PERAN ULAMA DALAM PEMBINAAN UMAT

PERAN ULAMA DALAM PEMBINAAN UMAT

GEMA JUMAT, 28 SEPTEMBER 2018

Dr. Syukri Muhammad Yusuf, Lc., MA

Kata ulama dalam bahasa Arab merupakan bentuk jama’ dari kata ‘alim, secara bahasa kata ‘alim berarti orang yang berpengetahuan. Sedangkan secara istilah ulama adalah orang yang ilmunya mampu mengantarkan dia kepada rasa takut dan kagum kepada Allah, sehingga akan mendorong orang ’alim tersebut untuk mengamalkan ilmunya dalam kehidupan pribadi serta memanfaatkannya untuk mencerahkan orang lain.

Dalam Al Qur’an Surat Fathir ayat 28: Allah Swt. Berfirman

Artinya: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah ulama”. (QS. Fathir : 28).

Disebutkan dalam sebuah Hadits ulama adalah pewaris para Nabi (waratsatul anbiya’), pewaris Nabi berarti bukan Nabi dan juga tidak sama dengan Nabi. Nabi merupakan manusia yang ma’shum (terpelihara dari dosa), sementara ulama masih termasuk manusia yang tidak ma’shum.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa ulama ada yang baik (ulama waratsatul ambiya’) dan ada yang tidak baik, yang oleh Imam Al-Ghazali menyebutnya dengan (‘ulama suu’). Ulama yang baik dan benar keulamaannya inilah yang diharapkan dapat menjadi lokomotif dalam membangun bangsa ini agar menjadi lebih baik. Barangkali ini yang disebut “Politik Ulama”. Sebaliknya, ulama yang tidak baik (‘ulama suu’) justru akan semakin runyam dan merusak kondisi bangsa ini bahkan umat Islam dibuat semakin “mumang” (bingung), tidak mengerti dengan sikap, prilaku, pernyataan dan adegan-adegan yang dimainkannya di atas panggung politik yang sedang dilakoninya. Mungkin ini yang disebut dengan “Ulama Politik”

Sejauh apa yang dibutuhkan umat hari ini adalah ulama waratsatul anbiya’, agar dengan politik ulama dapat membangun negeri ini dan menyelamatkan umat dari kerusakan. Karenanya, ulama tidaklah dilihat dari simbul-simbul yang digunakan berupa pakaian, serban maupun penampilan semata, akan tetapi lebih dari itu harus orang yang berilmu dan berwawasan luas serta punya prinsip dan keimanan yang kokoh, memiliki ketahanan mental dan kekuatan integritas agar mampu melakukan perubahan guna mengangkat harkat dan martabat umat. Bahkan dengan ilmunya dapat menyelamatkan umat manusia dari kebodohan menuju ilmu pengetahuan, sehingga mereka selamat di dunia dan di akhirat kelak. Di sinilah pentingnya ulama menguasai hal-hal prinsipil dari maqashid syari’ah dan nilai-nilai Islam serta keteladanan Rasulullah Saw dalam hubungannya dengan umat manusia.

Peran Ulama

Ulama dalam masyarakat Islam begitu terhormat dan mulia, hal ini tidak terlepas dari sabda Nabi Muhammad Saw. yang berbunyi:

Artinya: “Ulama adalah pewaris para Nabi (Waratsah Al Anbiya’)”. HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah.

Ulama tidak mewarisi emas, perak dan intan permata dari para Nabi tetapi mereka mewarisi tugas para Nabi dalam berdakwah menyampaikan yang hak, dan turut serta memerangi yang bathil, mendorong yang ma’ruf dan mencegah yang  munkar, serta menyampaikan yang benar kepada masyarakat dan kepada penguasa bahwa itu benar meskipun hal itu pahit. Dengan demikian, tugas dan tanggung jawab para ulama sangatlah berat mirip tugas para Nabi, tugasnya bukan hanya sekedar menyampaikan pidato di atas podium, tidak hanya menjadi khatib atau penceramah di media elektronik atau di media-media tradisional lainnya, bukan juga berjibaku dengan kajian kitab-kitab kuning peninggalan ulama salaf dan khalaf saja, namun mereka harus mengkaji pula berbagai persoalan umat termasuk di dalamnya masalah politik. Karena ulama tetap harus memandu umat dalam berpolitik, apalagi di tahun politik seperti saat ini tugas tersebut harus semakin ditekuni.

Dalam kaitan dengan hal tersebut, ulama harus memandu umat dengan standar etika, prilaku dan akhlakul karimah untuk memastikan umat serta politisi berpolitik sesuai standar akhlak Islam yang baik. Sehingga, umat Islam dalam kesehariannya tidak terlena dengan aksi menebarkan hoax, fitnah maupun kebencian antar sesama Muslim yang dapat merusak ukhuwwah Islamiyah yang telah terbangun dalam kehidupan kita selama bertahun-tahun. Demikian juga agama tidak dijadikan sekedar komoditas politik oleh para elit atau sebagai tumpangan saja dalam berpolitik namun agama mesti dijadikan sebagai panduan dan lokomotif dalam berpolitik.

Di antara hal yang paling ungen untuk diingatkan oleh para Ulama di tahun politik seperti ini adalah bagaimana umat ini dapat menghindari kemudharatan yang lebih besar dalam bentuk perpecahan dan kegaduhan yang muncul di tengah-tengah masyarakat akibat beda pilihan politiknya. Karena setiap orang tentu punya pandangan yang berbeda-beda dan pasti akan memilih sosok yang dianggap bisa memimpin negeri dan bangsa ini.

Ulama dan Pembinaan Umat

Sebagimana telah disinggung di atas ulama adalah gelar kemuliaan yang diberikan Allah Swt dan RasulNya Saw kepada seseorang yang menguasai ilmu-ilmu pengetahuan keagamaan dalam semua aspek disiplin ilmu baik akidah, syari’ah maupun akhlak. Keilmuan yang dikuasai para ulama tersebut berbanding lurus dengan tugas dan tanggung jawab yang dipikulkan di atas pundaknya.

Jika dirunut lebih jauh terhadap tugas dan tanggung jawab ulama maka peran ulama yang lebih dominan dalam pembinaan umat antara lain sebagai pengawal akidah umat, pejuang kebenaran dan keadilan, pelaksana syariat agama Allah, penyelesai persoalan umat, penegak amar ma’ruf nahi munkar, pencerah dan pendidik umat serta penjaga kerukunan umat, seperti ulasan berikut:

  1. Sebagai pengawal akidah umat, ulama memberikan pemahaman tentang aqidah shahihah yang bersumber dari Allah dan Rasul-Nya. Meluruskan berbagai pola pikir umat yang melenceng dari Aqidah Ahlussunnah Waljamaah dengan mengacu kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits. Demikian juga melakukan koreksi terhadap penyimpangan pemahaman agama yang dapat menjerumuskan seseorang kepada kesesatan atau terjebak dalam syirik/kemusyrikan.
  2. Sebagai pejuang kebenaran dan keadilan, ulama berperan menegakkan hukum Allah, memperjuangkan kebenaran dan keadilan dengan selalu mengedepankan kepentingan umum demi mewujudkan kemaslahatan umat Islam itu sendiri. Dalam hal ini, para ulama berada di garda terdepan untuk membela dan memperjuangkan kebenaran serta keadilan agar tetap eksis di muka bumi. jikalau bukan karena ada ulama yang getol menyuarakan kebenaran dan keadilan maka sunggguh dunia ini akan dikotori oleh prilaku kezhaliman, kesewenangan dan permusuhan.
  3. Sebagai pelaksana syariat agama Allah, ulama berperan memberikan pemahaman dan tuntunan syariat ajaran agama baik yang berkaitan dengan ibadah mahdhah ataupun ibadah ghairu mahdhah yang bersumber dari tuntunan Al-Quran, sunnah, ijma’, qiyas, dan pendapat ulama salafush shalih yang bisa dipertanggung jawabkan. Dalam kaitan dengan ini ulama juga berperan melakukan koreksi terhadap penyimpangan pemahaman dan pengamalan syariat agama.
  4. Sebagai penyelesai berbagai persoalan umat. Ulama, sebagaimana disinyalir dalam Qanun Nomor 2 Tahun 2009 tentang Majelis Permusyawaratan Ulama berperan memberikan fatwa baik diminta maupun tidak diminta terhadap persoalan pemerintahan, pembangunan, pembinaan masyarakat, dan ekonomi. Tak dapat dipungkiri bahwa di akhir zaman ini ada banyak persoalan umat yang terus bermunculan akibat pengaruh kemajuan sain dan teknologi yang perlu mendapat perhatian serius dari para ulama seperti misalnya: vaksin MR, jual beli on line, bisnis bit coin, ijab qabul via teleconference dan lain-lain. Ulama perlu menjawab untuk menyelesaikan perkara-perkara tersebut baik melalui fatwa maupun keputusan sikap.
  5. Sebagai penegak amar ma’ruf nahi munkar, ulama berperan memberikan pemahaman kepada umat bahwa tugas amar ma’ruf nahi munkar bukanlah kewajiban individu dan personal tapi merupakan kewajiban kolektif sesuai  dengan bidang masing-masing. Setiap Muslim harus peka dan punya kerisauan yang tinggi terhadap  persoalan dan keadaan umat, sehingga ia selalu menginginkan perbaikan dan kebaikan seperti hasrat Nabi Syu’aib As. yang diabadikan Allah dalam Al-Qur’an. “Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan”. (QS. Hud : 88)

Dalam hadits disebutkan yang artinya, “Barang siapa yang melihat kemungkaran maka hendaklah ia merubah dengan tangannya, jika tidak sanggup maka dengan lisannya, jika tidak sanggup juga maka hendaklah dengan hatinya, dan itu selemah-lemah iman”. (Al-Hadits). Artinya kewajiban pencegahan dan koreksi bila ada kemungkaran atau kemaksiatan disesuaikan dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing individu seperti menindak bagi yang kuasa, menasehati bagi ulama, melaporkan bagi masyarakat dan bekerja sama dengan pihak terkait bagi stakeholders.

  1. Sebagai pencerah dan pendidik umat. Ini salah satu peran yang melekat bahkan merupakan simbul warasatul anbiya’ yang disandang oleh para ulama. Sebagaimana yang telah dilakukan Nabi Muhammad Saw., yaitu membawa umat manusia dari alam kegelapan ke alam yang penuh ilmu pengetahuan. Dalam kaitan dengan ini ulama berperan memberikan pembinaan dan pencerahan dalam rangka mencerdaskan umat yang akan mewarisi kehidupan di dunia ini menuju masa-masa mendatang. Hal itu dapat dilakukan melalui multi media, baik mimbar khutbah, panggung ceramah, balai pengajian, taushiyah, majelis taklim maupun tablig akbar, dan yang terpenting adalah melalui media keteladanan.
  2. Sebagai penjaga kerukunan interen dan antar umat. Dalam Qanun Nomor 2 di atas diisyaratkan bahwa terkait kerukunan interen dan antar umat beragama ulama memberi arahan terhadap perbedaan pendapat pada masyarakat dalam masalah keagamaan. Terkait hal ini, ulama tidak boleh terjebak dalam “kubang” perbedaan itu agar dapat bersikap independen dalam memberikan pencerahan kepada para pihak, jika ulama berada dalam satu kubu yang berbeda maka akan sulit menyelesaikan perkara yang dipersoalkan.

Dalam konteks ini, ulama berperan menanamkan sikap toleransi (tasamuh), saling menghormati, menghargai dan membesarkan terutama mengenai pemahaman fiqih yang berbeda-beda dalam rangka menggali pemahaman dari ayat-ayat al-Quran dan hadits-hadits Rasulullah Saw. Berbeda pemahaman tentu saja akan melahirkan perbedaan pengamalan agama yang berpotensi memicu konflik di tengah-tengah masyarakat. Karena itu para ulama perlu memberikan perhatian ekstra terhadap persoalan-persoalan yang rawan menimbulkan konflik baik interen umat beragama, antar umat beragama dan/atau antara umat beragama dengan pemerintah.

Saat ini prioritas yang mesti dikedepankan dalam pembinaan umat adalah mengikhtiarkan persatuan dan kesatuan. Hal itu tidak datang begitu saja tanpa usaha tapi perlu ada perencanaan, ikhtiar dan bahkan rekayasa.  Karena umat mudah terjebak atau terpancing dengan berbagai isu, hoax dan kecurigaan yang seharusnya bisa dihindarkan jika dimenej dengan baik, sehingga umat tetap bersatu padu tidak pecah dan tercerai berai. Walaupun hal ini bukan tugas dan tanggung jawab para ulama semata akan tetapi peran ulama sangatlah diharapkan. Wallahu A’lam, Semoga……

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.