Ali dan  Nasrani Tua

Ali dan  Nasrani Tua

GEMA JUMAT, 14 SEPTEMBER 2018

Kisah Ali bin Abi Thalib tidak pernah kering.  Selalu ada kisah darinya yang jadi iktibar yakni ketika pada suatu subuh hendak ke masjid. Dikutip dari  Kitab Al-Mawaizhu Al-‘Ushfuriyyah, Ali tidak melewati seorang kakek di depannya.

Mendekati masjid, orang itu tidak ke sana. Ternyata dia Nasrani. Di masjid,  Rasulullah SAW melamakan ruku” hampir sama dengan dua ruku’ agar Ali bisa subuh berjamaah.

“Rasulullah, mengapa tadi lama sekali ruku’?” tanya sahabatnya setelah shalat.

“Ketika aku dalam keadaan ruku’ dan membaca subhana rabbial azimi, aku ingin mengangkat kepalaku. Tiba-tiba Jibril meletakkan sayapnya di punggungku serta menahanku agar ruku’ lebih lama. Ketika Jibril mengangkat sayapnya, aku angkat kepalaku dan berkata.

“Mengapa engkau berbuat seperti ini wahai Jibril?”.
Jibril menjawab, “Ya Muhammad, sesungguhnya Ali berangkat tergesa-gesa untuk berjamaah, namun di tengah jalan ia bertemu orang Nasrani. Dan Ali tidak mengetahui bahwasanya orang tersebut adalah Nasrani. Ali memuliakan dan menghormatinya karena orang tersebut sudah tua. Ali tidak mendahului dan menjaga haknya. Hak menghormati orang tua. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kepadaku agar menahanmu saat ruku’ agar Ali bisa subuh berjamaah. Allah memerintahkan kepada malaikat untuk menahan matahari dengan sayapnya agar tidak terbit.

“Derajat ini Allah berikan kepada Ali, karena ia  telah menghormati orang yang sudah tua renta dan beragama Nasrani.”

Apa iktibar dari atas? Umat Islam menghormati yang lebih tua tanpa membedakan status agama.  Kisah itu mengajarkan kita untuk menghormati orang lain yang berbeda aqidah.

Pada kesempatan lain, Ali melihat baju besinya dipakai oleh orang rakyat biasa yang beragama Nasrani. Ali mengadukan kepada hakim yang bernama Syuraih

Persidangan dimulai.
“Baju besi ini adalah milikku. Aku tak pernah menjual atau memberikan kepada siapa pun,”  jelas Al

“Bagaimana sikapmu atas tuduhan Amirul Mukminin tadi?” tanya hakim kepada pihak yang tertuduh.

“Baju besi ini adalah milikku sendiri. Apa yang diutarakan olehnya adalah bohong,” jelas orang Nasrani itu.

“Adakah bukti nyata atau saksi mata yang menguatkan tuduhanmu?” tanya hakim kepada Ali.

“Benarlah Syuraih, aku tak punya bukti,” jawab Ali

Karena tak ada bukti, Syuraih menjatuhkan vonis, bahwa baju besi itu milik orang Nasrani.

Setelah sidang,  orang Nasrani itu membawa baju besi.  Ali memandang kesedihan. Beberapa langkah, Nasrani berkata:

“Saya bersaksi bahwa hal semacam ini adalah akhlak para Nabi. Seorang Khalifah membawaku ke majelis hakim untuk menyelesaikan perkara.”

“Demi Allah, sebenarnya ini adalah baju besimu wahai Amirul Mukminin, saya telah berbohong dalam persidangan tadi,” jelasnya yang kemudian dia menjadi mualaf. [Murizal  Hamzah]

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.