Mensyukuri Al-Mumitu

Mensyukuri Al-Mumitu

Oleh Dr. Sri Suyanta (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 19 Muharam 1440

Saudaraku, dalam iman Islam kita meyakini bahwa manusia dihidupkan dan dimatikan hanya oleh Allah swt. Oleh karenanya setelah mensyukuri al-Muhyi, Allah yang maha menghidupkan sebagai asmaul husnaNya Allah urutan yang ke-60, maka muhasabah hari ini kita akan mengulangkaji tentang keberkahan mensyukuri al-Mumitu.

Al-Mumitu dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mengambil nyawa kembali kepadaNya, Allah yang mematikan siapapun yang dikehendaki-Nya, baik manusia, jin, hewan maupun tumbuh-tumbuhan. Hidup di dunia ini ada batasnya. Makanya ketika batas itu sudah diliwati, kita menyebutnya yang bersangkutan telah meninggal (kan) dunia atau yang lazim disebut mati. Tapi mesti diingat, bahwa manusia mati untuk hidup lagi di akhirat guna mempertangungjawabkan apapun yang telah diperbuat sebelumnya.

Dalam konteks al-Mumitu, Allah berfirman yang maknanya, Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya? (Qs. Al-Mu’minum 80)

Di tempat lain Allah berfirman yang maknanya, “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan. (Qs. Al-A’raf 25)

Oleh karena itu setiap rasulNya juga mengingatkan umatnya, seperti katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk“. (Qs. Al-A’raf 158)

Dan, Sesungguhnya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan. Dan sekali-kali tidak ada pelindung dan penolong bagimu selain Allah. (Qs. Al-Taubah 116)

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?“ Maka mereka akan menjawab: “Allah“. Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?“ (Qs. Yunus 31)

Dialah yang menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (Qs. Yunus 56)

Dan sesungguhnya benar-benar Kami-lah yang menghidupkan dan mematikan dan Kami (pulalah) yang mewarisi. (Qs. Al-Hijr 23)

Oleh karena itu sudah seharusnya kita sebagai orang beriman berusaha mengembangkan akhlak untuk mensyukuri al-Mumitu baik dengan hati, lisan maupun perbuatan nyata.

Pertama, mensyukuri dengan hati kita lakukan dengan benar-benar meyakini bahwa Allah selain maha menghidupkan segalanya, juga mematikannya. Oleh karenanya, baik hidup maupun mati itu sama baiknya bergantung amalnya.

Kedua, mensyukuri al-Mumitu dengan lisan kita lakukan dengan memujiNya dan memperbanyak mengucapkan alhamdulillahirabbil ‘alamin, semoga Allah memberikan keberkahan saat kita hidup di dunia ini dan saat tibanya kematian suatu saat nanti.

Ketiga, mensyukuri al-Mumitu dengan perbuatan nyata seperti terus berbuat baik, karena suatu saat kita pasti mati, pasti kembali ke haribaan ilahi. Mengingat Allah maha suci, maka yang bisa kembali bertemu atau bahkan bersatu denganNya hanya orang-orang yang menjaga kesucian diri.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.