Mensyukuri Al-Majid

Mensyukuri Al-Majid

Oleh Dr. Sri Suyanta (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 6 Muharam 1440

Saudaraku, sejatinya kemuliaan yang sesungguhnya hanya milik Allah swt, sementara kemuliaan yang ada pada selainNya atau pada hamba-hambaNya sangat bergantung pada seberapa intesif interaksi dan kedekatannya dengan Allah swt.

Kedekatan hamba dengan Rabbnya mewujud pada ketakwaannya. Ketakwaan inilah yang menjadikan seorang hamba menhadi mulia. Oleh karenanya bisa dimengerti bila Allah menyatakan dalam firmanNya yamg artinya, Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(Qs. Al-Hujurat 13)

Dari normativitas di atas dimengerti bahwa kemuliaan manusia terletak pada ketakwaannya; bukan karena jenis kemaminnya; bukan juga karena asal suku bangsa dan daerahnya, bukan juga dari warna kulit dan besar kecil postur tubuhnya.

Sekali lagi kemuliaan sesrorang hanya dapat diraih dengan mendekatkan dirinya pada Allah swt dan mengasihsayangi sesamanya. Oleh karenanya pada muhasabah hari ini, kita akan mengulangkaji keberkahan mensyukuri al-Majid.

Al-Majid secara umum dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mulia, baik mulia zatNya, mulia sifatNya maupun mulia perbuatanNya.

Kemuliaan zat Allah pada kesempurnaan eksistensiNya, tidak ada yang menyerupai apalagi menandingiNya. Kemuliaan sifat Allah mewujud dalam seluruh puncak kebaikan adalah milikNya saja. Dan kemuliaan perbuatanNya terlihat pada curahan nikmat dan karunia kepada seluruh makhlukNya.

Allah berfirman yang maknanya, Para malaikat itu berkata: ”Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, Hai ahlulbait! Seseungguhnya Allah Maha terpuji lagi Maha Pemurah.”(Qs. Huud 73)

Sesungguhnya Dialah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali). Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang mempunyai ‘Arsy, lagi Maha Mulia, (Qs.al-Buruj 13-15)

Oleh karena itu mestinya kita mengembangkan akhlak untuk mensyukuri al-Majid baik bersyukur dengan hati, lisan maupun dengan perbuatan nyata.

Pertama, bersyukur dengan hati, kita meyakini sepenuh hati bahwa Allah maha mulia yang kemuliaanNya sempurna, tidak ada sedikitpun cela.

Kedua, mensyukuri al-Majid dengan lisan, yaitu melafalkan alhamdulillahirrabbil ‘alamin dan memujiNya, agar Allah memuliakan kita.

Ketiga, mensyukuri al-Majid dengan tindakan nyata seperti selalu menyebutNya, mengukuhkan sikap dan berperilaku mulia serta menuliakan sesamanya.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.