Iman Menundukkan Hawa Nafsu

Iman Menundukkan Hawa Nafsu

GEMA JUMAT, 10 AGUSTUS 2018

Banda Aceh (Gema) – Nikmat yang paling besar diberikan Allah kepada manusia sebagai hamba-Nya yang muslim adalah nikmat iman yang melebihi kenikmatan lainnya dalam bentuk apapun. Dengan iman dan hidayah tersebut, seseorang memiliki tuntunan dan tujuan hidup yang jelas baik ketika di dunia maupun di akhirat kelak.

Maka setelah seorang muslim tahu bahwa iman merupakan sesuatu yang penting dan berharga, maka ia wajib memberi perhatian dan perawatan lebih kepada iman ini, selalu menjaga hal-hal yang mengurangi iman dan memacu agar iman ini selalu naik. Dan yang sangat penting ialah merawat supaya iman tidak hilang dalam dirinya, seseorang akan menjadikan masalah iman ini sebagai prioritas utama dalam hidupnya.

Namun demikian, kebanyakan dari umat Islam saat ini mengalami masalah untuk bisa merasakan nikmatnya keimanan, lezatnya ketaatan, khusyuknya beribadah dan manisnya amal kebajikan karena menganggap iman itu bukan suatu nikmat terbesar.

Demikian antara lain disampaikan Ustaz Dr. HA Mufakhir Muhammad MA (Dosen Ilmu Alquran dan Tafsir Pascasarjana UIN Ar-Raniry), saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak Jeulingke, Rabu (8/8) malam.

“Umumnya, sebagian besar kita umat Islam hari ini ketika melihat nikmat itu adalah kemudahan rezeki berupa harta kekayaan, jabatan/kekuasaan yang dimiliki dan kesehatan yang baik serta kemudahan hidup lainnya, tapi tidak menganggap iman itu sebagai nikmat terbesar sehingga tidak berupaya menjaganya bahkan meningkatkanya dalam bentuk ketaatan pada Allah,” ujar Ustaz Mufakhir Muhammad.

Wakil Ketua DPW Al-Washliyah Aceh ini menyebutkan, untuk bisa merasakan nikmat keimanan dan keislaman, itu harus benar-benar bisa merasuk ke hati, menyatu dengan jiwa, dan mewujudkan dalam rasa cinta dan ridha kepada Allah.

Agar bisa merasakan nikmatnya amal saleh dan khusyuknya ibadah, kita memang harus beragama setotal mungkin. Dan syarat mutlaknya adalah, hawa nafsu harus mampu ditundukkan dan dikendalikan.

‎”Karena selama masih ada hawa nafsu tertentu yang secara permanen atau hampir permanen selalu diperturutkan dan tidak dikendalikan, selama itu pula sikap malas-malasan akan selalu menyertai pelaksanaan setiap amal saleh dan penunaian setiap ibadah. Karena umumnya ketaatan itu memang masih disikapi sebagai beban berat yang harus ditanggung dan dilepaskan, dan belum dirasakan sebagai kebutuhan hidup yang dirindukan rasa nikmatnya iman,” terangnya.

Disebutkannya, nikmat iman itu tidak berbanding lurus dengan rezeki yang didapatkan. Rezeki tidak akan memengaruhi iman, apakah kurang atau banyak bagi orang yang sudah merasakan nikmatnya iman.

“Jangan karena harta dan kekuasaan menghalangi ketaatan dan ibadah kita kepada Allah‎. Ketika masih hidup susah kita berupaya taat‎ pada Allah‎. Tapi ketika Allah merubah sedikit hidup kita dengan kekayaan atau jabatan, menjadi berkurang pula ketaatan pada-Nya,” sebutnya.

Ustaz ‎Mufakhir juga menyentil ada orang-orang yang ketika ada sedikit jabatan menjadi berkurang ketaatannya. Seperti ada pejabat yang terlihat jarang shalat berjamaah di masjid atau mushalla kantor, sehingga ia tidak bisa ‎menjadi contoh ketaatan dan keteladanan‎ bagi bawahannya.

“Orang beriman itu menikmati keimanannya dengan selalu menjaga ketaatan pada Allah dalam kondisi apapun. ‎Nabi Sulaiman dan Nabi Daud AS menikmati keimanannya dengan kekayaan dan kerajaan yang dimiliki.‎ Begitu juga dengan Nabi Aiyub menikmati keimanannya dengan penyakit dan hilangnya harta.‎ Tidak putus asa ketika harta berkurang‎, tidak berputus asa ketika sakit‎‎ berat. Tapi tetap menjaga ketaatan kepada Allah yang tidak pernah luntur,” katanya.

Hal itu sesuai dengan firman Allah dalam Alquran Surat Ar-Ra’d Ayat 26 yang artinya, “Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit)”.

Ustaz Mufakhir juga menyampaikan, untuk bisa merasakan nikmat iman itu juga harus digugah oleh dirinya sendiri, dengan meneladani orang-orang yang bisa konsisten menjaga ketaatan.

“Kita harus bisa tergugah misalnya ketika melihat orang lain kenapa bisa rutin shalat subuh berjamaah di masjid tiap hari. Kita harus bisa meneladaninya, kenapa orang lain bisa kita tidak. Karena salah satu penyebab kesemrawutan dalam hidup, adalah orang-orang yang meninggalkan shalat subuh,” ujarnya.

Menggugah iman yang pasang surut juga bisa dengan memperbanyak istighfar dan mengingat Allah. “Iman bisa kita perbaharui dengan mengingat nama-nama Allah atau istighfar. Istighfar bukan masalah dosa, tapi sebuah pengakuan akan kelemahan kita kepada Allah,” pungkasnya. Smh/Rel

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.