Kiat Masjid Ramai Dikunjungi Pelancong

Kiat Masjid Ramai Dikunjungi Pelancong

GEMA JUMAT, 12 OKTOBER 2018

Catatan Basri A. Bakar dari Kota Kinabalu

Lawatan ke Sabah kali ini merupakan yang pertama setelah beberapa negara lain bergilir saya kunjungi setiap tahun dalam kegiatan musyawarah Forum Silaturrahim Kemakmuran Masjid Serantau (Forsimas) bersama 10 utusan dari Aceh. Acara yang dihadiri oleh utusan beberapa perwakilan negara Asean selama 5 hari ditempatkan di Pusat Latihan Islam (PLI) Kundasang Ranau pada ketinggian 4.000 meter dari permukaan laut atau sekitar 2,5 jam perjalanan dari Kota Kinabalu.

Selama di Sabah, saya merasa kagum dengan cara pemerintah Sabah menata negerinya sehingga dapat dijual untuk turis atau pelancong yang berkunjung setiap saat sehingga mendatangkan devisa yang tidak sedikit. Hampir tidak ada  tempat yang tidak dijadikan sebagai objek wisata, baik lahan pertanian,  pantai, gunung, sungai dan gedung-gedung termasuk masjid.

Selain Gunung Kinabalu yang menghasilkan income daerah yang luar biasa, karena setiap hari ada pendaki khusus untuk menaklukkan puncak, beberapa masjid  yang ada di beberapa wilayah dijadikan objek wisata religius. Yang berkunjung tidak hanya turis muslim domestik  bahkan tidak sedikit dari mancanegara terutama Eropa.

Masjid menyedot banyak pelancong yang datang, tidak terkecuali non muslim. Lalu apa yang menjadi daya tarik masjid bagi mereka?  Tentu saja keindahan, kebersihan dan kenyamanan selama mereka berada dalam pekarangan masjid.  Suasana religius seperti yang diberikan Masjid Negeri Sabah, Masjid  Bandaraya, Masjid Kampus University Malaysia Sabah (UMS), masjid Jamik Kundasang dan lain-lain membuat pelancong non muslim dari mancanegara betah berlama-lama meskipun untuk mengambil foto selfie dari berbagai sudut.

Secara umum, hampir semua masjid di Sabah didatangi banyak pelancong.  Mereka senang tatkala pengurus masjid memakaikan kepada mereka jilbab dan pakaian muslimah bagi perempuan serta jubah dan kopiah haji bagi laki-laki. Tak puas-puas mereka mengabadikan dirinya dalam penampilan islami. Belum lagi pemandu turis dan petugas masjid yang menyambut mereka dengan ramah.  Inilah bentuk dakwah yang efektif yang disuguhkan oleh pengelola masjid. Bukan tidak mungkin ada di antara mereka yang mendapat hidayah, lalu memeluk Islam dengan kesadaran sendiri.

Khusus untuk pelancong non muslim, petugas membatasi hingga teras depan sekedar melihat-lihat dan mengambil foto bagian dalam masjid. Pengurus masjid biasanya menyediakan pemandu relawan  untuk memberi penjelasan kepada pelancong dengan bahasa yang mereka pahami.

Masjid Bandaraya Kota Kinabalu misalnya, selain memberikan pelayanan yang baik, masjid juga menyediakan fasilitas seperti ATM Bank Islam, free wifi, mesin penerima sedekah dan infak, kursi refleksi dan mobil ambulan.  Bahkan hampir setiap masjid tersedia kafe/ kantin dan gerai yang menjual souvenir di teras luar. Masjid juga aktif mengadakan bazaar dan pameran.  Dengan demikian masjid-masjid yang ada menjadi magnet penarik jamaah termasuk bagi kalangan muda dan remaja.

Saya melihat, masjid-masjid di Aceh sudah saatnya mencontoh, meskipun tidak seluruhnya.  Selama ini, bangunan masjid kita cukup menarik dan indah, tinggal lagi menata kembali bagaimana masjid yang kita kelola menjadi penarik pengunjung yang diatur sedemikian rupa berdasarkan syar’I, termasuk menyediakan fasilitas yang memadai bagi pengunjung. Bila ini sudah dibenahi, maka Aceh akan menjadi tujuan wisata islami yang patut dibanggakan karena belum ada di tempat lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.