Berharap pada Pemimpin Baru

GEMA JUMAT, 14 APRIL 2017

Oleh: Sayed Muhammad Husen

Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh telah menetapkan pasangan Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh. Pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur nomor urut 6 ini berhasil meraup suara terbanyak pilkada 15 Februari 2017.

Rapat pleno penetapan paslon gubernur dan wakil gubernur terpilih digelar di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Jumat (7/4/2017).

Menurut Ketua KIP Aceh Ridwan Hadi seperti dikutip news.detik.com,  penetapan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur terpilih nomor urut 6, Drh Irwandi Yusuf MSc dan Ir Nova Iriansyah, sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh periode 2017-2022 dengan perolehan suara sebanyak 898.710.

Menurut Ridwan, putusan yang dibacakan dalam rapat pleno KIP tersebut serta seluruh dokumen paslon terpilih diteruskan ke Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA). Tujuannya, agar berkas tersebut disampaikan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri. “Serangkaian tahapan telah dilaksana- kan KIP Aceh dan ini tahapan terakhir,” jelas Ridwan.

Dia berharap, kepemimpinan ke depan dapat membawa kemaslahatan bagi masyarakat Aceh, dan menghadirkan kemakmuran bagi seluruh masyarakat. “Itu yang kita harapkan sama-sama,” ujar Ridwan.

Harapan Ridwan Hadi tentu saja juga harapan umumnya warga Aceh. Bahwa lazimnya kepemimpinan baru disertai harapan besar: Aceh akan lebih islami, sejahtera dan berkeadilan. Pemimpin baru kiranya mampu mengimplentasikan visi, misi, progran dan kegiatan yang telah dikampanyekan secara langsung atau tidak dalam berbagai kesempatan proses pilkada yang lalu.

Kita berharap, duet pemimpin baru Aceh Irwandi Yusuf dan  Nova Iriansyah menunjukkan keteladanan kepemimpinan, sehingga bisa menjadi referensi bagi provinsi dan kabupaten/kota lain di Indonesia. Harapan ini tak berlebihan, sebab kepemimpinan  di Aceh didukung oleh iklim, nilai-nilai dan karakter warga yang kondusif  bagi tumbuhnya kepemimpinan yang tangguh, bersih dan berpihak pada kepentingan rakyat banyak.

Masalanya adalah sejauhmana publikasi kinerja pemimpin Aceh dapat dilakukan ke tingkat nasional dan internasional. Itulah yang kita saksikan pada kepemimpinan Gubernur Jabar, Walikota Bandung dan Walikota Suarabaya. Mereka mampu mempublikasikan dengan baik apa yang mereka kerjakan. Kita di Aceh memang tak punya televisi dan media cetak nasional, namun dengan strategi kehumasan yang efektif, maka yakinlah kepemimpinan baru dan pembangunuan Aceh juga dapat menjadi inspirasi nasional dan mendunia.

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!