Mensyukuri Al-Haliim

Mensyukuri Al-Haliim

Oleh Dr. Sri Suyanta (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 19 Zulhijah 1439

Saudaraku, tema muhasabah hari ini adalah Allah Al-Haliim. Allah Maha Penyantun. Dalam hal ini kita meyakini bahwa Allah maha penyantun terhadap makhlukNya, tetap welas asih terhadap hamba-hambaNya; Allah senantiasa menolong hamba-hambaNya, memahami isi hatinya, memenuhi kebutuhan untuk hidupnya dengan sunnatullahNya.

Dalam konteks kelemahan manusia yang seing salah dan lupa, misalnya, seberapapun dosa dan kesalahan yang telah dilakukan hambaNya tidak segera dibalasiNya dengan siksa, apalagi kemudian ianya bertaubat. Mengapa? Di antaranya, karena Allah itu Al-Haliim, Allah yang maha penyantun. Oleh karenanya, ketika kita berbuat salah sehingga berdosa jangan berketerusan, meskipun tidak atau belum dibalasi dengan keburukan atau siksa oleh Allah. Maka, hendaknya bersegera melakukan taubat nasuha.

Allah berfirman yang artinya, Dan ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (Qs Al-Baqarah: 235)

Demikian juga pada ayat lain yang maknanya, Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun (Qs. Al-Israa’ 44)

Oleh karena itu mestinya kita mensyukuri Allah Al-Haliim, di antaranya bersyukur dalam hati, bersyukur dengan lisan, dan bersyukur dengan tindakan nyata.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa Allah Maha Penyantun; maha baik kepada hambaNya; maha welas asih kepada sesiapapun yang berbuat salah sekalipun; maha mengampuni hambaNya yang bertaubat.

Kedua, mensyukuri al-Haliim dengan terus memujiNya seraya memperbanyak melafalkan alhamdulillahirabbil’alamin, Allah sabar dan tidak bersegera membalasi kesalahan dan dosa yang telah kita perbuat, karena ditunggu pertaubatan kita.

Ketiga, mensyukuri al-Haliim dengan tindakan nyata yaitu meneladani dan mengukuhkannya dalam kehidupan sehari-hari. Di antaranya menjadi pribadi yang penyantun, di antaranya berusaha menjadi orang yang baik budi bahasa dan tingkah lakunya; tidak mudah menghakimi orang lain; menjadi orang yang sopan; orang yang suka menaruh belas kasihan; orang yang suka menolong membantu, memperhatikan kepentingan orang lain.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.