Mensyukuri al-Ahad

Mensyukuri al-Ahad

Oleh Dr. Sri Suyanta (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 25 Muharam 1440

Saudaraku, asmaul husnaNya Allah yang menjadi tema ulangkaji hari ini adalah al-Ahad. Makna al-Ahad terjalin berkelindan dengan al-Wahid sebagaimana telah dibahas sebelumnya.

Bila al-Wahid lebih cenderung dipahami bahwa Allah adalah zat Yang Maha Pertama, zat Yang Maha Nomor Satu; maka al-Ahad dipahami bahwa Allah adalah yang maha satu-satunya, tidak ada duanya, tidak ada sandingan, bandingan dan tandingannNya.

Secara lugas Allah berfirman, qul huwallahu ahad, Katakanlah Dialah Allah yang Maha Esa.” (Qs. Al-Ikhlas 1)

Di tempat lain, Allah berfirman dalam Al-Quran yang artinya Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: ”Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Allah yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antaranya mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (Qs. Al-Maa’idah 73)

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertaruhkan) Al-masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Allah yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (Qs. Al-Taubat 31)

Dan bagi tiap-tiap umat telah kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Allah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (Qs. Al-Hajj 34)

Oleh karena itu, di sanping mensyukuri al-Wahid, kita harus mengembangkan sikap mensyukuri al-Ahad, baik dengan hati, lisan maupun dengan perbuatan nyata.

Pertama, mensyukuri al-Ahad di hati dengan meyakini bahwa Allah esa tidak ada duanya, oleh karenanya harus diesakan dan tidak disyarikatkan.

Kedua, mensyukuri al-Ahad secara lisan dengan mengucapkan alhamdulillahirabbil ‘alamin dan memuji dengan asmaNya. Kita masih ingat Bilal bin Rabbah betapa al-Ahad menjadi benteng yang tak tergoyahkan dari beragam ancaman, intimidasi dan siksaan orang kafir quraisy atas keislaman dirinya.

Ketiga, mensyukuri al-Ahad dengan perbuatan nyata, di antaranya dengan menfokuskan hidup hanya untuk meraih keridhaan Allah semata. Kita berserah diri dan bertawakal kepada seluruh ketentuan dan kemahabijakanNya.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.