Wanita dan Majelis Ilmu

Wanita dan Majelis Ilmu

GEMA JUMAT, 12 OKTOBER 2018

Oleh Nursalmi, S.Ag

Setiap muslim dan muslimah diwajibkan mencari ilmu agama (Islam). Meski zaman sudah serba digital, kewajiban menuntut ilmu terasa mudah dilakukan. Kita bisa mengakses berbagai situs tentang ilmu-ilmu agama, namun satu hal yang sering kita lupa, bahwa menghadiri majelis ilmu secara langsung, mendengarkan ta’lim dari guru atau ustadz, membaca kitab dan mengkajinya bersama sama di depan ustadz tentunya lebih afdhal dan lebih banyak faedah yang bisa kita ambil. Kita bisa belajar langsung tentang tata cara ibadah, akhlak dan etika, sistem pergaulan dalam Islam, ekonomi Islam, peran dan fungsinya seorang muslimah dalam Islam, pahala berjalan menuju majelis ilmu, doa para malaikat untuk siapa saja yang menghadiri majelis ilmu serta terjalinnya ukhuwah Islamiyah.

Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah satu kaum berkumpul disebuah rumah Allah membaca kitab Allah dan mempelajarinya, melainkan diturunkan kepada mereka ketenangan, mereka diliputi rahmat, dikelilingi Malaikat, dan mereka disebut-sebut Allah dihadapan orang-orang disisi-Nya (para Malaikat).

Wanita sebagai hamba Allah juga mempunyai kewajiban yang sama dengan laki-laki untuk mempelajari ilmu syar’i, tanpa batas waktu, mulai dari ayunan sampai ke liang lahat, sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:

Artinya: “Mencari ilmu itu hukumnya wajib bagi muslimin dan muslimat”. “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat”.

Muslimah harus cerdas, demi masa depan Islam yang cemerlang. Untuk itu, muslimah harus aktif dalam berbagai majlis ilmu. Keikutsertaan muslimah dalam berbagai majelis ilmu untuk mengembalikan perannya sebagai pendidik generasi rabbani dan qurani, generasi yang bertaqwa, yang takut hanya kepada Allah. Bagi mereka, Al-Quran sebagai pegangan, bukan hanya dihafal, tetapi juga diterapkan dalam segala aspek kehidupan, sebagaimana yang diperankan oleh para wanita muslimah dulu.

Wanita muslimah seperti inilah yang sebenarnya menjadi harapan umat zaman sekarang ini, bukan tipe wanita yang hanya menyibukkan diri dengan aktivitas yang tidak berguna. Rihlah ke tempat-tempat wisata bersama jamaah majelis ghibah, atau yang setiap hari duduk berjam-jam di depan televisi, demi menonton gosip dan episode-episode sinetron tahyul yang menyesatkan.

Sungguh demi Allah, umat ini tidak akan bisa bangkit di tangan para wanita yang hanya sibuk dengan berbagai aktivitas yang tak mendatangkan maslahat keagamaan. Namun umat akan bangkit lewat tangan sosok wanita yang membawa agama ini dengan hati sanubari, yang selalu berpikir tentang keadaan umat saat ini, dan berusaha mencari solusi dalam menuntaskan berbagai macam problema yang sedang terjadi.

Sosok pahlawan sekelas Shalahuddin Al-Ayyubi tidak mungkin lahir dari seorang wanita yang hanya gemar menanti sekumpulan episode sinetron, atau seperti Imam Asy-Syafi’i yang mengubah sejarah Islam dengan ilmu dan keteguhan agamanya, jika ibunya tidak menanamkan ruh kemuliaan dalam batinnya sejak kecil, niscaya beliau tidak akan dikenal sebagai seorang imam Asy-Syafi’i.

Oleh karena itu, wajib bagi kaum muslimah untuk terus konsisten belajar dan mempelajari ilmu agama, mencari majelis ilmu yang bisa mencerdaskan dan membangkitkan pikiran yang mustanir (cemerlang).

Lebih dari itu, menghadiri kajian-kajian dan majelis ilmu adalah suatu keutamaan dan kemuliaan bagi seorang wanita. Aisyah r.a  memuji jenis wanita muslimah seperti ini dalam salah satu ucapannya: “Sebaik-baik wanita adalah wanita kaum Anshar, rasa malu mereka tidak lantas menghalangi mereka dari rutinitas mempelajari agama”.

Dari sisi inilah, para wanita sangat dianjurkan untuk menuntut ilmu dan menghadiri majelis-majelis ilmu, tentu, dengan tetap memperhatikan adab-adab islami tatkala keluar rumah.

Mari terus belajar sampai akhir hayat. Hadiri majelis majelis ilmu sebagai bekal masa depan yang cerah. Karena ibu yang cerdas akan melahirkan generasi berkelas. Muslimah yang kuat akan melahirkan generasi yang bertaqwa. Wanita yang berani akan melahirkan mujahid mujahidah pembela agama Allah.

 

comments

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.