Mensyukuri Al-Hakim

Mensyukuri Al-Hakim

Oleh Dr. Sri Suyanta (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 4 Muharam 1440

Saudaraku, asma Allah, al-Hakim sebagai renungan muhasabah kita hari ini mengingatkan kita pada asmaul husnaNya Allah yang keduapuluh delapan, yaitu al-Hakam dan juga berikutnya al-‘Adl.

Al-Hakam dipahami bahwa Allah adalah Hakim yang maha adil, Allah maha memutuskan yang keputusanNya menunjukkan keagunganNya, zat yang maha menetapkan yang ketetapanNya menunjukkan keadilan dan kesempurnaanNya.

Bila al-Hakam menunjukkan perbuatan Allah dalam memutuskan segala sesuatu atas makhlukNya dan Allah yang maha menetapkan, maka al-Hakim selain dipahami bahwa Allah sebagai Subyek yakni sebagai Hakim, juga dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha bijaksana. Dengan demikian, Allah adalah hakim yang bijaksana; seluruh keputusanNya merupakan putusan yang bijaksana; seluruh ketetapan Allah merupakan ketetapan yang bijaksana. Kebijaksanaan ini karena Allah maha luas ilmuNya, maha luas kekuasaanNya, maha luas kedermawananNya dan maha luas sifat-sifat kebaikanNya.

Allah sebagai al-Hakim dapat ditemukan di dalam al-Qur’an. Di antaranya al-Hakim disebut bergandengan dengan al-‘Aziz (Allah Maha Perkasa). Allah berfirman yang artinya, Dan Allah adalah ‘Azîz (Maha Perkasa) lagi Hakîm (Maha Bijaksana). (Qs. Al-Baqarah 228, Fathir 2, al-Hadîd 1, al-Hasyr 1 dan 24, al-Jumu’ah 3)

Dari normativitas di atas, Allah ingin menunjukkan bahwa meskipun maha kuat dan perkasa dalam segala hal atas seluruh makhlukNya, Allah tetap maha bijaksana dalam suluruh ketetapan atas makhlukNya, jauh dari sikap semena-mena, terhindar dari perilaku dzalim dan bersih dari ketidakadilan.

Asma al-Hakim juga disebut beriringan dengan al-Khabir dan al-‘Alim (Allah maha mengetahui), Allah berfirman yang maknanya, Dan Dia-lah Allah Yang Hakîm (Maha Bijaksana) lagi Khabîr (Maha Mengetahui). [Qs. Saba` 1].

Sesungguhnya Dialah Allah Yang Hakîm (Maha Bijaksana) lagi ‘Alîm (Maha Mengetahui). (Qs. al-Dzâriyât 30)

Pada surat al-Nisa 26 juga disebutkan yang artinya, “…dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Dengan demikian kebijaksanaan Allah seringsekali diiringkan dengan asma atau sifat pengetahuaNya yang maha luas.

Oleh karenanya kita layak mengembangkan sikap untuk mengukuhkan akhlak dalam mensyukuri al-Hakim, baik dengan hati, lisan maupun dengan perbuatan nyata.

Pertama, meyakini sepenuh hati bahwa Allah adalah zat yang maha bijaksana terhadap urusan makhlukNya.

Kedua, mensyukuri al-Hakim dengan terus memujiNya dan memperbanyak mengucapkan alhamdulillahirabbil ‘alamin, agar Allah menganugrahi keluasan ilmu pengetahuan dan hikmah kepada kita, sehingga dapat memutuskan segala sesuatu dengan bijak yang melahirkan kemaslahatan seluas-luasnya bagi diri, keluarga dan sesamanya dalam kehidupan ini.

Ketiga, mensyukuri al-Hahim dengan perbuatan konkret. Di antaranya ditunjukkannya dengan bersikap bijak dalam segala hal, baik kepada Allah, diri sendiri, sesamanya maupun dengan lingkungan sekitarnya. Karena sikap bijak didasari oleh iman yang kuat dan ilmu yang luas, maka kita juga dituntun untuk terus meningkatkan kualitas iman dan ilmu pengetahuan dengan intensif berdoa, beribadah dan belajar.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.