Mengambil Hikmah Dibalik Musibah

Mengambil Hikmah Dibalik Musibah

GEMA JUMAT, 5 OKTOBER 2018

Wawancara : Drs. H. Miswar Sulaiman (Ketua Umum Pengurus Wilayah Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB-PII) Aceh, Periode 2013-2017)

Sejak Desember 2004 lalu, saat tsunami menerjang kawasan Aceh, kita semakin sering melihat dan menyaksikan berbagai peristiwa besar yang menimpa negeri ini, dan terakhir gempa berkekuatan 7.8 SR mengguncang Palu dan Donggala Sulawesi Tengah.

Peristiwa-peristiwabencana alam juga menimpa hampir semua kawasan di atas bumi ini, tak terkecuali Negara-negara maju teknologi seperti Jepang, Taiwan, Cina, Eropa, Amerika dan sebabagainya. Berbagai bencana alam seperti, gempa bumi, banjir besar, tsunami, berbagai penyakit yang mewabah dan bahkan di berbagai kawasan Amerika malah angin topan dan badai, seakan telah menjadi tontonan biasa.

Yang lebih menyedihkan lagi ialah, semua peristiwa besar tersebut dipandang bagaikan peristiwa yang terjadi begitu saja, tanpa ada kaitannya dengan kehendak Tuhan Maha Pencipat alam ini, yakni Allah SWT dan tanpa ada kaitannya dengan ulah tangan dan perbuatan manusia terhadap Allah Tuhan sebagai sang pencipta. Simak wawancara singkat Tabloid Gema Baiturrahman dengan Drs. Tgk. H. Miswar Sulaiman, Ketua Umum Pengurus Wilayah Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KB-PII) Aceh, Periode 2013-2017.

Apa terminologi bencana alam menurut Islam?

Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal ada penyebutan  bala’, musibah, bencana dan azab. Secara literal, al-bala’ bermakna al-ikhtibar (ujian). Istilah bala’ sendiri digunakan untuk menggambarkan ujian yang baik maupun yang buruk. Menurut Imam ar-Razi, dalam kitab Mukhtâr al-Shihâh,  menyebutkan bala’ itu memiliki tiga bentuk;  kenikmatan,  cobaan atau ujian, dan makruuh yakni sesuatu yang dibenci.

Ada yang bermakna cobaan dan ujian yang dibenci manusia. Ada pula yang berarti kemenangan atau kenikmatan (bala’ hasanan). Sedangkan bala’ dalam konteks ujian yang buruk.  Ada pula bala’ dalam konteks ujian yang baik. Menurut Imam al-Baidhawi dalam Tafsir al-Baidhawi, kata bala’ pada ayat di atas adalah kenikmatan yang diberikan Allah kepada orang-orang beriman, yang berujud, pertolongan Allah, harta rampasan perang, dan  mati syahid.

Sedangkan arti musibah adalah al-baliyyah atau ujian dan semua perkara yang dibenci oleh manusia. Imam Ibnu Mandzur, dalam Lisân al-‘Arab menyatakan, bahwa musibah adalah al-dahr yaitu kemalangan, musibah, dan bencana.  Imam al-Baidhawi sendiri mengartikan, musibah adalah semua kemalangan yang dibenci dan menimpa umat manusia.

Arti kata ‘azab?

‘Adzab adalah al-nakâl wa al-‘uqûbah yang berarti peringatan bagi yang lain, dan siksaan atau  peringatan yang berupa siksaan atau hukuman kepada yang lain. Kata al-‘adzab biasanya digunakan pada konteks hukuman atau siksaan kelak di hari akhir.

Apa penyebab terjadinya bencana?

Ketika terjadi bencana alam, paling tidak ada tiga analisa yang sering diajukan untuk mencari penyebab terjadinya bencana tersebut. Pertama, azab dari Allah SWT karena banyak dosa yang dilakukan. Kedua, sebagai ujian dari Allah SWT. Ketiga, Sunnatullah dalam arti gejala alam atau hukum alam yang biasa terjadi.

Musibah dan bencana yang terjadi menimpa umat ini, ada dua bentuk penyebab. Bisa merupakan hukuman atau penebus dosa. Jika merupakan hukuman, maka itu hukuman atas maksiat. Jika merupakan penebus dosa, maka sebagai penebus dosa terhadap pelaku maksiat. Ini menunjukkan, bahwa maksiat menjadi peyebab musibah-musibah yang menimpa umat. Oleh karena itu, maka orang yang berakal, ia berhenti dari berbuat maksiat. Orang yang berbahagia adalah orang yang mengambil pelajaran. Dia mengambil pelajaran dari musibah yang menimpa orang lain sebelum menimpa dirinya.

Jika bencana dikaitkan dengan dosa-dosa bangsa ini bisa saja benar, sebab kemaksiatan sudah menjadi kebanggaan baik di tingkat pemimpin maupun sebagian rakyatnya, perintah atau ajaran agama banyak yang tidak diindahkan, orang-orang miskin diterlantarkan.

Menurut Anda, apa konsep mitigasi bencana dalam Islam?

Al-Quran menyebutkan, bencana yang terjadi di suatu daerah terjadi akibat ulah manusia, baik disebabkan karena manusia yang melanggar sistem alam yang terdapat di alam semesta, maupun manusia itu sendiri yang melanggar sistem Allah yang berkaitan dengan keimanan dan kemungkaran. Seluruh bentuk pelanggaran tersebutlah menjadi ouput teguran Allah terhadap manusia.

Semakin besar pelanggaran yang dilakukan, maka semakin besar pula bencana yang akan dipetik. Jika kita baca tafsir-tafsir Alquran, sangat banyak peringatan-peringatan yang diberikan kepada manusia sebagai pelajaran agar manusia terhindar dari bencana. Bencana jangan hanya dipahami sebagai gejala alam saja, namun juga sebagai teguran dari Maha Pencipta untuk meningkatkan kesiap-siagaan  manusia. Jadi mitigasi bencana sebenarnya sangat lengkap dalam Al-Quran.

Apa pesan dan hikmah dari sebuah musibah?
Seorang mukmin harus menyakini, bahwa seluruh musibah yang menimpa dirinya berasal dari Allah SWT. Sebab, tidak ada satupun musibah yang terjadi di muka bumi ini, kecuali atas Kehendak dan Ijin Allah SWT. Akan tetapi, seorang mukmin juga wajib mengimani adanya musibah-musibah yang disebabkan karena kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia.

Sayangnya, banyak orang memandang musibah sebagai peristiwa dan fenomena alam biasa, bukan sebagai peringatan dan pelajaran dari Allah SWT. Akibatnya, mereka tetap tidak mau berbenah dan memperbaiki diri. Mereka tetap melakukan kemaksiyatan dan menyia-nyiakan syariat Allah SWT. Mereka lebih percaya kepada kekuatan ilmu dan teknologi bikinan manusia untuk menangkal bencana dan musibah, dari pada kekuatan dan kekuasaan Allah SWT. Adanya musibah tidak justru menjadikan mereka rendah diri dan bersandar kepada Allah, namun justru menyeret mereka untuk semakin ingkar kepada Allah SWT.

 

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.