Kilas Balik 25 Tahun Gema Baiturrahman Tabloid Islam Yang Bertahan Lama

Kilas Balik 25 Tahun Gema Baiturrahman Tabloid Islam Yang Bertahan Lama

GEMA JUMAT, 14 SEPTEMBER 2018

Tanggal 3 September lalu, Tabloid Gema Baiturrahman genap berusia 25 tahun atau seperempat abad sejak diterbitkan pertama kali tanggal 3 September 1993. Boleh sedikit berbangga bahwa inilah mungkin salah satu Tabloid Islam yang panjang usianya di saat tabloid lainnya tak mampu bertahan akibat deraan berbagai faktor terutama persaingan ekonomi. Kalau kita melihat ke belakang, Gema Baiturrahman yang terbit setiap Jumat di Masjid Raya Baiturrahman telah melewati bebagai fase sekaligus metamorphose dengan perubahan berkali-kali mulai logo, rubrikasi, tata letak dan manajemen.

Meski mengalami masa-masa sulit di tengah hiruk pikuk perekonomian dan kebijakan pemerintah, toh media yang sudah akrab dengan pembaca ini tetap eksis terbit termasuk saat terjadi tsunami 2004 yang meluluhlantakkan Aceh. Artinya sejak terbit edisi pertama, hingga kini belum pernah absen menyapa jamaah, walaupun harus terbit dalam bentuk sederhana di saat kritis. Yang jelas, Gema Baiturrahman tidak punya modal secara finansial seperti halnya industri media lainnya, kecuali keikhlasan hati dari pengasuh dan pengelolanya.

Tabloid ini resmi mendapat Surat Tanda Terdaftar (STT) dari Menteri Penerangan pada tanggal 29 Pebruari 1996 atau setelah tiga tahun terbit atas seizin pengurus masjid saat itu. Dalam STT tersebut tercantum Drs Ameer Hamzah sebagai ketua Pengarah dan Ir Basri A. Bakar sebagai Ketua Penyunting. Hampir 10 tahun tabloid ini dicetak di Percetakan Negara RI dengan teknologi layout sangat sederhana dan hanya hitam putih, kemudian meningkat menjadi full color hingga sekarang setelah bekerjasama dengan Percetakan Serambi Indonesia.

Dalam perjalanannya, Gema pernah mendapat dukungan dari berbagai kalangan seperti Pemerintah Aceh, TNI/ POLRI, Perbankan dan pihak-pihak lalin melalui berbagai bantuan finansial maupun sarana dan prasarana yang diperlukan seperti komputer, kamera, tape recorder dan lain-lain. Bahkan selama beberapa tahun Gema mendapat suntikan bantuan melalui Pemerintah Aceh dalam bentuk hibah, namun sejak beberapa tahun terakhir terhenti karena kebijakan baru tentang hibah.

Perlu Dukungan

Dalam usia seperempat abad, Gema seharusnya sudah lebih berkiprah dari kondisi yang ada sekarang. Gema semestinya telah menjadi salah satu tabloid Islam nasional dengan distribusi dan pemasaran yang lebih luas. Tentu saja tidak semudah itu, karena membangun sebuah industri media saat ini memerlukan modal yang tidak sedikit dan manajemen yang profesional. Inilah yang belum kita miliki saat ini. Padahal kita sadari, di era teknologi IT hari ini dakwah melalui media harus dikuasai oleh ummat Islam untuk membendung dampak negatif gencarnya publikasi media  “jahiliyah” yang menjamur dan mudah diakses oleh siapapun termasuk generasi muda.

Oleh karena itu Gema Baiturrahman butuh pemodal dan dukungan pihak-pihak swasta atau menjalin kerjasama dengan berbagai pihak dalam upaya mengembangkan tabloid ini sebagai media dakwah yang lebih diperhitungkan dengan jangkauan sasaran yang lebih luas mulai sekolah-sekolah, pesantren, kantor-kantor dan khalayak umum.  Tidak hanya dalam bentuk tercetak, namun Gema harus mengembangkan diri dalam bentuk media on line yang bisa diases lebih luas oleh publik, sehingga sasaran dakwah akan lebih terdiseminasi secara cepat dengan skala spektrum yang lebih luas.

Selain itu, pihak pengurus Masjid Raya Baiturrahman harus lebih efektif menjadikan media Gema sebagai corong humas untuk menyampaikan berbagai informasi, karena hingga saat ini Gema telah berperan sebagai tangan-tangan masjid yang tidak bisa diabaikan. Selama ini pihak masjid sebagai induk Gema memang telah memberikan dukungan demi memajukan media dakwah ini, namun ke depan tentu saja dukungan yang diberikan harus lebih power full lagi demi dakwah yang tiada henti sampai kapanpun. Basri A. Bakar

 

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.