agama Shinto, selebihnya Budha dan Kristen.  Secara umum, masyarakat muslim di Jepang dari sisi jumlah memang masih minoritas namun akhir-akhir ini agak meningkat bila dibandingkan puluhan tahun silam. Fenomena ini mungkin disebabkan oleh berbagai faktor, seperti lapangan pekerjaan yang semakin  terbuka sehingga angka migrasi pekerja dari warga muslim dari berbagai negara ke Jepang makin meningkat. Juga terjadinya perkawinan  warga Jepang dengan warga muslim, di samping banyak warga Jepang terpelajar yang masuk agama Islam dengan kesadaran sendiri.

Tulisan ini terinspirasi saat  saya berkunjung ke Tokyo untuk mengikuti sebuah seminar kesehatan. Dalam perjalanan menuju shalat jumat Minggu lalu 27 Juli 2018, saya bertemu dengan ibu Yetty Dalimi  seorang wanita muslim campuran Melayu – Minang yang juga menjadi kepala sebuah sekolah  layaknya sebuah yayasan yang diberi nama YUAI Internasional Islamic School.

Selesai shalat  di Mesjid Tokyo – Camii  yang bagi warga Tokyo lebih dikenal dengan  Turkish Culture, saya menuju gedung sekolah tersebut yang berjarak sekitar 50 meter sebelah kiri mesjid, yang secara topografi masuk wilayah  Shubuya. Bangunan sekolah tidak terlalu besar, namun tampak bersih,  berlantai tiga, di mana lantai tiga inilah dijadikan sebagai ruang aula. Saat  saya berkunjung, kebetulan bertepatan dengan hari penutupan program Summer School bagi pelajar /siswa muslim yang bersekolah di luar YUAI Islamic School.  Program Summer ini merupakan kursus singkat mengisi liburan musim panas (summer) di Jepang bagi anak-anak berbagai negara yang rutin dilakukan setiap tahun.

Menurut dari info Yetty Dalimi yang juga alumnus Ilmu Pendidikan Islam dari Universitas Islam Kuala lumpur yang didampingi bu Nunik salah seorang staf guru,  respon masyarakat terhadap kursus singkat terkait Islam, mulai belajar mengaji, sejarah Islam dan berbagai keterampilan lainnya cukup mendapat respon dan sangat dibutuhkan bagi anak dan remaja muslim. Para orang tua anak didik sangat bersemangat  dengan program ini, terlihat dari wajah mereka yang hadir pada hari penutupan.

YUAI Islamic Internasional School ini dicetuskan para wanita Islam yang menikah dengan warga Jepang dari berbagai bangsa.  “Nama YUAI itu sendiri  adalah sebuah kata dari bahasa Jepang bukan sebuah singkatan,”  ujar Yetty. Menurutnya, sekolah ini sudah berjalan dua tahun dengan jumlah murid 70 orang dari tingkat dasar sampai tingkat SLTP, dan diharapkan tahun depan sudah masuk murid setingkat SMA. Sekolah ini sendiri mengadopsi kurikulum Cambridge dan setelah dua tahun proses pendidikan  dan mempunyai  jumlah seratus siwa baru dapat memenuhi syarat untuk diakreditasi.

Saat ini sekolah YUAI Islamic School mempunyai 7 guru dari berbagai negara seperti Indonesia, Malaysia,  Mesir dan Jepang. Untuk operasional sekolah, saat ini masih disubsidi dari kelompok pendiri, sebagian dari biaya siswa sebab tidak semua siswa mampu membayar.

Suasana yang terlihat bahwa para keluarga muslim di Jepang khususnya Tokyo mulai mendambakan anak-anak mereka dibekali pendidikan umum yang baik ditambah sentuhan yang islami sehingga mereka kelak menjadi seorang warga muslim yang disiplin dan taat beragama.

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.