Mensyukuri al-Qaadir

Mensyukuri al-Qaadir

Oleh Dr. Sri Suyanta (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry)

Muhasabah 27 Muharam 1440

Saudaraku, dengan kemurahanNya, Allah mengaruniakan beragam kemampuan kepada manusia, termasuk kita. Di antaranya kita dianugrahi qudrah dan inayahNya sehingga dapat terus bersyukur dan bersyukur atas apapun karuniaNya. Kita juga dianugrahi kemampuan untuk memberdayakan potensi internal, sehingga dengannya kita dapat memaksimalkan peran pengabdian kita kepada Allah dan menjalankan peran kekhalifahan di muka bumi.

Untuk terus mampu memenuhi, menepati dan menempati peran abdullah dan peran khalifah di muka bumiNya Allah ini, maka tema muhasabah kita hari ini adalah mengulangkaji keberkahan mensyukuri al-Qaadir.

Al-Qaadir dipahami bahwa Allah adalah zat yang maha mampu, Allah maha kuasa, Allah maha menentukan dan Allah maha segalaNya atas makhluk ciptaanNya.

Dalam konteks al-Qaadir, Allah berfirman dalam al-Qur’an yang artinya, dan mereka (orang-orang musyrik Mekah) berkata: “Mengapa tidak diurunkan kepadanya (Muhammad) sesuatu mukjizat dari Tuhannya?” Katakanlah:”Sesungguhnya Allah Kuasa menurunkan sesuatu mukjizat, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Qs. Al-An’aam 37)

Di tempat lain, Allah berfirman yang maknanya, dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah Kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka orang-orang zalim itu tidak menghendaki kecuali kekafiran. (Qs. Al-Israa’ 99)

Dan masih banyak lagi landasan normatiff yang menunjukkan bahwa berkuasa atas segala sesuatu. Oleh karenanya, sebagai orang betiman, kita sudah selayaknya untuk mengembangkan sikap mensyukuri al-Qaadir, baik dengan hati, lisan maupun perbuatan nyata.

Pertama, mensyukuri al-Qaadir di hati dengan meyakini bahwa Allah adalah zat yang maha segala-galaNya. Allah maha mampu menentukan apa saja atas makhlukNya, Allah berkuasa atas apapun yang ada.

Kedua, mensyukuri al-Qaadir secara lisan dengan mengucapkan alhamdulillahirabbil ‘alamin dan memuji dengan asmaNya. Dengan memuji al-Qaadir semoga Allah menganugrahi kemampuan kepada kita untuk terus menjalankan peran abdullah dan kekhalifahan di bumi dengan mentaati segala aturanNya.

Ketiga, mensyukuri al-Qaadir dengan perbuatan nyata, di antaranya dengan berusaha melakukan apapun yang terbaik untuk diri, keluarga, bangsa, negara dan agama. Semoga Allah menganugrahi hati untuk terus mampu bersyukur, lisan yang senantiasa bisa terjaga, akal pikiran yang jernih, dan perilaku yang terbimbing oleh qudrah dan inayahNya.

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.