Bersikap Toleran

GEMA JUMAT, 9 NOVEMBER 2018

oleh:  Sayed Muhammad Husen

Sikap toleran seorang muslim telah dicontohkan Rasulullah Saw.  Dalam banyak kesempatan Rasulullah Saw menunjukkan sikap toleran kepada sahabat dalam berbagai hal. Dalam konteks ibadah, beliau menunjukkan sikap memahami perdedaan antar sahabat pada hal-hal yang tak prinsipil. Bukan dalam hal-hal pokok dan inti ajaran Islam.

Sepeninggal Rasulullah, sekitar 30 tahun setelah Rasulullah Saw wafat, baru kemudian ummat Islam ketika itu merasa kehilangan referensi utama dalam menemukan solusi terhadap perbedaan pendapat tentang masalah-masalah keislaman dan sosial kemasyarakatan.  Perbedaan ini terus melebar hingga malahirkan aliran,  mazhab dan diikuti oleh pengikut masing-masing. Bahkan sebagian perbedaan dibumbui dengan kepentingan, pengaruh dan target-target politik.

Sampai kini, ummat Islam masih saja dihadapkan pada berbagai perbedaan pendapat yang berpunca pada pemahaman aqidah dan ibadah. Secara sunnatullah, perbedaan-perbedaan pandangan, pendapat dan bahkan mazhab itu tentu akan terus terjadi disebabkan perbedaan referensi dalam merespon masalah-masalah baru yang dihadapi ummat Islam.

Karena itu, kita tak dapat membatasi berberbagai perbedaan pendapat, aliran dan bahkan konflik yang terus terjadi di kalangan ummat Islam. Pemerintah Islam tak bisa bersikap otoriter dalam mendukung, tidak mendukung atau  memenangkan satu aliran saja misalnya, sejauh perbedaan itu masih terjadi dalam kerangka prinsip-prinsip dasar ajaran Islam dan mempedomani Al-Quran dan sunnah Rasulullah Saw.

Sikap yang benar adalah, setiap cendikiawan muslim, ilmuan dan ulama, bersikap toleran dalam menyikapi berbagai perbedaan di kalangan ummat Islam. Setiap perbedaan dan bahkan konflik mestilah dipahami sebagai dinamika dan perubahan ummat ke arah yang lebih baik. Perbedaan pemikiran dan pandangan merupakan bagian dari transformasi ummat dalam mencapai kemajuan, kesejahteraan dan kebahagiaan bersama.

Dalam konteks ini, kita berharap banyak pada FKUB (Forum Kerukukan Ummat Beragama) Aceh untuk memfasilitasi dialog secara intens dalam setiap gesekan pemikiran,  tindakan dan kepentingan ummat Islam di Aceh. Misalnya, saatnya FKUB mendialogkan perbedaan-perbedaan dalam bidang fikih dan tasauf, dengan melibatkan ulama, umara dan cendikiawan muslim secara adil dan proporsional. Sudah waktunya Aceh merawat sikap toleran yang telah diwariskan Rasulullah Saw.

 

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!