Mensyukuri Al-Razzaaq

Mensyukuri Al-Razzaaq

Oleh Dr. Sri Suyanta (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 4 Zulhijah 1439

Saudaraku, nama Allah ketujuhbelas juga luar biasa terutama bagi orang-orang yang berharap rezeki dari Allah swt. Nama yang dimaksud adalah al-Razzaaq. Allah al-Razzaq secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat Yang Maha Mengaruniai Rezeki.

Dalam hal al-Razzaaq, kita meyakini bahwa Allah adalah zat yang menciptakan semua makhluk, mengatur rezekinya, dan serta yang menganugrahkannya kepada orang-orang yang dikehendakiNya dengan menciptakan sebab-sebab dan kausalitasnya sehingga sesiapapun dapat meraih dan menikmatinya. Apalagi bagi hamba-hambaNya yang beriman kepadaNya.

Allah berfirman, ”Dan tidak ada sesuatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)’’ (Qs Hud 6).

Saudaraku, bila kita merujuk pada Kamus Bahasa Indonesia yang diperluas maknanya menurut Islam, maka rezeki dapat didefinisikan sebagai segala sesuatu pemberian Allah yang dapat digunakan untuk memelihara kemaslahatan kehidupan, seperti sandang, papan, pangan, nafkah, pendapatan, keuntungan, kesempatan, keamanan, kebahagiaan, kesejahteraan, kesehatan, ilmu pengetahuan, pemahaman, hikmah, kearifan, kepercayaan dari sesamanya, dan pemberian Allah lainnya.

Namun demikian, dengan maksud menyederhanakan dan untuk kepentingan praktis, seringkali rezeki hanya dipahami sebagai pemberian materi saja misalnya sandang, papan, pangan, tunggangan atau kendaraan, perhiasan, hewan peliharaan, sawah ladang dan uang. Padahal masih banyak lagi yang dapat disebut rezeki, termasuk yang sifatnya non materi, phikhis, tidak tampak tapi dirasakan, misalnya keislaman, keimanan, hidayah bisa terus beribadah, kesehatan, kesempatan, keamanan, kesejahteraan, mawaddah wa rahmah bersama suami atau istri meski tidak bergelimang harta, bahagia bercengkrama dengan anak atau cucu, anak cucu memperoleh pendidikan yang layak, hidup hari-hari tidak ada aral melintang, tidak terjadi kecelakaan saat berkendaraan ke tempat mencari nafkah, tidak mengalami musibah apapun, dan pemberian Allah lainnya yang tidak tertampungi oleh sederetan kata-kata

Oleh karena.itu, layak bagi kita untuk mengingat kembali tentang akhlak mensyukuri Al-Razzaaq.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa Allah Yang Maha Pemurah senantiasa mencurahkan rezeki kepada semua makhlukNya, terlebih lagi kepada hamba-hambaNya yang beriman kepadaNya.

Allah mengutus Malaikat Mikail untuk terus menganugrahkan rezeki kepada sesiapapun yang dihekendakiNya. Malaikat Mikail juga membawa ilham yang mengantarkan orang-orang yang beriman untuk menemukan rezeki yang Allah sediakan sampai benar-benar Allah mendekatkanNya yang masih jauh, menurunkanNya yang masih di langit, mengeluarkanNya yang masih di perut bumi, memperbanyakNya yang masih sedikit, memberkahiNya untuk kehidupan bagi orang-orang beriman.

Kita sebagai manusia, berkewajiban berdoa (misanya melalui shalat-shalat hajad, istikharah, dan dhuha) yang dibarengi dengan usaha atau melakukan sesuatu yang dapat memudahkan dalam meraihnya. Di sinilah bersinergi dengan al-Razzaaq sanpai benar-benar rezeki menjadi nyata.

Kedua, mensyukuri al-Razzaaq dengan terus memuji denganNya dan membiasakan lisan melafalkan ungkapan syukur, alhamdulillahirabbil ‘alamin terima kasih ya Allah atas segala karunia yang hamba terima.

Alhamdulillah dikaruniai rezeki umur panjang, alhamdulilah dianugrahi rezeki pasangan dan atau keturunan yang shalih shalihah, alhamdulillah dianugrahi rezeki sehat wal afiat, alhamdulilah memiliki saudara, tetangga, teman baik dan ramah, alhamdulillah dikaruniai kesejahteraan kenyamanan, alhamdulilah tidak mengalami paceklik, alhamdulillah tidak kebanjiran dan seterusnya. Semua ini adalah rezeki yang tak mungkin terinventarisir jumlah dan kualitasnya.

Ketiga, mensyukuri al-Razzaaq dengan perbuatan nyata dengan berusaha meneladani dan mengukuhkan nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Di antaranya dengan menjadi pribadi-pribadi yang gemar memberikan kemanfaatan kepada sesamanya. Kehadirannya memberi semangat, ketidakhadirannya memberi inspirasi, dan kebersamannya menyejukkan.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.