Belajar dari Gempa dan Tsunami Aceh

Belajar dari Gempa dan Tsunami Aceh

GEMA JUMAT, 12 OKTOBER 2018

Musibah gempa dan tsunami Aceh pada 2004 telah berlalu. Sekarang Aceh sudah pulih kembali, bahkan terciptanya perdamaian. Proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh tentunya merupakan pengalaman berharga yang secara umum layak diketahui sebagai pembelajaran untuk masa akan datang.

T Safir Iskandar yang pernah menjadi Anggota Pengawas tidak resmi Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias menjelaskan bahwa gempa dan tsunami Aceh merupakan bencana internasional yang melumpuhkan pemerintahan Aceh, juga berdampak kepada negara lain seperti Thailand.

Safir Iskandar yang kemudian diangkat menjadi Deputi Keagamaan, Sosial dan Budaya BRR mengatakan, karena bencana di Aceh waktu itu sangat dahsyat, negara-negara di dunia diizinkan masuk ke Aceh guna memberi bantuan.

BRR sendiri merupakan badan yang didirikan pada 16 April 2005. BRR beroperasi selama 4 tahun dan berkantor pusat di Banda Aceh, kantor cabang di Nias dan kantor perwakilan di Jakarta. Moto BRR adalah be back better (3B)

“Pengalaman rehab rekon yang bisa dipetik adalah kepercayaan semua komponen yang terlibat membangun Aceh, dan masyarakat ikut berpartisipasi. Semua persoalan dapat diselesaikan ketika bersama,” ujar Safir kepada Gema Baiturrahman.

Ia menjelsakan saat rehab rekon, saat itu seluruh pihak berkoordinasi dengan baik. Negara luar yang ingin memberikan bantuan akan didata jenis bantuannya sehingga sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Penanganan korban tsunami dan pemulihan kondisi tergolong sangat cepat berkat respon aktif Pemerintah Indonesia terhadap keinginan negara-negara luar untuk membantu.

Tantangan masa rehab rekon tergolong banyak. Termasuk dari masyarakat saat relokasi ke lokasi yang baru, rumah shelter tidak cukup menampung pengungsi. Tapi semua itu bisa diselesaikan dengan baik. Sayangnya, ada juga rumah yang sudah selesai dibangun tapi tidak ditempati.

Ia sangat mendukung bila pendidikan kebencanaan dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan. Tujuannya menciptakan generasi yang siap siaga bila bencana terjadi.

Pemulihan Trauma

Hal senada disampaikan Shafwan Bendadeh, staf di Deputi Keagamaan, Sosial dan Budaya BRR.  Ia mengatakan bantuan internasional dan terbilang banyak. Bantuan-bantuan tersebut diarahkan seperti membangun rumah ibadah seperti menasah dan masjid yang sudah rusak. Bahkan bangun baru di setiap daerah yang kena imbas tsunami seperti Aceh Besar, Aceh Barat, dan seterusnya.

Persoalan mendasar adalah trauma masyarakat. Hal ini sangat dirasakan oleh korban selamat yang tinggal di kawasan pesisir.  Pemulihan trauma dilakukan secara berkelanjutan.

Bantuan juga diarahkan untuk penguatan lembaga gampong dan lembaga kepemudaan. Penguatan kelembagaan seperti tuha peut gampong. Menghidupkan kembali perangkat yang sebelum tsunami memudar fungsinya. Penguatan ini dilaksanakan berbarengan dalam masa rehab rekon Aceh.

“Trauma termasuk sulit disembuhkan, bahkan hingga hari ini masih ada yang tidak berani ke laut,” terangnya.

Menurutnya, pendidikan gempa dan tsunami sangat diperlukan agar masyarakat tanggap bencana. Perlu dibudayakan kesiagaan menghadapi bencana. Seperti halnya di Simeuleu, masyarakat sudah tahu akan terjadi melalui tanda-tanda alam. Mereka mengistilahkannya smong.

Simulasi tanggap bencana yang diselengarakan pemerintah selama ini sangat baik dan perlu dilaksanakan secara berkelanjutan. Zulfurqan

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.