Mensyukuri Al-Waliy

Mensyukuri Al-Waliy

Oleh Dr. Sri Suyanta (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 13 Muharam 1440
(Catatan Yaumul Bidh pertama Muharam)

Saudaraku, muhasabah hari ini kita akan mengulangkaji tentang keberkahan mensyukuri asmaul husnaNya Allah yang kelimapuluh lima, yaitu Al-Waliy.

Al-Waliy dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha dekat, sehingga karenanya kedekatanNya, maka Allah maha pelindung dan penolong bagi hamba-hambaNya yang beriman.

Allah berfirman yang artinya,
Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Qs. Al-Baqarah 257)

Karena hanya Allah pelindung orang beriman, maka ketika kita sebagai orang beriman mecari pelindung ke selainNya, termasuk menuruti kemauan orang Yahudi dan Nasrani, maka sebaiknya kita mencermati firman Allah yang artinya, Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (Qs. Al-Baqarah 130)

Dan Allah lebih mengetahui (dari pada kamu ) tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi perlindung (bagimu). Dan cukuplah Allah menjadi penolong (bagimu). (Qs.Al-Nisa’ 45)

Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan. Dan sekali-kali tidak ada pelindung dan penolong bagimu selain Allah (Qs. Al-Taubah 116)

Ketika kita dapat istiqamah menjadikan Allah sebagai wali atau pelindung, maka, Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan} di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan itu seluruhnya adalah kepunyaan Allah. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Qs. Yunus 62-65)

Oleh karena itu sudah seharusnya kita mengembangkan akhlak untuk mensyukuri al-Waliy, baik bersyukur dengan hati, lisan maupun perbuatan nyata.

Pertama, bersyukur di hati dengan meyakini bahwa Allah sangat dekat dengan kita, sehingga senantiasa melindungi dan menolong kita dalam segala urusan.

Kedua, bersyukur dengan lisan, yaitu dengan terus memujiNya dengan asma al-Waliy dan memperbanyak mengucapkan alhamdulillahirabbil ‘alamin. Dengan sering memujiNya, kita senatiasa merasa bersamaNya. Karena kebersamaan dengan Allah ini, menghantarkan kita pada ketenangan, kenyamanan, ketentraman dan kebahagiaan hidup.

Ketiga bersyukur dengan langkah konkret, di antaranya dengan terus mendekatkan diri kita kepada Allah dengan cara melaksanakan apapun titahNya dan meninggalkan apapun yang dibenci atau dilarangNya.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.