Suntik Bank Muamalat

Suntik Bank Muamalat

GEMA JUMAT, 28 SEPTEMBER 2018

Bank Pemilik Mayapada Group Tahir menawarkan Rp 5 triliun untuk membeli 100% saham PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. Namun tawaran itu mendapat resistensi dari pemegang saham. Tahir alias Ang Tjoen Ming menawarkan diri menjadi investor strategi saat konsorsium perusahaan investasi Lynx Asia, Arifin Panigoro, dan Ilham Habibie tengah melakukan proses uji tuntas pada penawaran saham terbatas.  Malahan Tahir sudah bertemu OJK dan IDB serta menawarkan Rp 5 triliun dalam berapa skala utama berupa suntikan modal langsung Rp 2 triliun. Kedua,  dalam bentuk surat berharga Rp 2 triliun. Ketiga line credit Rp 1 triliun di pasar uang.
Jika tawaran ini setuju,  maka Tahir akan menjadi pemilik PT Bank Muamalat Internasional Tbk. Dikutip dari koran Bisnis Indonesia, Kamis (27/8), Tahir tidak membantah rencana tersebut namun membantah bila ingin menjadi pemegang saham pengendali.
Saya ingin membantu bukan untuk memiliki,”  ujarnya.
Rencana Tahir untuk mengambil alih Muamalat  itu mendapat resistensi dari pemilik saham mayoritas dan saham minoritas. Sebut saja  Andre Mirza Hartawan pemegang saham 1,66% menyatakan keberatan dengan skema yang ditawarkan Tahir. Karena akan menghilangkan kepemilikan saham exciting.
“Tentunya usulan  Pak Tahir akan sulit kami terima walaupun sekarang Muamalat lagi membutuhkan tambahan modal.  Kalau Pak Tahir misalnya masuk dengan Rp  2 triliun, lalu saham existing dianggap nol atau negatif tentunya ini tidak bisa diterima,” katanya.
Direktur Utama Muamalat yang juga pemilihan saham ritel Zainubahar Noor mengatakan sangat wajar apabila ada tawar-menawar dalam transaksi pembelian saham. Namun calon investor tidak pantas menawar harga sebesar nol.
“Penilaian terhadap Bank Muamalat harus tidak semata-mata dari kondisi operasional dan keuangannya tapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,” katanya.
Zainubahar  berharap calon investor adalah muslim yang mengerti semangat pendirian Bank Muamalat, tidak melupakan peran IDB yang membantu saat krisis,  memiliki komitmen dalam mengembangkan ekonomi syariah serta tidak menimbulkan kewajiban dan dampak negatif bagi bank dan masyarakat umum.
Sebelumnya, Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MPU Didin Hafidhuddin mendorong agar Bank Muamalat bisa mendapatkan suntikan modal terutama dari pemerintah sehingga bisa menyelamatkan nasib pionir perbankan syariah itu.
“Muamalat jangan dibiarkan,” kata Didin (25/4/2018).
Dia mengatakan jika Muamalat sampai kolaps, maka bisa menjadi contoh buruk bagi perbankan syariah di Indonesia. Dengan begitu, citra bank syariah bisa jatuh dan bisa memperlambat pertumbuhan bank jenis nonkonvensional itu.

“Jangan jadi preseden buruk. Maka, perlu aksi kongkrit dari pemerintah untuk pertumbuhan syariah ini,” kata dia.
Salah satu caranya, kata dia, menempatkan dana pembangunan dan BUMN di bank syariah sehingga memicu pertumbuhan bank syariah ke arah positif dan mendorong kepercayaan publik.  Dia menegaskan, sebagian besar umat Islam saat ini, baru 5,7 persen yang menggunakan bank syariah.
Apa pelajaran dari Bank Muamalat yang bisa dipetik oleh umat? Sudah menjadi kewajiban hartawam muslim secara berjamaah untuk  memberi suntikan kepada Bank Muamalat agar bisa beroperasi sehat. Di sisi lain, umat Islam berniaga dengan menggunakan bank syariat yang pertama di Indonesia yakni Bank Muamalat. Akan sangat ironis untuk menyelamatkan bank syariat dimodali/diberi utang oleh non Islam. [Murizal Hamzah]

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.