Bulan Muharram

Bulan Muharram

GEMA JUMAT, 14 SEPTEMBER 2018

Oleh: H. Ameer Hamzah

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah 12 bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya empat bulan haram (Rajab, Zulka’idah, Zulhijjah dan Muharram). Itulah ketetapan agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu (berperang) dalam bulan yang empat itu….(QS. At-Taubah [9]:36).

MUHARRAM adalah bulan pertama dari kalender hijriyah. Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan yang dimuliakan (bulan haram) oleh Allah SWT.  Yakni Rajab, Zulkaidah  Sya’ban dan Muharram. Pada empat bulan ini diharamkan mulai berperang, tetapi kalau musuh yang duluan menyerang, maka dibolehkan membalasnya.

Meski  1 Muharram sebagai hari pertama tahun baru Islam, namun tidak ada anjuran dari Allah dan Rasul-Nya untuk merayakannya. Islam hanya mensyariatkan dua hari raya (‘idain), yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Perayaan tahun baru Islam, bukanlah hari raya, namun tidak dilarang sepanjang tidak menyimpang dengan dengan syariat  Islam.

Umat Islam dewasa ini menyambut tahun baru Islam dengan pawai (karnaval), siang hari mereka keliling kota dengan  pakaian ala  Arab, mobil hias, memukul beduk dan rebana, ada yang melagukan  khasidah-khasidah, syair-syair, selawat-selawat kepada Nabi, dan anak-anak sekolah berjalan kaki. Ada yang pada malam hari mereka nyalakan obor sebagai syiar Islam.

Meski tidak ada masa Nabi dan para sahabat, itu bukanlah bid’ah dan tidak bertentangan dengan sunnah. Sebaliknya bila terlalu banyak biaya yang harus dikeluarkan, padahal itu tidak terlalu penting, maka hal tersebut termasuk mubazzir (boros). Keborosan dilarang dalam Islam, dan termasuk pekerjaan setan. Hal ini perlu dipertimbangkan, sebab banyak orang zaman ini memanfaatkan  tahun baru Islam sebagai ajang pemborosan.

Ada beberapa daerah di negeri ini terjebak dalam bid’ah dan kurafat. Mereka menyambut tahun baru Islam dengan hal-hal yang menyimpang dari ajaran yang benar. Mereka terpengaruh dengan ajaran nenek moyang pra Islam. Misalnya ada yang meredam tubuh dipertemuan dua sungai supaya mereka itu suci kembali. Ada juga yang menunggu kembalinya roh nenek moyang. Mereka membuat sesaji untuk leluhur yang pulang malam 1 Muharram (1 Syuro).

Ada juga masyarakat Islam yang masih percaya, bahwa pada malam satu Muharram itu Allah akan memudahkan rezekinya, memberkati umurnya, maka merekapun beribadah semalam suntuk tanpa dasar dari Rasulullah SAW. Ada juga daerah tertentu yang mengkeramat benda-benda, seperti pedang, keris dan tongkat. Malam itu mereka cuci dan meminum airnya.

Berbagai macam bid’ah dan kurafat telah menghiasi peringatan tahun baru Islam, tambah lagi nanti pada 10 Muharram (Hari Asyura) yang akan datang. Mereka melakukan ritual-ritual yang bukan berasal dari ajaran Islam. Misalnya menyembah kerbau jagat,  melarung sesaji ke laut, merebut-rebut makanan, dengan dalih budaya turun temurun.

Sebaiknya para ulama dan intelektual Islam yang berpendidikan tinggi sudah saatnya membimbing umat untuk meninggalkan hal-hal yang bertentangan dengan aqidah yang benar. Jangan membiarkan anak bangsa terus menyuburkan peninggalan pra Islam yang mereka tidak mampu membedakannya. Wallahu a’lam[]

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.