Umar Bin Khattab Suri Tauladan Pemimpin Zaman Kini

Umar Bin Khattab Suri Tauladan Pemimpin Zaman Kini

GEMA JUMAT, 10 AGUSTUS 2018

Oleh: Dr. Murni, S.Pd,I, M.Pd

Dosen Prodi MPI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan

UIN Ar-Araniry BandaAceh                                                                                                                                                                      

Umar bin Khattab bin Nafiel bin Abdul Uzza atau lebih dikenal dengan Umar bin Khattab  dilahirkan di kota Mekkah  tahun 581 M dan  wafat  644 M. Berasal dari suku Bani Adi, salah satu rumpun suku Quraisy, suku terbesar di kota Mekkah saat itu. Nama Umar Bin Khattab sudah sangat populer bagi umat muslim di seluruh dunia. Ia adalah pemimpin yang dikenang sepanjag masa, karena ketegasannya dalam menegakkan agama Allah. Apabila dilihat dari sisi unggulnya khalifah Umar bin Khattab yang mampu memadukan dengan serasi antara kekerasan dan kelembutan, ketegasan dalam menegakkan kebenaran dan kelembutannya dalam tali persaudaraan Islam. Maka, sudah selayaknya kita belajar pada sosok sahabat Rasulullah yang satu ini, apalagi Umar bin Khattab telah dikabarkan oleh Nabi Muhammad akan masuk ke dalam Surga. Bahkan istana megah di Surga telah dibangun untuknya. Rasulullah saw bersabda: “Aku masuk Jannah, dan aku mendapati ada istana dari emas, lalu aku bertanya, “Milik siapakah istana ini?” Dijawab, “Ini milik seorang pemuda dari Quraisy.” Saya mengira itu adalah istana untukku, lalu saya bertanya, “Siapakah pemuda itu?” Dijawab, “Umar bin Khattab”. (HR Tirmidzi dan Ahmad).

Keteladanan Umar

Ada empat point penting yang layak jadikan panutan bagi pemimpin zaman kini diantaranya: Pertama, pemimpin pemberani. Keberanian Umar memang sudah dikenal sejak ia belum masuk Islam. Maka, pada saat beliau memeluk agama Islam keberaniannya digunakan untuk membela Rasulullah yang selalu mendapat intimidasi dari orang-orang Quraisy. Keberanian Umar ditunjukan ketika beliau dan kaum muslimin ingin hijrah dari Mekkah ke Madinah. Saat itu semua umat muslim hijrah dengan sembunyi-sembunyi. Tetapi Umar tidak melakukannya dengan sembunyi-sembunyi beliau pada saat ketika itu menemui para pemuka Quraisy sambil berkata: “Barang siapa yang ingin diratapi ibunya, ingin anaknya menjadi yatim atau istri menjadi janda. Coba saja mencegahku! Temui aku di balik lembah itu!”

Setelah Umar berkata seperti itu, tiada seorang pun kaum Quraisy yang berani menghadangnya untuk hijrah ke Madinah.

Kedua, pemimpin yang tanggung jawab dan adil. Khalifah Umar Bin Khattab selalu berjalan keliling kampung untuk mengetahui kondisi rakyatnya. Umar bukanlah sosok pemimpin yang hanya berdiam diri dan hanya menunggu laporan. Umar sosok yang selalu ingin tahu keadaan rakyatnya. Suatu hari Umar sedang berkeliling dengan sahabatnya yang bernama Aslam. Lalu, tiba-tiba mereka mendengar suara tangisan anak kecil. Umar dan Aslam pun mencari suara tersebut, hingga berhenti di sebuah rumah kecil. Lalu di dalam rumah tersebut Umar melihat seorang ibu yang sedang memasak. Umar pun bertanya kepada ibu tersebut mengapa anaknya menangis dan ibu tersebut tetap memasak. Ibu tersebut pun mengatakan anaknya menangis karena kelaparan. Lalu, Umar semakin penasaran mengapa sang ibu tidak selesai-selesai memasak. Akhirnya Umar melihat apa yang sedang di masak ibu tersebut. Umar pun kaget, yang di masak adalah batu. Akhirnya pada saat itu Umar kembali ke rumah dan mengambil satu karung gandum untuk diserahkan kepada ibu tersebut agar anaknya tidak kelaparan. Khalifah Umar bin Khattab juga dikenal sebagai pemimpin yang adil, dalam menegakkan keadilan Umar tidak pernah memandang siapapun. Meski yang berbuat salah adalah saudaranya sendiri maupun orang yang disegani.

Ketiga, tidak gila harta. Umar memang terlahir dari keluarga yang berada. Namun ketika masuk Islam Ia lebih memilih untuk meninggalkan nikmat dunia dan mencari amalan untuk akhirat kelak. Umar pun dikenal sebagai orang yang dermawan. Bahkan ketika Ia mendapatkan harta rampasan perang yang sudah dibagikan secara adil oleh Rasul, Umar menolaknya. Umar mengatakan bahwa lebih baik harta rampasan perang untuknya yang berupa kebun pertanian, diberikan kepada para fakir miskin yang lebih miskin dari dirinya. Bahkan Umar sering menggunakan hartanya untuk membebaskan para hamba sahaya dan budak-budak yang disiksa oleh para majikannya.

Keempat, pemimpin sederhana. Kesederhanaan Umar sudah terlihat saat Ia enggan untuk tinggal di tempat yang mewah. Ia lebih memilih untuk tinggal di rumah sederhana, bahkan kasur rumahnya pun hanya terbuat dari pelepah kurma. Kesederhanaan yang lain terlihat pada saat beliau menolak untuk dinaikkan gajinya sebagai Khalifah. Umar menjadi Khalifah hanya mengambil bagian kecil yang hanya digunakan untuk keperluan rumah tangganya dan untuk makannya. (Lihat Muhammad Husain Haekal, Umar bin Khattab: 2015).

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.