Menjaga Keutuhan Indonesia

Menjaga Keutuhan Indonesia

GEMA JUMAT, 5 OKTOBER 2018

Setiap warga Negara Indonesia memiliki kewajiban yang sama untuk menjaga kedaulatan bangsa. Oleh karenanya, paham-paham yang memecah kedaulatan mesti direduksi sedini mungkin.

Menurut Ketua Komunitas Bela Indonesia (KBI) Anick HT, menjelaskan paham yang berpotensi memecah belah bangsa adalah paham-paham yang mendorong penggunaan kekerasan dan terorisme dalam mencapai tujuannya. Terorisme harus ditindak, dan potensi terorisme harus dilawan dengan narasi lain yang berorientasi pada prinsip kebangsaan yang majemuk, yang menjamin seluruh elemen masyarakat dapat tumbuh berkembang secara damai.

“Salah satu caranya adalah mengembangkan terus menerus kampanye dan sosialisasi Pancasila dan pilar-pilar bangsa lain sebagai ideologi bangsa dan sumber hukum yang disepakati bersama,” paparnya kepada Gema Baiturrahman beberapa waktu lalu.

Dibutuhkan semangat nasionalisme, pantang menyerah, dan toleransi agar Indonesia tetap utuh. Nasionalisme tidak mungkin ditumbuhkan dengan paksaan. Nasionalisme juga tidak mungkin tumbuh jika negara tidak berorientasi pada keadilan dan persamaan hak seluruh warga negara. Karena itu, sebagai  masyarakat sipil harus melakukan kampanye dua arah. Pertama, mendorong negara melindungi, menjamin, dan memenuhi keadilan dan hak-hak setiap warga negara. Kedua, mendorong masyarakat untuk turut memastikan negara melakukan pekerjaannya, dan segenap masyarakat untuk juga menjaga dan merawat keberagaman Indonesia.

Ia menjelaskan, toleransi tidak bisa ditumbuhkan hanya di ruang-ruang seminar, ruang kelas, dan membaca buku. Toleransi harus ditumbuhkan dalam setiap proses relasi anak bangsa, dalam kehidupan keseharian mereka.

“Toleransi harus dilihat sebagai upaya berjenjang: bukan sekadar mengakui adanya perbedaan, namun juga terlibat dalam upaya menghargai keberbedaan yang ada,” lanjutnya.

Katanya, ada proses ikatan di dalam komunitas yang berbeda. Dua kunci penting untuk menumbuhkan toleransi adalah membuka seluas-luasnya ruang perjumpaan antar komunitas yang berbeda. Mengeliminasi segregasi dan prasangka yang pada akhirnya memproduksi kebencian dan konflik antarkelompok yang berbeda.

Dampak terburuk perpecahan adalah kehidupan bangsa yang akan disibukkan dan dipenuhi dengan konflik dan perpecahan, sehingga tidak ada ruang bagi seluruh elemen bangsa ini untuk membangun kehidupan yang sejahtera dan berkeadaban. Contoh konkret dari dampak buruk ini adalah Suriah dan Yugoslavia. Konflik dan perpecahan telah menghancurkan seluruh sendi kehidupan warganya.

Secara umum, siapapun yang merasa bahwa kedaulatan negara Indonesia adalah pilihan final sebagai sebuah bangsa, tentu bertanggung jawab untuk menjaganya. Tentu pada tingkat detailnya, negara memiliki perangkat dan wewenangnya untuk melakukan tugas-tugas yang lebih terinci soal kedaulatan wilayah, batas negara, dan seterusnya.

Nasionalisme

Direktur International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS) Dr Saiful Mahdi MSc nasionalisme perlu dipupuk sejak usia dini.Bukan dengan aneka teori yang abstrak. Anak-anak perlu teladan dan sikap istikamah dari orang tua, guru, dan lingkungannya. Sejak dini, misalnya, anak-anak harus diberi pemahaman tentang indah dan kuatnya Indonesia karena keberagamannya. Tapi jangan cuma cerita Islam, Pancasila, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai teori dan hafalan. “Tapi cinta tanah air lantas disempitkan oleh contoh sikap guru dan orang tua yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam, yang menjiwai Pancasila itu,” pungkasnya.

Dijelaskan, sentimen SARA belakangan ini makin kuat dan sangat buruk dampaknya pada anak-anak. Karena anak-anak sangat sensitif, sangat peka. Mereka akan bingung saat belajar dari buku tentang indahnya keberagaman  seperti konsep Bhinneka Tuggal Ika tapi kemudian guru dan orang tuanya justru rasis, anti perbedaan, anti keberagaman. “Hati-hati, anak-anak sangat peka akan kebohongan dan kemunafikan. Karena  anak-anak masih fitrah, masih murni dengan nilai-nilai baik,” lanjutnya.

Jika nasionalisme warga Indonesia memudar, maka Indonesia akan melemah dan terus diperlemah. Akan terjadi lomba “merampok negara” lewat KKN, misalnya, oleh makin banyak orang. Karena mereka makin merasa ini bukan negara yang harus dibela lagi. Alih-alih berjihad memperbaikinya, sebagian yang bermental tempe dan tidak kuat iman akan malah menjarah. Seperti sebagian yang suka tidak mengembalikan pinjaman negara karena alasan “Jen keu jen!” Karena negara dianggap jin, dia juga sudah jahat seperti jin, maka dia merasa tak masalah untuk “Jin merampok jin!”

Musuh Negara

Ia menambahkan, korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) adalah musuh terbesar Indonesia. Dalam Islam sendiri diajarkan pentingnya bersyukur. Syukur itu merasa cukup dan bahagia dengan apa yang kita punya dari hasil jerih payah yang halal dan baik.

Tapi memang hedonisme, kesukaan pada materi, pada harta benda, makin kuat. “Kita yang beragama, hidup di Timur, dianggap bagian dari bangsa Timur yang lebih beradab dan berbudaya, sebenarnya justru lebih liberal dan kapitalis dari sebagian besar orang Jepang dan Amerika, misalnya,” ujarnya.

Lanjutnya, kesukaan kita pada materialisme sudah sering membuat kita lupa pada nilai-nilai luhur bangsa dan ajaran agama kita. Menurut Transparancy International, korupsi terbanyak di dunia itu ada di Indonesia. Dan di Indonesia, tingkat korupsi paling tinggi itu termasuk di Aceh.

“Jadi korupsi terbesar di dunia itu ada di Aceh. Kiban cara nyan? Ho ka adat, budaya, agama,” tanyanya.

Sementara itu, kapitalisme yang rakus, liberalisme yang kebablasan, feodalisme yang penuh KKN, nasionalisme dan ghirah agama yang sempit (konservatisme) mengancam Indonesia. Karena itu Islam percaya bahwa  umat yang terbaik itu adalah yang di tengah-tengah (ummatan washathan). Bukan ekstrim kiri, bukan juga ekstrim kanan.

“Jadi sangat mengkhawatirkan selama ini gerakan ekstrim kiri dan ekstrim kanan justru makin menguat. Sementara mereka yang di tengah-tengah diam atau dianggap tak bersikap. Para washathiyyah harus bicara lebih tegas,” sambungnya.

Ia juga menerangkan bahwa ancaman terbesar kedaulatan negara ini bukan berasal dari luar, apalagi dari suku-bangsa di Nusantara, melainkan KKN. “Makanya saya sering bilang nggak usahlah Anda teriak nasionalisme, NKRI harga mati, tapi Anda masih ber-KKN-ria.” Zulfurqan

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.