Masjid dan Jejak Aceh di Pulau Pinang

Masjid dan Jejak Aceh di Pulau Pinang

Oleh Azwir Nazar

Di Pulau Pinang ada satu masjid Aceh yang melagenda. Jejak kerajaan Aceh yang begitu kental terasa. Namanya mesjid Lebuh Aceh Melayu. Saya mengitari wilayah luar masjid yang kini menjadi heritage dunia. Ada beberapa rumah kayu khas Aceh sudah ratusan tahun lamanya. Sungguh hebat! Lebih 200 tahun masjid ini berdiri megah hingga sekarang. Sejarah Melayu menuliskan bahwa masjid tersebut sebagai pusat bertolak jamaah haji yang ingin pergi ke Mekkah. Mereka belajar dan mempersiapkan diri lahir batin sebelum ke Baitullah. Di wilayah ini mirip kota tua. Bila anda pernah ke Istanbul, seputaran Blue Mosque dan Hagia Sophia yang sekarang jadi hotel dan penginapan, itu hampir persis. Tapi kalau soal lampu malam saya lebih berkesan sangat menginap di sebuah hotel di Korea pada musim salju. Kedap kedip huruf kanji di lorong lorong jalan sangat mempesona. Sayangnya di kawasan masjid Penang saya tak berjalan pada malam hari. Karena ada tradisi dan aturan kerajaan Malaysia supaya malam Jumat baca Yasin di masjid dan surau. Jadi kita asik dalam masjid saja sambil melihat banyak orang berpuasa sunat berbuka puasa.

Adalah seorang Syeh keturunan Arab dari Aceh dan kerabat Raja Aceh pada tahun 1791 hijrah ke Pulau Pinang dan membuka Lebuh Aceh. Tunku Sayyid Hussain ini membina masjid pada tahun 1808, 7 tahun setelah masjid Capitan Kling India yang berjarak 100 meter dari masjid Aceh.

Bedanya masjid Capitan Kling, sampai sekarang masih di tempati dan di urus oleh orang India, pemuka pemuka India masih datang dan membanggakan masjidnya beserta tradisi Islam di India yang menarik. Menghormati yang lebih tua dan saling berpelukan bila bertemu. Kebetulan selama di Malaysia saya banyak bertemu warga keturunan India yang hebat hebat dan memiliki pengaruh di negeri jiran.

Tanpa terasa saya menangis dan terharu membayangkan begitu hebat orang terdahulu indatu kita, mereka menjadi pendakwah yang inspiratif. Membangun masjid, membuka wilayah baru untuk kemudahan banyak orang dan dikenang sepanjang masa. Beda di generasi kita yang banyak main ludo, dan menonton bola atau main games di warung warung kopi. Baik di kampung maupun di kota.

Padahal, dari Penang dan dari masjid masjid di dunia kita belajar banyak hal. Bahwa mesti kita memasukkan satu cita cita kita sebelum meninggalkan dunia untuk membangun masjid. Suka dengan masjid, ketemu di masjid, janjian di masjid, dan semuanya harus dimulai serta dipusatkan di masjid.
Dalam 40 hari ini saya berjalan, menyaksikan begitu hebat seorang Ibu Suciati Saliman di Yogja yang membangun Masjid sendiri, Ibu Diah Kubah Mas yang membangun masjid di Depok, di Bekasi juga ada seorang mantan kepala Desa membangun masjid ArAridhwan. Di Istanbul ada satu masjid namanya ‘Sanki Yedim’ yang artinya seolah2 sudah makan. Seorang pedagang biasa yang rela tak makan demi menabung untuk membangun masjid. Dia cemburu kenapa para sultan saja yang bisa bangun masjid.

Tentu banyak kisah lain di dunia, tentang orang orang yang tak saja terpaut hatinya dengan masjid tapi juga membangunnya, mewakafkan tanahnya dan sebagainya untuk kepentingan umat dan Islam. Lalu dimanakah posisi kita?

Disamping saya ini adalah makam Syeh Hussein Idid, beliau 200 tahun lalu mempelopori masjid ini di bangun. Semoga kita dapat mengambil hikmah dan spirit untuk kehidupan dunia yang lebih abadi dengan bercita cita membangun masjid.

Ya, saya menuliskan satu tambahan cita cita semoga suatu hari Cahaya Aceh dapat membangun masjid di Turki sebagai jantung dunia 🙂 insya Allah, Biiznillah.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.