Mensyukuri Al-Wahhab

Mensyukuri Al-Wahhab

Oleh Dr. Sri Suyanta (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 3 Zulhijah 1439

Saudaraku, asmaul husna yang keenambelas adalah al-Wahhab. Al-Wahhab secara umim dipahami bahwa Allah adalah zat Yang Maha Memberi, Maha Mengaruniai.

Allah al-Wahhab berarti Allah mengaruniai apapun yang diperlukan oleh manusia, bahkan memberi juga segala sesuatu yang dipinta oleh hamba-hambaNya. Di samping dari segi kuantitasnya banyak dan seringnya, pemberian Allah keoada hamba-hambaNya atau bahkan kepada semua makhlukNya juga bersifat kualitas pemberianNya, yakni pemberian yang tepat dan terbaik.

Karena Allah Maha Pemurah, Allah Maha Kaya, apapun dalam genggamanNya, maka tidak sulit bagi Allah untuk memberikan apapun yang diminta oleh manusia. Allah berfirman yang maknanya, Atau apakah mereka itu mempunyai perbendaharaan rahmat Tuhanmu yang Maha Perkasa lagi Maha Pemberi. (QS. Shaad:9)

Pemberian Allah kepada manusia dapat berupa segala sesuatu yang bersifat fisik kasat mata seperti harta yang melimpah, alam yang subur, pemandangan yang indah, kendaraan yang kuat dan cepat larinya, pakaian yang sesuai, makanan minuman, obat-obatan, dan seterusnya. Pemberian Allah juga ada yang bersifat non fisik seperti kesehatan, kenyamanan, persaudaraan, keamanan, kedamaian, kesejahteraan, pikiran yang cerdas, hati yang tawadhuk. Dan seterusnya.

(Nabi Sulaiman) ia berkata : Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorangpun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi.’ (Qs. Shaad:35)

Allah berfirman yang artinya: (Mereka berdoa): Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong pada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)’. (Qs. Ali Imran:8)

Oleh karena itu kali ini kita mengulang kaji kembali tentang akhlak mensyukuri al-Wahhab.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa Allah adalah Zat Maha Memberi apapun yang dibutuhkan oleh hambaNya.

Kedua, mensyukuri al-Wahhab dengan terus memujiNya seraya memperbanyak melafalkan alhamdulillahirabbil’alamin, Allah senantiasa menganugrahi karunia yang tidak terkira kepada hamva-hambaNya.

Ketiga, mensyukuri al-Wahhab dengan tindakan nyata yaitu meneladani dan mengukuhkannya dalam kehidupan sehari-hari. Di antaranya menjadi pribadi yang suka berbagi kepada sesamanya. Dalam konteks berbagi tidak mengenal musim, oleh karenanya ketika al-Wahhab telah membwrijan hidayahNya maka seseorang dapat mendawamkan menjadi orang pemurah yang senantiasa berbagi kepada sesamanya.

Namun dalam bulan Zulhijah sekarang ini, konsep berbagi menjadi sangat aktual. Bahkan untuk mengukuhkan ajaran berbagi, Allah memilih dan mensyariatkan Hari Raya Idul Adha dan hari tasyrik pada bulan ini. Bulan dimana Allah menuntut umatNya untuk mencintai Allah dengan cara mencintai sesamanya, mendekati Allah dengan jalan mendekati sesamanya, dengan cara berbagi; dengan berqurban; dengan melakukan penyembelihan binatang qurban dan membagikannya kepada sesamanya. Pada bulan inilah, di antaranya nama al-Wahhab bisa menjadi sangat relevan untuk diterjemahkan dalam perbuatan nyata oleh hamba-hambaNya.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.