Membudayakan Kebenaran

Membudayakan Kebenaran

GEMA JUMAT, 3 AGUSTUS 2018

Oleh: Sayed Muhammad Husen

Bukan hal baru kalau hampir semua pihak mengklaim bahwa dirinya berada pada sisi kebenaran. Dari itu bukan mustahil pula akan lahirnya potensi konflik ketika satu sama lain mengklaim kebenaran miliknya dengan cara menyalahkan pihak lain. Karena umumnya persoalan itu sehingga ada yang mengatakan bahwa kebenaran itu bukan satu, tapi bermacam-macam. Namun disisi lain ada juga yang beranggapan bahwa kebenaran itu adalah satu namun jalan menuju ka arah itu bermacam-macam, seperti istilah banyak jalan menuju roma.

Bila dikaji secara lebih mendalam, kebenaran itu sebenarnya sesuatu yang universal. Ia bukan milik pihak tertentu. Kebenaran ada pada dirinya sendiri. Hal ini terutama berkenaan dengan hal-hal yang keberadaannya tanpa usaha manusia. Yaitu hal-hal yang berkenaan dengan Ketuhanan (ilahiyat), ilmu pasti seperti matematika, handasah, ilmu alam seperti fisika, kimia dan seterusnya yang kebenarannya tanpa campur tangan kita.

Beberapa contoh dibawah ini barangkali bisa memudahkan kita dalam memahami kebenaran.  Tuhan adalah wajibul wujud yang satu.  Segala materi memiliki dimensi panjang, lebar, tempat dan waktu. Sekecil apapun ukuran materi tersebut, ia tetaplah materi dan tidak mungkin berubah menjadi non-materi. Satu ditambah satu hasilnya dua. Tolok ukur kebenaran diatas adalah logika yang berujung pada kemustahilan kontradiksi.

Ini berbeda dengan urusan amalan syariat dan amalan-amalan yang dianjurkan dalam agama kita. Kebenaran yang ada pada syariat itu terletak pada pembuat syariat itu sendiri, yaitu Allah taala. Kita mengetahuinya melalui nas-nas agama dari al-Quran dan al-Hadist yang sampai kepada kita. Apalagi dalam amalan syariat tidak diharuskan kita menggunakan riwayat-riwayat yang mutawatir semua.

Hal yang ingin disampaikan disini adalah perdebatan atau saling klaim kebenaran harus ada jalan tengah. Sebab bila saling klaim itu diperuncing dikhawatirkan terjadinya konflik. Jalan tengah yang dimaksud adalah tata cara berpikir benar sebagai timbangan (mizan) untuk menentukan benar salah. Timbangan itu tidak lain adalah akal yang sudah disusun secara tepat dan logis dalam ilmu logika. Selain adat dan seni yang perlu dikembangkan, penggunaan akal sehat sebagaimana diajarkan dalam ilmu mantiq juga perlu dibudayakan.

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.